My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Miss Dona



Rania mulai menggeliat , merasakan pegal di tangan dan bahunya. punggungnya lebih lagi.


Perlahan ia mulai beranjak dan menatap Deon yang masih memejamkan kedua matanya.


"Kenapa belum sadar juga Ka?" tangannya perlahan menyibak rambut Deon yang sedikit menutupi matanya.


"Rania"


Syalfa memanggil Rania yang masih duduk memunggunginya. Gadis itu belum menyadari keberadaan kedua orang tua Deon.


"Kenapa dia belum bangun juga? Apa sakitnya parah? pasti Aki tau tentang ini, bagaimana kalau..." Rania menghentikan ucapannya Saat tiba-tiba ia mendengar suara lain di ruangan itu.


Rania menoleh ke belakang, Matanya menyipit mana kala melihat dua orang asing yang berada di sana.


"Siapa mereka"


Rania beranjak menyalami kedua tamu yang tidak di kenalnya.walaupun ia sendiri tidak mengenalnya tapi mereka tamu bukan? Rania harus menyambut nya dengan Ramah dan sopan.


"Om , Tante.. Maaf , saya baru tahu kalau ada kalian disini" ucap Rania sambil memberi salam satu per satu.


"Iya tidak apa, Ayo duduk" Mamah Deon memberikan tempat, agar Rania duduk di Sebelahnya.


Walaupun bingung, tapi Rania menurut saja, nanti juga tahu. mereka siapa? dan ada perlu apa? pikirnya.


Saat Rania duduk , mamah Deon mulai mengajak nya ngobrol.


"Apa kamu istri Deon? namamu Rania?" tanya Mamah Deon.


"Iy...a tante. Maaf Tan, kalau boleh tau tante ini siapa?" .


"Namaku Anggi, Mamahnya Deon dan itu Papa Doni Suamiku" tunjuknya pada sang suami.


Rania tertegun mendengar bahwa seseorang yang duduk di dekatnya adalah orang tua suaminya?


"OH maaf Tante, Om kalau Rania kurang sopan, menikah secara mendadak dengan Ka Deon. Dan malah belum sempat untuk menemui Kalian" ucap Rania canggung.


"Ya, kami memang kecewa. tapi kami akan menerima keputusan anak kami".


Saat Mereka tengah asik mengeobrol tiba-tiba Angin berhembus kencang membuat Jendela kamar Syalfa terbuka paksa.sontak semua orang langsung mengerahkan pandangannya ke jendela.


Mereka tidak melihat apapun, hanya ada angin yang cukup kencang masuk ke dalam kamar.


Syalfa langsung terdiam melihat di balik jendela itu. Ada sosok Dosen Dona yang berdiri dengan Tubuh yang mengenaskan. bahkan tangannya hilang sebelah, perlahan sosok Miss Dona mendekat.


Syalfa dengan cepat langsung berlari Menutup jendela dengan kuat.


BRUAK


CeKLak


Tangannya yang sedikit gemetar langsung mengunci jendela.


"Ada apa sayang?" tanya Nendra yang melihat istrinya menyederkan tubuhnya di balik jendela kamar.


"Siapa yang datang?" tanya Rania yang sudah tahu arti dari sikap Syalfa.


"Aku merasakannya, tapi aku tidak tahu aura siapa ini?" lanjut Rania lagi.


"Ada apa?" tanya Papa Doni tak mengerti.


"Nanti kami jelaskan Om. saat ini bukan waktu yang tepat, kita harus membawa Deon pergi dari sini sekarang!" Nendra segera menggendong tubuh Deon .


Dan berlari lebih dulu di ikuti Rania yang siap membukakan pintu.


Syalfa membimbing kedua orang tua Deon untuk mengikuti mereka pergi.


Walaupun mereka bingung, tapi Mereka memilih diam dan ikut saja. Mereka memasuki Mobil Om Doni yang memang berada di pelataran.


Mobilnya memang cukup besar, jadi muat untuk beramai-ramai.


Nendra mengambil alih kemudi, di samping nya duduk Om Dani yang menemani. Di kursi kedua Mamah Deon dan Deon yang masih tak sadarkan diri. Dan kursi belakang, Syalfa dan Rania.


"Ayo Ka, Dia di belakang kita . Cepat!" teriak Syalfa panik.


BRUM


Nendra langsung melajukan mobilnya dengan cepat. tatapannya fokus ke arah depan sana.


Suasana Pagi ini tepat pukul 5 Pagi. kondisi jalan masih sedikit gelap .


"Ka, jangan terlalu cepat. berbahaya! kendalikan dengan kecepatan sedang saja, aku rasa mereka mau membuat kita panik dan jadi kurang fokus. lalu kita akan celaka" kata Syalfa yang mulai berfikir jernih.


"Tapi Kita bisa tertangkap nanti" kata Nendra di sela- sela menyetirnya. tatapanya menoleh ke arah sepion mobil.


"Ka, setidaknya kita bisa menghadapinya dengan sedikit santai tanpa emosi berlebih. ingat Ka, mereka akan lebih sering mempermainkan emosi kita. saat ini yang mengejar bukan makhluk itu lagi. tapi Miss Dona, dosen Ku dulu" .


"APA!" teriak Rania terkejut, ia memegang bahu Syalfa dengan kuat.


"Kau tidak becanda?"


Syalfa mengangguk meyakinkan bahwa apa yang ia ucapkan benar.


"Lalu,kita pergi kemana?" tanya Nendra yang sebenarnya masih bingung mau kemana.


"Ke rumah Om saja bagaimana?" tanya papa Deon.


Nendra melirik Syalfa istrinya dari balik kaca sepion mobil. pandangan mereka bertemu. Syalfa mengangguk menandakan dia setuju dengan ucapan papa Deon.


"Baik Om, kami setuju".


Nendra mulai mengendalikan mobilnya berbelok ke arah kanan. karena tadi tepat sekali dengan persimpangan jalan.


Syalfa melihat ke belakang , terlihat Miss Dona berjalan dengan perlahan, karena harus menyeret salah satu kakinya yang hampir putus, bahkan kepalanya terkadang tengkleh ke kiri. namun tangannya terkadang membenarkan kepalanya sendiri.


Syalfa langsung menatap kedepan kembali, berharap apa yang ia lihat, segera hilang dari fikirannya.