My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Meninggalkan kerajaan rubah putih



nendra membuka matanya saat hawa dingin menerpa kulitnya. matanya terbuka perlahan, di lihatnya jendela kamar yang sedikit terbuka membuat angin masuk dengan leluasa.


nendra berjalan menutup jendela dan menguncinya. netra matanya tertuju pada seorang gadis cantik yang di cintainya masih terlelap dengan meringkuk di balik selimut.


senyumannya terbit tak kala , melihat wajah polos yang terlihat imut itu mulai menggeliat.


" syalfa, bangun" kata nendra sambil mengusap-ngusap pipinya.


syalfa memang gadis yang peka, tanpa di bangunkan untuk ke dua kali, mata itu perlahan terbuka.


nendra kembali tersenyum tak kala mata syalfa dengan cepat terbuka.


"emm, ," syalfa menggeliat sesaat hingga matanya bertemu dengan lelaki tampan yang belakangan ini selalu menemaninya. keduanya memang sudah mulai dekat beberapa hari ini.


"ka nendra" kata syalfa masih dengan muka bantalnya, namun perlahan syalfa beranjak, menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang.


" ayo bersiap-siap, kita akan segera pergi dari sini" kata nendra dengan beranjak dari sisi ranjang.


" pergi? bukan kah ini masih terlalu pagi ka?"


"iya tapi itu lebih baik, tidak akan ada banyak mata yang melihat saat kita pergi" kata nendra sambil memasukan barang-barangnya ke dalam tas.


syalfa mengangguk mengerti, walaupun masih merasa heran dengan keputusan nendra yang mengajaknya pergi secara mendadak, namun syalfa memilih untuk diam, tanpa harus banyak bertanya.


" aku tahu kamu ingin menanyakan tentang keputusanku itu, tapi ini bukanlah waktu yang tepat. kita harus cepat pergi dari sini" kata nendra lagi.


nendra kembali tersenyum,semenjak dirinya lebih dekat dengan syalfa , ia memang sering tersenyum.


syalfa gadis yang berbeda menurutnya . pemberani, sederhana , mandiri, pengertian juga sangat peka dengan sekitar. itu yang di rasakan nendra saat bersama dengan syalfa.


keduanya pergi melalui pintu depan, nendra yakin ayah cira sudah memberitahu penjaga untuk tidak mencegahnya. dilihat dari raut wajahnya kemarin, terlihat jelas ada kekecewaan saat mendengar keputusannya yang menolak cira.


benar saja diluar kamar penjagaan tidak terlalu ketat seperti biasanya. hanya ada dua penjaga di pintu utama.


mereka keluar dari pintu utama dengan mudah saat pintu itu di buka oleh penjaga, nendra dan syalfa mengangguk sebagai ucapan pamit dan tanda perpisahan yang di balas juga dengan kedua penjaga itu membungkukan tubuhnya sesaat.


nendra menggenggam tangan syalfa , syalfa yang melihatnya hanya diam tanpa menolak. seakan sudah terbiasa dengan perhatian nendra terhadapnya.


keduanya berjalan beriringan, melewati begitu banyak pohon tinggi di setiap jalan yang mereka lalui, sekelebat bayangan putih mengikuti mereka diam diam, nendra maupun syalfa hanya cuek. berpura-pura tak tahu. selama itu tidak mengganggu mereka, mereka tak akan bertindak lebih dulu.keduanya hanya tetap diam menatap lurus kedepan.


suasana memang cukup sepi di tambah kabut yang masih menyelimuti daerah tersebut membuat suasana makin tak mengenakan. desir angin menerbangkan rambut dan baju mereka yang terbuat dari sutra.


" apa dingin" tanya nendra sambil mengusap punggung tangan syalfa yang di genggamnya.


" sedikit, tapi tidak masalah" kata syalfa melihat nendra sesaat lalu menatap lurus kembali.


" mendekatlah" kata nendra menarik bahu syalfa agar merapat ke arahnya.


nendra membentangkan jubahnya agar syalfa bisa masuk. syalfa hanya diam menuruti perintah nendra , hingga kedua tubuh itu terlihat berdempetan dengan jubah nendra yang menutupi bagian tubuh syalfa. keduanya masih berjalan beriringan membelah gelap dan kabut pagi ini.