My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Kedatangan Tamu



Mereka kembali berkumpul membahas apa yang sudah terjadi seharian ini.


"Rania, bagaimana kuliahmu?" tanya Syalfa yang belum sempat bertanya, tentang kenapa Rania yang di panggil ke kantor tadi.


"Aku di keluarkan dari kampus" jawab Rania enteng sambil meraih kripik yang tadi di letakannya di nakas.


"APA!" kaget teman-temannya tentu kecuali Deon yang sudah tahu.


"Kenapa kamu malah terlihat santai begitu" Syalfa merasa heran dengan sikap Rania yang tidak terlihat sedih malah terkesan biasa saja.


"Aku sudah sedih tadi di kampus, sudah sempet nangis juga" jawab Rania di sela- sela mengunyahnya" Tapi ya mau bagaimana lagi, kan udah resiko. mau di sesali juga ga mungkin, aku sudah mau jadi ibu, masa iya galau mulu. kasian anaku nanti. walaupun aku tidak kuliah dan jadi sarjana, aku masih bisa bekerja bukan? sudah sudah jangan di bahas masalah kuliah lagi" crocos Rania sambil terus memakan kripik di tangannya.


Syalfa dan yang lainnya menghela nafasnya mendengar jawaban sahabanya itu , yang mood nya lagi berubah ubah karena kehamilannya.


Desiran angin dan awan yang mulai gelap menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Rania dan Syalfa bergegas beranjak menutup bagian Jendela yang terbuka.


keduanya kembali duduk setelah di ingatnya semua aman, seandainya hujan segera turun.


"Hai"


Sapaan seseorang membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Kau"


"Mau ngapain kemari" Rania melipatkan kedua tangannya di dada menatap malas sosok centil yang tiba-tiba muncul. dan duduk di antara Nendra dan Deon.


Rania mendengus melihat kelakuan Karina, sahabat hantu mereka.


Syalfa tersenyum geli melihat kelakuan genit sahabatnya yang sekali muncul malah memilih duduk di antar sahabat gantengnya.


"Ist, bukannya di sambut dengan pelukan, atau cium pipi kanan, pipi kiri malah di sewotin. bilang aja kamu ngiri sama aku kan? aku bisa duduk bareng cogan seperti ini" Karina menggandeng lengan Nendra dan Deon.


"Lagian nih ya, kamu itu udah tua ga boleh kecentilan. apa lagi nanti kalau Om andika tahu bagaimana? " Rania mulai memperingati Karin.


Karin melepaskan kedua gandengannya di lengan dua cogan dan menepuk pelan keningnya.


"Ach iya aku melupakan suami gantengku ketinggalan di bawah, sebentar ya aku nyusul dulu. takut ada Hantu genit kecentilan sama suamiku, bisa gawat" Karina buru- buru berdiri " Ran makasih udah diingetin, aku sempet khilaf tadi kalau udah ketemu cogan emang suka lupa" cengirnya. Eh aku cuman mau kasih tau, minta tolong buka pintunya ya, suami aku udah di bawah. aku kesini mau kasih tau kamu, buat bukain pintu. karena sedari tadi suamiku mencet Bel tapi belum di bukain juga. bye" Karina menghilang setelah selesai menyampaikan maksud nya.


"eeh, apa katanya tadi? Om andika udah di bawah?" tanya Rania kepada teman-temannya.


" Iya iya, udah di bawah . yuk buruan bukan pintunya" Syalfa gemes melihat Rania yang mulai oon nya kumat.


Syalfa lebih dulu berjalan keluar dan mulai menuruni tangga.Yang lain juga mengikuti Syalfa dari belakang.


"Ayo, ngapain masih disitu?" Galen juga gemes sendiri dengan kelakuan Rania yang udah berubah lagi sikapnya . padahal sebelumnya Rania terlihat mengagumkan di matanya, saat menangani ular yang katanya bagian dari Arav.


" iya, ini juga mau jalan ko" Rania mengikuti langkah Galen . mereka menuruni anak tangga terlihat di bawah sana Syalfa sudah membuka kan pintunya.


"Waah, kalian datang kemari mau melamar?" Syalfa Menyambut tamu nya sekaligus bertanya, karena heran Om Andika datang Rame-rame.


Om Andika hanya tertawa mendengar pertanyaan Syalfa yang terkesan menyindir.


Mereka semua masuk , Syalfa menutup kembali pintu dan tak lupa juga menguncinya.


"Kamu bilang tadi Rame? mana yang lain. orang cuman Om Andika sama si centil doang" Sloroh Rania yang hanya melihat sepasang beda alam itu.


"Kalau ga tau apa-apa mending diam aja dech maimunah" Karina ikut sewot , tapi tangannya masih setia menggelayut manja di lengan sang Suami.


"Ayo ke atas, duduk disana lebih nyaman" Ajak Ike yang lagaknya seperti tuan rumah.


Mereka mulai berjalan kembali menaiki tangga, hingga sampai di ruang tamu khusus di lantai dua. mereka kembali mencari tempat duduk masing- masing.