
Setelah seharian berada di dalam mobil melanjutkan perjalanan yang panjang, akhirnya mereka sampai di ibu kota tempat dimana mereka tinggal dan menuntut ilmu.
“Sebaiknya kita berpisah disini” kata Galen sambil membuka kaca mobilnya dari samping pengemudi.
“Iya, arah kita memang berlawanan, sampe bertemu di kampus besok” pamit Mail yang di angguki Galen.
Kedua mobil itu berpisah dengan berlawanan arah.Dari kaca mobil Syalfa terdiam menatap keluar kaca sampingnya. Pemandangan di luar jauh lebih menarik dari pada mengikuti perbincangan di dalam mobil antara Ike dan Rania.
Syalfa memperhatikan kedua makhluk tak kasat mata yang sedari tadi mengikuti kemanapun mobil mereka pergi.
Mario dan Karina melayang di samping kaca mobil syalfa tumpangi, lebih tepatnya di luar tepat dengan tempat duduk syalfa saat ini. Mario sengaja berada tepat disisi kekasihnya agar keduanya bisa saling menatap satu sama lain. Sedangkan Karina yang kini menjelma menjadi hantu centil itu ikut menemani mario karena sudah bosan duduk cantik di atas mobil.
Rania dan Ike sesekali melirik Ke arah syalfa yang seharian diam menatap keluar kaca mobil. Yang dilakukannya hanya diam dan tersenyum membuat keduanya terkadang begidik tapi juga memakluminya. Sahabatnya itu pasti masih sangat merindukan kekasihnya , rindu yang menumpuk tapi hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh. Bukankah itu sama dengan tekanan batin?
“Kalian berdua sudah sampai”
Ucapan mail membuat ketiganya menoleh ke luar kaca mobil. Ternyata saking asiknya dengan apa yang mereka lakukan sampai tidak menyadari kalau saat ini mereka sudah sampai di depan toko roti milik Rania.
“Terimakasih mail, kalian berhati-hatilah ” kata Syalfa yang langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko .
Mail hanya menggangguk saja, katiganya memperhatikan syalfa dari dalam mobil hingga tubuh sahabatnya itu sudah tak terlihat lagi.
Ketiganya sudah tau sifat dingin syalfa selama 3 tahun ini. Jadi sudah terbiasa dengan perubahan itu.
“Kalian tidak mampir?” tanya Rania menatap Mail dan Ike bergantian.
“Tidak untuk kali ini Ran, Aku sudah sangat lelah ingin segera pulang” jawab Ike cepat.
“Baiklah, jangan lupa beritahu aku jika kalian sudah sampai rumah nanti. Terimakasih sudah menemaniku dan syalfa “ ucap rania sambil membuka pintu mobil.
“Tidak perlu berterimakasih, kita kan sahabat . Itu lah gunanya sahabat, selalu ada untuk satu sama lain. Kalau begitu kami pamit”.
Mail mulai menjalankan mobil kembali setelah mendapat anggukan dan lambaian tangan dari rania. Mobil itu perlahan menjauh meninggalkan toko roti milik rania.
Rania melangkah masuk setelah melihat mobil sahabatnya sudah tidak terlihat lagi. Rania berbalik hendak masuk ke dalam tokonya.
“Aaawwh” teriak Rania yang kaget saat berbalik badan tepat di depannya ada sosok wanita yang berdiri sambil cengengesan menatapnya.
Rania mendengus sebal sambil mengusap-ngusap dadanya yang berdebar.
“KARINA!!kaau ingin membuatku mati karena serangan jantung ya!” kata Rania ketus.
“Jangan di ulangi lagi” kata rania akhirnya setelah debaran jantungnya sudah stabil.” kenapa kau malah berada diluar? Bukankah mario dan syalfa ada di dalam?” tanyanya sambil melangkah masuk di ikuti Karina di belakangnya.
“Aku tidak mau menjadi setan diantara mereka” jawabnya asal.
“Lah kan kamu memang setan” sahut Rania.
“Aku bukan setan ya, aku hanya hantu cantik yang setia menemani suami tercintaku” jawabnya tak terima di bilang setan.
“Apa bedanya setan sama hantu? Ck , sama saja” kata rania yang mulai memasuki kamarnya.
BRAK
Belum sempat Karina memasuki kamar Rania, pintu sudah di tutup dari dalam membuat hantu cantik itu kaget karena hampir saja hidungnya yang mancung mencium pintu yang tertutup itu.
“Huft dasar sahabat tidak berakhlak, ada tamu malah ga di ajak masuk. Untung hidung mancungku tidak mencium kerasnya pintu.Selamat..selamat!” kata karin sambil memegang hidungnya yang selamat dari musibah.
Tok
Tok
“woy buka pintunya woy” teriak Karina sambil mengetok-ngetok pintu kamar Rania.”ech Karin kan hantu bukan setan, jadi bisa tembus kan ga perlu lah ketok pintu, terlalu sopan” katanya sambil menembus pintu kamar rania.
Syalfa berbaring di atas kasur empuknya, matanya masih terbuka lebar sambil menatap kekasihnya yang berjalan kesana kemari mengamati seisi kamarnya.
“sayang, jadi kamu selama ini tinggal disini?” tanya Mario yang kini duduk di tepi ranjang syalfa
“Iya, aku lebih nyaman tinggal disini bersama Rania” jawab syalfa sambil tersenyum.
“Lalu, bagaimana dengan rumahmu?”
“disana sudah ada bibi,supir dan juga satpam yang udah ikut aku lama, tante Melati kadang juga mampir ke rumah buat anterin bahan makanan buat kebutuhan pekerja disana sekalian lihat kondisi rumah. Jadi aku sudah tidak perlu lagi memantau rumah” kata Syalfa menjelaskan.
Mario mengangguk mengerti ,” sebaiknya kamu segera istirahat, hari sudah mulai senja. Aku harus segera kembali” kata Mario mulai bangkit dari duduknya.
“Baiklah, apa kamu besok akan kembali kemari?” tanya Syalfa penuh harap.
Mario tersenyum” Aku akan selalu datang kesini setiap hari, sampai bertemu besok” pamit Mario lalu menghilang.