My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Sumur tua



kakinya berlari mengikuti kata hati terkadang ia menoleh ke belakang berharap sosok yang di panggil tabib itu sudah tidak mengejarnya lagi.


bulir-bulir keringat membasahi wajahnya , begitu juga dengan bajunya yang sudah basah karena keringat. sesekali ia meneguk ludah guna membasahi kerongkongannya yang terasa kering. nafasnya naik turun tak beraturan pertanda dirinya sudah lari dengan cukup lama.


"aku sangat lelah sekali, kapan aku bisa keluar dari hutan ini? sedari tadi semua sama, hanya pohon besar yang berjejer tanpa ada pemandangan lain" kata rania yang bersender di balik pohon besar "bahkan sungai juga tidak terlihat, apa aku berada di hutan terdalam, sampai sungai pun tidak aku temukan?" ucapnya lagi.


rania berjalan kembali menelusuri pohon- pohon di sekitarnya.. sesekali tangannya mengusap perutnya yang terasa begah dan nyeri. mungkin karena belum makan pikirnya.


" Aaackh"


rania terperosok ke dalam sebuah lubang yang cukup dalam, tanpa ia sadari kakinya menginjak mulut sumur tua yang permukaannya telah tertutup ranting dan tumbuhan liar.


rania mengusap kakinya yang terdapat luka goresan cukup panjang, mungkin akibat terkena akar tumbuhan di sekitar mulut sumur tua itu.


rania menatap ke atas dengan posisi duduk dan kedua kaki lurus ke depan.


" lubang apa ini? " rania mengamati sekitarnya yang lembab dan pengap. bahkan cahaya dari atas tidak bisa masuk sepenuhnya.


" apa ini sumur tua? bagaimana mungkin di hutan ada sumur tua? bodohnya aku, bisa - bisanya tidak melihat lubang itu" kata rania merutuki kebodohannya.


" sekarang bagaimana caraku memanjat ke atas?" rania bergumam sambil melihat ke sisi kiri dan kanan, seolah mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk kembali naik ke atas.


setelah beberapa saat melihat sekeliling, matanya tertuju pada sebuah akar pohon yang menonjol di sisi lubang sumur, senyumnya perlahan terbit, ia mendapatkan ide.


rania mendekat ke dinding sebelah kiri, lalu kakinya menginjak lubang di dinding tangannya memegang akar pohon satu demi satu. rania berhasil naik hingga ke tengah- tengah sumur. namun tiba- tiba kepala ular muncul dari lubang tidak jauh dari tangannya bertumpu. rania kaget dan kakinya tergelincir karena tidak sanggup menahan berat tubuhnya lebih lama.


BRUG


rania kembali jatuh ke lubang sumur tua. rania meringis menahan sakit di pergelangan kaki yang sepertinya terkilir di tambah pinggangnya yang juga terasa sakit.


"SEEETtttT..."


rania menajamkan penglihatannya yang memang sulit melihat ke ujung sana, karena di sekelilingnya memang gelap. cahaya dari atas hanya mampu menyorot ke tengah-tengah sumur tua yang kini di duduki rania.


mata rania melebar saat sekumpulan ular mendekat ke arahnya, perlahan tubuhnya mundur menghindari sekumpulan ular itu.


"Ssttttt"


lagi lagi suara yang sama terdengar dari arah belakang, rania menoleh dan benar saja , sekumpulan ular mendekat ke arahnya.


dari lubang atas sumur juga turun ular- ular yang berwarna hitam dengan loreng kuning di tubuhnya. semua ular berkumpul mendekat ke arah rania. rania bergegas berdiri dengan tubuh yang bergetar.


"berhenti! jangan mendekat! atau aku bunuh kalian!!" bentak rania mencoba memberi ancaman. walau dalam hati ia sendiri merasa ngeri melihat ratusan ular di sekelilingnya.


"GLEK"


rania menelan salivanya susah payah, saat seekor ular kobra berdiri tepat di hadapannya.lidahnya terkadang terjulur dengan suara desisannya. tatapannya mengikuti pergerakan tubuh rania.


wajah rania sekarang pucat pasi saat seekor ular melingkar di kakinya.


tiba-tiba perutnya merasa keram dan sakit, lalu ular di kakinya perlahan melepas lilitannya.


tubuh rania luruh ke bawah, merasa tak bertenaga. rania duduk dengan mengelus perutnya yang tak nyaman.


tangan dan kakinya terasa dingin dengan bulir- burir keringat yang jatuh membasahi bajunya.


rania menatap semua ular yang kini berada tepat di sekeliling tubuhnya dengan diam tanpa bergerak. tapi semua masih menatap ke arahnya. bahkan sang ular kobra pun masih sama di tempatnya.


" kenapa kalian diam? bukankah kalian hendak membunuhku?" tanya rania heran , tiba-tiba rania mendapat keberanian entah dari mana. dan mencoba bicara dengan mereka. walaupun percuma mengajak berbicara, mana mungkin seekor ular tahu dengan bahasa manusia pikirnya.