My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Galen Emosi



Di Sebuah ruangan yang luas, tepatnya di ruang keluarga kini duduk tiga orang yang tengah membahas sesuatu yang sejak beberapa hari yang lalu tidak kunjung mendapat persetujuan dari sang ibu negara.


"Mah, tolong restui pernikahan kami" Galen mencoba terus membujuk mamahnya yang tetap kekeh tidak ingin merestui pernikahannya dengan Rania.


"Jangan harap , Apa tidak ada wanita lain selain wanita yang tengah hamil itu? Dia itu, sedang hamil anak orang lain Galen. Anak orang lain!" kali ini nada mamahnya sedikit menekan kan setiap katanya.


"Mah, sudah lah . niat Galen itu baik, kasian juga Wanita itu, kalau dia wanita baik-baik bukan kah itu bukan masalah besar? anggap saja kita membantunya" Papah berusaha memberi kan sebuah pengertian pada sang istri, awalnya dia juga tidak mendukung niat anaknya itu, tapi setelah mendengarkan cerita Galen tentang asal usul dan bully yang terjadi pada wanita itu. akhirnya sang papah menyetujuinya. yang penting wanita itu adalah wanita baik-baikdan bisa membahagiakan putranya.


"Mana ada wanita yang baik-baik ko bisa hamil di luar nikah pah? pokoknya mamah ga setuju! lebih baik kamu menikah dengan kekasihmu dahulu yang bernama Mita, udah jelas asal usulnya walau pun tidak sederajat dengan kita".


Galen yang sudah tidak tahan mendengar celotehan pedas mamahnya pun segera bangkit meninggalkan ruangan itu.


"Mau kemana kamu? awas saja, kalau tetap kekeh menikah dengannya, maka kamu akan melihat mamah terbaring di rumah sakit. dan itu semua gara- gara kamu. inget mamah tidak setuju!" teriak nya .


BRAK


Galen menutup pintu itu dengan keras, kaki nya melangkah lebar meninggalkan rumah orang tuanya. tatapannya berubah tajam menusuk bagi siapa saja yang melihatnya. Galen marah karena sikap mamahnya yang sedari dulu tidak pernah berubah. selalu merendahkan orang lain, kata - kata pedas tentang harkat dan martabat sudah sering di dengarnya sedari dirinya mengenalkan mantan kekasihnya dulu. padahal sedari dulu Galen hanya berpacaran sekali, itu yang pertama dan terakhir hanya dengan satu wanita. hingga wanita itu memilih pergi meninggalkannya hanya karena sudah tidak tahan lagi dengan mulut pedas sang mamah.


Galen mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi tujuannya adalah Apartemen sahabatnya Deon. Galen selalu saja pergi ke sana di bandingkan dengan tempat tinggal Nendra. mungkin karena merasa tak enak dengan kedua orang tua Nendra. sedangkan Deon seperti dirinya yang memillih tinggal di Apartemen.


Ciiiit


Galen mengerem mobilnya mendadak saat tiba-tiba mobil di hadapannya berhenti ,untung dia refleknya bagus sehingga bisa mengerem dengan tepat. jika tidak, pasti kini dia akan celaka dengan menabrak mobil orang lain. Galen hanya bisa mengumpat dan memukul Setir , hari ini benar-benar menguras emosinya.


Galen melihat jazad sang lelaki yang kini di bawa dengan brankar hendak masuk ke dalam sebuah mobil, mungkin mobil itu mobil pengendara lain yang punya niat baik untuk membantu membawa para korban ke rumah sakit terdekat. tubuh jenazah itu sudah tak beraturan , tulang belakangnya bengkok dengan mata melotot hampir keluar karena kepala bagian kanannya sepertinya terlindas ban Mobil. Galen menutup kedua matanya, saat tak sengaja tatapan keduanya bertemu, walaupun sudah meninggal tapi tetap saja ngeri , apa lagi dengan kondisinya yang tak wajar.


Setelah melihat Mobil itu pergi, Galen bergegas masuk, ia tidak melanjutkan untuk melihat korban-korban yang lain. baginya sudah cukup melihat satu korban saja tidak untuk melihat yang lain. Galen duduk dengan perasaan gelisah, entah kenapa setelah melihat jenazah tadi hatinya tidak tenang , bahkan bulu kuduknya mulai berdiri. namun Dia berusaha untuk tenang dan bersabar, karena akibat kecelakaan tadi jalan di depan menjadi macet karena banyaknya pengendara yang berhenti untuk melihat kecelakaan. sampai akhirnya polisi berhasil melakukan tugasnya dan mengatur arus laku lintas kembali.


Galen mulai mengendarai mobilnya , kali ini dengan kecepatan standart. pikirannya terus tertuju pada korban kecelakaan yang di lihatnya, hingga suara dering ponselnya membuat pikirannya teralih pada benda pipih itu.


Dilihatnya di Layar ponsel, tertera nama Rania disana. Galen menepikan mobilnya untuk menjawab telfon dari Rania.


"Hallo"


"Hallo, Ka Galen ada dimana?"


"Aku masih di jalan Rania, ada apa? apa ada masalah?"


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Ka Galen , Apa bisa kemari? kebetulan yang lain juga ada disini".


"Oh, baiklah aku kesana sekarang"


"Ya ka, aku tunggu"


Tut tut tut