My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Tidak beres



Tot tok tok


"Masuk"


Terdengar suara sahutan dari dalam, Rania segera membuka pintu dengan perlahan.


"Selamat Siang Pak, apa bapak memanggil saya?" tanya Rania sopan.


"Iya Nona Rania, silahkan duduk".


Rania menganggukan kepalanya, seraya menarik kursi tepat di seberang Pak Rektor.


Dilihatnya pak Rektor yang mulai menatap Rania dengan serius, Tangannya perlahan melepas kaca mata yang sedari tadi bertengger di kedua mata, di hirupnya nafas dalam -dalam dan menghembuskannya perlahan, Rania yakin ini pasti tentang rumor yang beredar tentangnya.


"Anda pasti tahu bukan, alasan kenapa anda do di panggil kemari? Nona Rania, anda di keluarkan dari kampus ini" Kata- kata itu sukses membuat Rania terkejut.


Sebelumnya memang susah memikirkan hal terburuk kemungkinan seperti ini akan terjadi. tapi mendengarnya secara langsung seperti ini tetap saja membuatnya terkejut.


"Saya mengerti Pak, tapi apa tidak ada keringanan? setidaknya jangan sampai saya di keluarkan dari kampus ini pak?" .


"Anda memang Mahasiswi yang cerdas nona Rania, tapi peraturan tetaplah peraturan. Kami tidak bisa mentolerir lagi, Mohon Maaf".


Rania mengangguk pasrah," Kalau begitu saya pamit pak, Permisi."


***


Hari ini sebenarnya Deon berencana untuk membolos karena sudah berjanji kepada sang pujaan hati Gesy kalau dirinya akan menemani gadis itu untuk menghadiri sebuah acara dan di acara tersebut, papanya juga akan datang. kebetulan beliau baru saja kembali dari luar kota dan langsung menuju ke tempat acara. Deon ingat, bahwa dia harus membantu sahabatnya Rania. dia bisa membantu sahabatnya itu melalui sang papa, karena papanya adalah orang penting di kampus.


Dan disinilah Deon sekarang, setelah semua urusannya usai . dia bergegas kembali ke kampus.


Kedua lelaki berbeda usia itu tengah duduk berhadapan, lelaki yang sudah tak muda di depan Deon berulang kali menghela nafas. mungkin karena dirinya harus berhadapan dengan seseorang yang keluarganya cukup berpengaruh .


"Maaf kan saya Tuan muda, jika saya mengabulkan permintaan tuan muda, itu akan membuat semua mahasiswa di sini berfikir bahwa peraturan di kampus ini hanya main-main.Dan kemungkinan mereka juga pasti akan ada yang meniru nona Rania bahkan berbuat lebih, karena berfikir tidak akan mendapat sangsi ataupun hukuman dari kampus.


"Kami juga memikirkan nama baik Kampus yang sudah tercemar, semakin jelek nama baiknya di mata orang tua yang mempercayakan anak-anak mereka untuk mengeyam pendidikan disini. Mohon Tuan muda mengerti dengan keputusan kami".


"Baiklah aku mengerti, kalau begitu aku permisi " Deon berjalan keluar dari kantor ,setelah bertemu dengan Rektor mereka.


Sebelumnya Deon sudah berusaha membicarakan hal ini pada papanya , tapi papanya tidak bisa membantu apapun, ia hanya memberi saran untuk berbicara dengan pihak kampus semoga mendapatkan keringanan agar Rania tidak sampai di keluarkan dari kampus. karena Deon juga sudah berjanji dengan Sahabat-sahabatnya untuk membantu, jadi dia datang ke Rektor . namun ternyata usahanya gagal.


Dreedet


Drtttt


Terdengar suara dering ponsel dari dalam saku celana Deon.


"Hallo"


"Iya, Tunggu aku! beri aku waktu 20 menit!"


Tut tut tut


Sambungan telfon terputus, Deon bergegas berjalan meninggalkan Kampus. tadi Gesy menelfonnya untuk menemuinya di sebuah kafe Favorite mereka.


Kebetulan teman-teman mereka sedang berkumpul, tentunya bukan Galen ataupun Nendra. ini teman yang lain. lebih tepatnya teman Gadis itu . tapi mereka juga sudah mengenal Deon. karena sedari dulu, dimana ada Gesy pasti juga akan ada Deon. keduanya sudah terkenal pasangan bucin .padahal mereka tidak tahu saja, keduanya tidak menjalin hubungan apapun.mungkin saja Gesy sudah cinta pada Deon sedari dulu, hanya saja Gesy masih ragu. karena masih banyak wanita yang mengejar lelaki itu,bahkan kadang saat keduanya sedang jalan di mall, ada yang sengaja mencari perhatian dengan sengaja menjatuhkan dirinya di dekat Deon. ya , walaupun cowok itu cuek. tapi hati Gesy masih tak percaya kalau cowok itu sudah berubah.


***


"Kamu kenapa sih ? aneh banget sedari tadi kaya ga tenang gitu" Rania memakan kripik kentang sambil memperhatikan Syalfa yang kelihatan kurang nyaman.


Syalfa menoleh ke sana kemari sebelum beranjak duduk mendekat ke arah Rania.


Nendra yang baru keluar dari dapur dengan membawa 2 gelas air putih di tangannya.


"Nih minum dulu" tawarnya pada Syalfa, dia tau sedari tadi gadis itu gelisah.


Syalfa segera menegak air pemberian Nendra hingga habis setengahnya. Di usap nya bibir basahnya menggunakan telapak tangannya. lalu matanya menatap Nendra dan Rania bergantian.


"Ini tidak beres" Syalfa menatap keduanya serius. bahkan tubuhnya di condongkan sedikit ke depan agar suaranya terdengar jelas oleh kedua sahabatnya.


"Tidak beres? maksudnya?" tanya Rania.


"Emm, Ka Nendra lebih baik telfon tuh . Ka Deon sama Ka Galen. lebih bagus lagi kalau keduanya bisa kesini sebelum matahari terbenam".


"Baik" Nendra tidak banya bertanya, ia segera menghubungi kedua sahabatnya sesuai permintaan Syalfa.


"Hubungi Ike dan Mail juga gih" perintahnya pada Rania yang langsung di laksanakan oleh gadis itu.