
Rania berlari dengan sedikit terpincang karena menahan sakit di kakinya yang tanpa alas kaki, sebelah tangannya masih setia menggandeng tangan deon.
"Ran, kakimu sakit? kenapa tidak bilang sedari tadi?! sini biar aku gendong aja" kata deon di sela- sela lari mereka.
"Tenang aja, masih kuat ko" jawab rania tanpa menoleh.
Deon hanya mendengus mendengar jawaban rania, tanpa menunggu persetujuan dari si empunya kaki. Deon langsung menggendong rania, layaknya mengangkat karung beras di bahunya sambil terus berlari.
"Aaaah Kaa.." pekik rania kaget.
"BRISIIK!!"
Deon menoleh ke belakang menatap sahabatnya yang masih berlari dengan menggendong syalfa dan tatapannya beralih menatap lelaki yang bernama mario yang juga ikut berlari.
"Cepetan Bro!! makin deket itu, dedemit" pekik deon yang panik melihat makhluk aneh yang terus mengejar mereka .
"Ka.. ka deon" teriak rania sambil memukul punggung deon .
"Diem ran, kalau kamu terus memberontak. aku akan lempar kamu ke danau itu tuh, biar jadi santapan para demit disini! Mau?!" ancam deon yang mulai geram dengan kelakuan rania.
"Iis kakak ini, bisa ga? gendongnya di ganti posisi jangan kaya bawa karung beras gini? Kepala ku pusing ka! serius dech".
" Tahan dulu bentar, kalau mendadak ganti posisi susah ran, liat tuh di belakang. masih pada ngejar kita".
Rania mencebikan bibirnya kesal, namun rania diam tanpa menimpali lagi perkataan deon. kepalanya menengadah berharap rasa pusingnya berkurang.
DUGH
"Akkkh sakiiit!" pekik rania merasakan kepalanya semakin berdenyut setelah kepentok batang kayu.
"Kakak sengaja ya?! kenapa ga nunduk sii, atau bilang ke ada batang pohon yang kakak lewatin, jadi kepentok nih" grutu rania sambil mengelus kepala belakangnya yang masih berdenyut.
"Ya maaf reflek aja lewat, lupa kalau aku juga lagi gendong kamu.
Mario melirik Nendra yang sepertinya mulai merasakan lelah dengan masih terus berlari menggendong kekasihnya syalfa. " Sebenarnya siapa lelaki ini?apa?! tidak ..tidak, syalfa tidak mungkin menghianatiku. pasti dia hanya teman barunya saja" gumam mario dalam hati.
"Tidak usah" jawab Narendra tegas.
" Kenapa berhenti?''tanya Nendra juga ikut berhenti karena deon yang tiba-tiba berhenti mendadak.
"Kita sudah di kepung! tuuh" tunjuknya ke arah depan.
mereka menatap ke depan dan benar saja, beberapa makhluk yang serupa sudah bergelantungan di pohon . tubuhnya yang hitam kecoklatan dengan bola mata yang lebar, dan lidahnya yang panjang sesekali menjulur.
"Ma..Makhluk apa itu?" tanya Rania sedikit terbata sambil turun dari gendongan deon.
Kreeet..
Krieeetak..
tek..tek..tek.
suara suara makhluk itu terdengar aneh di pendengaran mereka. suaranya bersautan dan semakin kencang membuat mereka reflek memegang telinganya. kecuali mario yang diam menatap ke sekeliling, sepertinya hanya mario yang tidak terpengaruh dengan suara yang itu.
"Aaakh, hentikan! " pekik deon merasa pusing dan telinganya berdenging kuat
Begitu juga dengan Nendra dan rania, nendra menurunkan tubuh syalfa perlahan. takut dia tanpa sadar menjatuhkan tubuh syalfa karena menahan rasa sakit di kepalanya.
TEK
TEK
TEK.
kali ini suaranya terdengar paling nyaring dari yang lain, sedangkan suara suara yang begitu ramai dan saling bersautan tadi perlahan menghilang.
Mario merasa ada sesuatu mendekat dari arah kanannya. reflek mario berbalik menghadap ke kanan, dan benar saja. tiba-tiba dari balik kegelapan muncul lidah panjang yang menjulur menyerang mereka. dengan gesit Mario menghindar dan Nendra yang berada tepat di belakang mario mengambil sebuah pisau lipat dan melawannya.