My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Perjalanan



Sudah bertahun-tahun semenjak kelahiran anak-anak mereka, tidak ada penyerangan yang terjadi .


Hanya ada Gangguan dari sosok-sosok lain, seperti Roh yang meminta tolong ataupun roh yang memiliki dendam tertentu hingga membuat mereka mau tidak mau harus membantu orang-orang yang terkait itu sudah hal biasa.


Nendra,Syalfa ,Rania ,Deon dan teman-teman yang lain. merasakan kebahagiaan dengan hidup damai tanpa teror dengan anak-anak mereka. bahkan Rania dan Deon kini tengah memiliki satu orang anak lelaki dari pernikahan mereka.


Tiga bayi manusia Anak dari Rania dan Arav juga sudah berusia 10 tahun sama seperti usia Sava saat ini.


satu anak laki-laki yang di berinama Liam Matthew dan dua anak perempuan bernama Alen Anandita dan Alin Anantari. mereka anak-anak yang tak kalah hebat dengan Sava dan Kris. ketiganya bagai perisai untuk anak-anak Syalfa , termasuk Sava yang teramat istimewa karena memiliki kemampuan tinggi.


Di ruang tengah Sava sibuk menikmati cemilannya dengan di dampingi Beril yang tengah menonton televisi, sedangkan Kris memilih untuk bermain game di hp milik papinya.


"Apa kalian besok jadi ke luar kota?" tanya Opa Bian.


"Iya Dad, Karin kemarin malam mendatangi kami untuk segera ke sana" jawab Nendra.


"Apa tidak ada cara lain? aku takut terjadi sesuatu, apa lagi cucu-cucuku masih kecil" kata Oma Sonya yang tak rela melepas kepergian mereka, pandangannya menatap kedua cucunya dengan sendu.


"Ini sudah jalan takdir kami Mom, jika bukan kami maka kalian semua yang kena imbasnya. karena mereka kini sudah berani masuk ke dunia manusia" jelas Syalfa.


"Apa kami bisa ikut? usia kami sudah tua, tidak masalah jika kami mati, toh hidup tanpa anak dan cucu juga tak berarti" ucap Oma Sonya.


"Jangan bicara seperti itu Mom. Kalian disini saja, Kami sudah cukup banyak bala bantuan yang akan membantu kami disana. banyak orang-orang berpengalaman yang akan pergi juga nanti. kalau kalian ikut, aku yang tidak rela jika kalian meregang nyawa dengan kondisi yang mengenaskan, jika pun kalian mati. aku ingin kalian mati dengan bahagia dan layak" kata Nendra yang juga di angguki Syalfa.


"Baik kami akan menunggu kalian kembali, hubungi kami jika ingin meminta bantuan" kata Opa Bian menepuk bahu kokoh putranya.


"Tentu Dad".


***


waktu bergulir dengan cepat, hingga pagi tiba. waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi.


Nendra dan Syalfa tengah sibuk membereskan beberapa barangnya untuk di bawa ke luar kota nanti.sebelumnya Syalfa telah mengirimkan sebuah pesan ke pada sahabat mereka.Dan semua telah sepakat untuk bertemu di sebuah Hotel yang letaknya tidak jauh dari Hutan.


Hutan?


Ya, tujuan mereka adalah Hutan yang berada di bagian Barat hutan terlarang.


ini lah saat-saat akhir, antara hidup dan mati. Dan semua hidup orang-orang berada di tangan anak kecil yang baru berusia 10 tahun itu.


"Beril, kamu bawa itu bola kuningmu. siapa tahu bermanfaat nanti" ucap Sava di sela- sela aktivitasnya yang tengah memasukan beberapa cemilan, minuman, dan permen lolipop kesukaannya.


"Iya, aku tahu" jawab Beril yang sudah memasukan bola kuning itu ke dalam gelombang telapak tangannya.


Setiap akan menyimpan sesuatu tangan Beril akan mengeluarkan gelombang, seperti angin yang berputar-putar di atas telapak tangannya. lalu benda itu akan otomatis tersedot ke dalamnya.


"Kalian siap?" tanya Nendra saat sudah melihat kedua anaknya berjalan dari menuruni anak tangga dengan tas di punggung mereka.


"Sudah Pih" jawab Sava dan Kris kompak.


"Ayo, kita berangkat" ajaknya yang langsung menarik 2 koper ke arah garasi Mobil.


Nendra segera meletakan barang-barang mereka di bagasi, sedangkan anak-anak langsung duduk di kursi belakang.


Syalfa tentu menemani suaminya dengan duduk di samping kursi kemudi. Mereka memutuskan untuk menyetir sendiri tanpa meminta supir untuk mengantarnya.


"Yes, Jalan" teriak Sava bersemangat.


Anak itu sudah tau apa yang akan terjadi nanti, tapi dia memilih untuk menikmati sisa waktu yang ada. menikmati masa-masa bersama keluarga dan masa kecilnya.


Sava sebenarnya di usianya yang menginjak 10 tahun. pola fikirnya justru sudah seperti orang dewasa, sangat peka dengan keadaan.hanya saja saat ini, ia memilih untuk mengikuti alur dan mencoba menikmati sisa waktu saja.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan mewah rumah mereka, Opa dan Oma tadi malam langsung pulang, katanya ada saudara jauh yang ingin bertemu. jadi mereka tidak bisa mengucapkan selamat tinggal pagi ini.


"Suara deringan ponsel milik Syalfa mengalihkan perhatian semua orang, hingga ikut menoleh ke Maminya yang masih cantik di usianya yang sudah memiliki dua anak itu.


"Hallo Ran, dimana?" tanya Syalfa langsung ke inti pembicaraan saat tahu bahwa yang menghubunginya adalah Rania.


"Kami sudah mau sampai, Kalian bagaimana?"


"Masih dalam perjalanan, kamu cari makan saja dulu . tidak usah menunggu kami"


"Baiklah, hati-hati".