
"Cairan apa ini?" Pekik Rania kaget saat merasakan cairan yang merembes di bawah sana.tangannya terulur untuk meraba cairan apa itu. ada darah bercampur lendir di tangannya.
"Sepertinya sudah waktunya" kata Milen yang menembus tubuh Syalfa di hadapannya.
Milen mendekat tepat di bawah kaki Rania."Nona tekuk kedua lututmu" perintahnya.
Rania menurut, kali ini dia tidak bisa membantah apapun lagi.sakit di perutnya sungguh membuat tenaganya terkuras.
"Minum dulu biar ada tenaga Mom" kata Deon yang mulai mengganti nama panggilan mereka.
Rania meminum air dari gelas yang Deon sungguhkan, Rania kembali meringis saat sakit itu datang lagi.
kali ini tangannya mencengkram kuat tangan Deon, Deon hanya membiarkan saja tangannya di remat sesuka hati oleh sang istri. dia sendiri merasa tidak tega melihat Rania yang menahan sakit seperti ini.
"Ayo nona, dorong ini sudah waktunya" Milen mulai mengeluarkan kekuatannya saat Rania mulai mengejan.
"Aaaa**mmm huh h u h"
Nafas Rania narik turun merasakan sakit yang teramat ,bulir keringat mulai membasahi wajahnya. Deon mengusap keringat Rania dengan tisu yang ada di dekat nya. terkadang Deon membisikan kata-kata penyemangat untuknya.
"Sedikit lagi nona, bayi Pertamamu akan lahir. aku akan membantumu lagi"
Rania mengangguk dan mulai kembali mengejan dengan kuat.
"Aaaaaaaaaaaaa gg hu hu hmmm"
"Ayo, kamu pasti bisa Ran" Syalfa juga terus memberikan sahabatnya dukungan.
Oee
Oee
Terdengar suara bayi yang menggema di seluruh kamar itu, namun Rania kembali merasakan ada sesuatu yang menyusul hendak keluar juga.
"eee gg h aaaaaa "
Pekik Rania yang kembali mengejan , Dan kemudian keluar bayi ular berwarna hitam.
Sontak semua orang yang awalnya tersenyum bahagia mendengar suara tangisan bayi menjadi terkejut.
"Ular" pekik Deon.
Rania hanya bisa memejam kan kedua matanya sebentar.
"Syalfa, tolong kamu gendong bayiku terlebih dulu".
"Bayi? yang mana?" tanya Syalfa yang bingung maksud Rania. pasalnya ada dua yang lahir, bayi manusia dan Ular hitam .
"Bayi pertamaku" jawab Rania lemah.
Namun kemudian Nendra segera mengambil alih bayi itu dari gendongan Syalfa, Nendra tak tega melihat istrinya yang juga sedang hamil besar.
"Biar aku saja yang gendong"
Syalfa mengiyakan saja permintaan Nendra, kemudian Syalfa kembali duduk di samping Rania.
Rania menghembuskan nafasnya guna menetralkan kembali nafasnya yang sempat memburu, kemudian ia merasakan kontraksi lagi, dan kali ini cukup kuat. sontak tangannya meremat genggaman tangan Deon yang masih menggenggam tangannya.
"Kamu bisa Mom" Deon mengecup telapak tangan istrinya dengan lembut.
"Lagi nona, lakukan seperti sebelumnya" Milen memberi arahan dan kemudian kembali mengeluarkan kekuatannya ke arah perut Rania.
" E gggg Aaaaaaaaaaaaa gg hu hu hmmm"
Dengan sekali mengejan bayi ke tiga lahir, Rania beruntung walau kontraksinya lebih kuat tetapi bayi ini lebih mudah untuk keluar.
Oeee
Oee
Oee
terdengar suara tangisan bayi kembali, Semua orang kembali tersenyum . Rania cepat-cepat menghirup udara saat ia kembali merasakan kontraksi susulan.
namun suara benda jatuh dari luar sana membuat semua orang saling berpandangan. mereka beranjak mengambil sesuatu dari balik laci yang berada disana.
Syalfa juga perlahan beranjak, kali ini dia tidak mau gegabah dalam bertindak dan itu hanya akan membahayakan calon anak nya nanti.
setelah mereka mengambil senjata dari dalam laci, Nendra segera meraih tangan istrinya bersiap menghadapi kemungkinan buruk yang akan terjadi. Nendra akan menjadi tameng untuk istri dan anaknya.
Papa Dion juga menggenggam tangan Mamah Anggi dengan tangan yang lain menggenggam benda tajam siap menyerang.
Deon, lelaki itu tetap memberi semangat dan ketenangan bagi Rania yang masih dalam persalinan. tinggal beberapa anak lagi yang harus ia keluarkan setelah sebelumnya kembali melahirkan anak ke empat dan kelima.
"Tenang Mom, ada Daddy yang akan melindungi kalian" bisiknya lembut.
Rania hanya tersenyum lemah, sambil mengumpulkan kembali tenaganya.
Syalfa menatap ke sekeliling ruangan dengan sangat jeli, masih aman dan tidak ada sesuatu yang aneh.
Syalfa langsung menoleh ke ujung ruangan saat merasakan ada sesuatu di sana. tak lama kemudian tembok bercat putih itu mengeluarkan cairan berwarna merah darah . awalnya hanya mengalir perlahan, namun lama-lama alirannya menjadi deras dan semakin deras.
bahkan aliran darah itu perlahan mengalir ke arah mereka, tapi yang bisa melihatnya hanya Syalfa saja. semua orang hanya bisa melihat Syalfa dan memperhatikan gerak geriknya.
Syalfa terlihat sangat waspada bahkan langkah wanita hamil itu mulai mundur perlahan. sontak Nendra juga ikut mundur mengikuti langkah sang istri.