
Syalfa termenung di dalam kamarnya seorang diri, hatinya merasa bimbang dengan keputusannya beberapa waktu yang lalu, dia sudah menyetujui semua syarat yang Nendra ajukan padanya.
Bukan hanya rasa cinta nya yang masih terpatri pada sosok Mario, dia tidak mempermasalahkan tentang Mario yang hanya sebuah jiwa yang kosong. Tapi Nendra, Setahu Syalfa dia sudah memiliki Tunangan, arti kata tunangan itu bukanlah hubungan yang main-main. mereka sebentar lagi juga menikah, lalu jika Nendra menikah dengannya bagaimana dengan Wanita itu? bagaimana tanggapan kedua orang tua Nendra nanti?
Lagi-lagi Syalfa memijit mijit kecil pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia bukan lah seorang pelakor, tidak ada dalam kamus hidupnya dia akan menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah memiliki Seorang Wanita di dalam hidupnya.
Gila, benar- benar gila!.
"Hah, Semua ini membuatku pusing" keluhnya.
Syalfa kembali mengingat saat dirinya meminta pernikahannya dengan Nendra akan di lakukan secara sederhana saja, tanpa mengundang siapapun. awalnya Nendra menolak, tapi Syalfa memberikan alasan dengan statusnya yang masih bertunangan dengan orang lain. hal itu membuat Nendra yang awalnya ingin mengadakan pesta megah jadi mengurungkan niatnya, dia memilih mengalah dan berjanji akan mengurus tentang pertunangannya dengan Manda.
"Kalian akan menikah tiga hari lagi" kata Ki wicak dengan gamblangnya. Syalfa awalnya ingin protes, tapi Nendra segera menyetujuinya sebelum Syalfa membuka suaranya.
Teringat pernikahannya yang akan di langsung kan tiga hari lagi membuat Syalfa semakin uring-uringan.
"Sudah lah jangan segalau itu, terima aja"
Suara yang sangat familiar itu terdengar dari sudut ruangan yang gelap di kamar Syalfa. namun ia tahu siapa yang sedang berada di ujung sana.
"Sedang apa kamu disitu?" Tanya Syalfa.
"Aku hanya ingin melihatmu" jawabnya kemudian mendekat ke arah Syalfa.
"Kau tidak menemani suamimu? pasti dia sama sepertiku saat ini" tanyanya sambil melihat Karina yang duduk di sebuah sofa di kamarnya.
"Iya, Awalnya dia sangat kacau sepertimu. Tapi aku berhasil memberinya pengertian, sekarang dia sedang tidur aku tidak ingin mengusik tidurnya. bagaimana denganmu? apa kau sudah mengikhlaskan Mario jika nanti dia menghilang?".
"Belum, tapi aku akan berusaha. setidaknya biar perasaan ini masih seperti ini sampai tiga hari kedepan. aku tidak menyangka semua ini terjadi padaku, tapi aku sedikit senang. setidaknya sebelum dia pergi aku bisa merasakan dekapan dan sentuhannya lagi. walaupun melalui tubuh lelaki lain" Syalfa merasa sesak didadanya" Anggaplah itu hadiah sebelum dia pergi untuk selamanya".
"Hemm, aku tahu bagaimana perasaanmu, karena bukan hanya kamu Yang mengalami kisah cinta yang pahit dan rumit aku dan suamiku juga merasakannya. begitu juga Rania" Karina menatap keluar jendela dengan pandangan yang kosong."
Hantu centil itu sekarang dalam mode yang kalem, mungkin terbawa suasana.
BRUAK
Suara gebrakan dari arah luar kamar sontak Membuat Syalfa dan Karina mendadak waspada.
''Ayo kita lihat" Karina melayang dan menghilang dari balik pintu. Di ikuti Syalfa yang langsung membuka pintu kamarnya dengan terburu- buru . pandangan keduanya mengedar ke setiap penjuru.
Sepi? Tidak ada apa pun yang terasa ganjil.
Syalfa dan Karina berpencar Ke setiap sudut- sudut ruang tamu memastikan tidak ada sesuatu yang aneh disana. mereka cukup penasaran dengan suara yang cukup keras yang di dengar keduanya. Apa mungkin itu suara pintu atau jendela yang tertutup karena angin? Syalfa memastikan semua pintu yang ternyata terkunci.
"Semua pintu ini terkunci, lalu suara apa tadi" Gumam Syalfa yang masih penasaran.
Karina mendekati Syalfa " Bagaimana?" tanya nya.
"Terkunci" jawabnya singkat
"Sama, semua jendela juga terkuci" .
"Emm, aku mencium bau bunga tapi dari mana?" Syalfa berjalan mengikuti Aroma bunga yang tak terlalu kuat .
Keduanya mengikuti sumber Aroma yang semakin lama aromanya semakin pekat.hingga langkah keduanya terhenti di sebuah pintu yang tertutup rapat.
" ini kan kamar Rania? kenapa Aromanya kuat sekali?".
"Kau tunggu disini, biar aku yang masuk". Tanpa menunggu jawaban Syalfa, Karina menembus dinding kamar Rania.
Mata Karina melotot tak percaya melihat apa yanga ada di sana. Karina mencoba tak berteriak, dia kembali keluar menembus dinding.
" Kenapa kamu kembali? cepat sekali" Syalfa di buat bingung dengan Raut wajah Karina yang masih terbengong.
"Eeech iya, Kamu lihat saja sendiri . Ayo!" Karina menarik lengan Syalfa.
"Ist, kau lupa ya aku manusia , mana bisa menembus dinding " Dengus Syalfa menepis tangan Karina.
"Hai a..Aku lupa, ya sudah buka pintunya sana. pelan-pelan saja ya, kalau bisa jangan sampai menimbulkan suara" ucap Karina .
"Hemm" Syalfa hanya bergumam menjawabnya.