My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Menjelang melahirkan( Rania)



Waktu berlalu begitu cepat hingga 10 bulan telah berlalu, suka duka telah mereka lewati bersama.


Bersyukur nyawa mereka masih di kandung badan. Papa Deon dan Mama Anggi sudah semakin kuat . mungkin karena situasi yang memaksanya untuk kuat di usianya yang semakin lanjut.


Namun demi cucu , mantu dan anak mereka. mereka berusaha untuk ikut berjuang. Walau sudah tahu yang di kandung Menantunya bukanlah anak Deon putranya. tapi mereka tetap menerimanya dengan tangan terbuka. terlebih saat melihat Deon yang sangat melindungi Rania.


Kandungan Rania sudah memasuki masa persalinan, wanita hamil pada umumnya akan mengandung selama 9 bulan. tapi Tidak dengan Rania, ini sudah memasuki bulan ke sepuluh tapi Rania masih belum juga melahirkan.


Mereka sendiri merasa bingung, sudah tidak bisa di bayangkan lagi seberapa besar perut Rania itu. walau mereka tak tega melihat Rania yang sulit untuk melakukan apapun, tapi beruntung Deon selalu melayani Rania dengan sabar, Dan menyuruhnya untuk terus berbaring. mereka semua selalu bekerja sama dan saling membantu satu sama lain.


Seperti setiap pagi Mama Anggi akan memasak sarapan untuk mereka semua di bantu oleh Papa Doni. Sedangkan di dalam kamar yang berbeda, Deon akan mengelap Tubuh Rania , memakaikannya baju, menyisir rambut istrinya dan mendadaninya, begitu juga dengan Nendra. Nendra akan membantu Syalfa untuk menyiapkannya air untuk Mandi dan menunggu istrinya itu di luar pintu toilet sampai istrinya selesai mandi. usia kandungan Syalfa sudah 7 bulan, tapi Syalfa masih bisa melakukan apapun sendiri . hanya saja Nendra sangat protektif pada istrinya itu, tidak membiarkan istrinya melakukan apapun sendiri, bahkan Dia selalu menunggu istrinya jika berada di dalam toilet.


Setelah Nendra mau pun Deon selesai dengan para istri mereka , baru mereka akan Sarapan di dalam kamar. lebih tepatnya di kamar Deon. kamar itu sudah di sulap menjadi kamar yang multifungsi.


Mereka akan kembali ke kamar masing-masing hanya untuk berganti pakaian dan mandi, setelahnya mereka akan kembali ke kamar Deon.


Beruntung Kamar itu sangat lah luas, bahkan sangat muat jika harus di isi dengan 3 kasur berukuran besar , ruang Tv dan meja makan.


Seperti pagi ini Papa Doni, mama Anggi ,Syalfa dan Nendra duduk di meja makan menikmati sarapan ala kadarnya dengan hikmat. Deon dan Rania makan berdua di atas tempat tidur. Deon menyuapi Rania lebih dulu, lalu baru memasukan makanan itu ke mulut nya, terus seperti itu hingga makanannya habis.


"ini sudah bulan ke sepuluh, Rania apa kamu belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan?" tanya Syalfa.


Mereka telah selesai sarapan dan sedang duduk santai lesehan di atas kasur lantai.


"Aku sudah merasakannya Syalfa, dari tadi malam" jawab Rania seraya mengelus perutnya yang besar.


"APA!"


pekik mereka semua kaget,"Kenapa baru bilang sayang" pekik mamah Anggi yang mulai panik.


"Tenang lah Mah, kita hanya perlu siapkan semua nya sekarang" kata Deon yang lebih terlihat tenang.


Mereka diam memikirkan cara untuk membantu Rania bersalin, Rania memang terlihat biasa, hanya wajahnya yang terkadang meringis saat sakit itu mulai datang kembali.


***


Puluhan Makhluk pemangsa di dataran tinggi yang di kelilingi sebuah hutan belantara. tengah terjadi peperangan.


Antara pasukan Ki Wicak dengan pasukan Dunia lain yang berusaha menembus hutan terlarang, hutan terlarang adalah pintu keluar masuk dari dunia mereka dengan dunia manusia.


Sudah cukup ki Wicak kecolongan akhir-akhir ini, ia tidak ingin mereka terus di bodohi.


Pasukan Ki Wicak tengah mati-mati an menahan mereka dengan menutup semua akses pintu Keluar, sebenarnya kekuatan mereka sudah terkuras habis di setiap pertempuran ini. ini sudah malam ke tiga mereka bertahan, rasanya memang sudah tidak sanggul lagi. apa lagi, kekuatan mereka semakin kesini semakin kuat, namun mereka tetap bertahan terlebih Malam ini. keturunan dari pangeran ular akan hadir, mereka yakin. anak-anak itu bisa menjadi perisai untuk sang pemimpin yang nantinya bisa melindungi mereka.


Sebuah Angin besar dan goncangan cukup Dasyat tiba- tiba datang di tengah-tengah pertarungan. membuat mereka terpaksa menghentikan pertumpahan darah itu.


di langit yang gelap terlihat sebuah petir yang menyambar -nyambar seolah memberikan sebuah pertanda.


"Munduuuuur"


Pemimpin dari dunia lain mengangkat tangannya yang panjang ke udara. sebagai tanda, mereka untuk menghentikan apapun. perlahan mereka mulai berjalan mundur saat sebuah petir dari kejauhan mulai mendekat ke arah mereka.


"Pergiii"


Ki wicak juga menyuruh pasukannya yang di pimpin Hena untuk mundur dan kembali ke Goa. mereka langsung mengeluarkan kekuatannya untuk segera menghilang dari sana.


Petir yang menyambar itu tengah menghanguskan beberapa pohon yang memang sudah tua di sana. membuat pohon itu mengeluarkan asap dan terbakar. bahkan bukan hanya di satu titik saja, tapi sampai 10 titik terbakar.


Sungguh alam seakan sedang menunjukan Kekuatan yang akan segera hadir.