
"Bagaimana?" tanya Syalfa saat melihat Rania terlihat menaruh hp miliknya kembali ke atas meja.
"Lagi di jalan , katanya akan segera kesini" jawab Rania sambil memakan buah apel yang sudah di potong-potong nya tadi.
Syalfa mengangguk mengerti ,kemudian tatapannya tertuju pada Ike dan Mail yang saling lirik seakan memberikan kode satu sama lain.
"Ada apa dengan kalian berdua?" Tanya Syalfa yang membuat yang lain ikut menoleh ke arah keduanya.
"Emm, anu.." Mail menggaruk pipinya sesekali melirik Ike.
"Apa? cepet ngomong" .
"Jadi begini, boleh tidak kalau , kalau kami. maak maksudnya , aku dan Ike menikah juga bareng kamu syalfa" tanya Mail sedikit gugup dan tak enak hati.
"Nikah?" seru mereka serempak.
"Iyah, please boleh ya?" tanya Mail menatap Nendra dan Syalfa penuh harap.
"Eech emang nya kalian sejak kapan pacaran? ko kami ga tau?" tanya Rania.
" emm, sebenarnya sejak kami kembali dari Hutan terlarang dulu" jawab Ike .
"Waah kalian ini bener-bener ya" Rania menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kalian ingin menikah secepat ini? kan kalian pacaran belum lama?" tanya Syalfa.
"Aaah iya bener, atau jangan -jangan .." Rania menatap Mail dan Ike penuh selidik lalu tatapannya tertuju ke perut Ike yang masih datar.
Ike yang tau Rania menatap ke perutnya segera melempar bantal sofa yang ada di dekatnya hingga lemparan itu malah mengenai Deon yang duduk di dekat Rania yang sedang ikut memakan buah apel .
BUGH
Deon menatap Ike sebal sedangkan yang di tatap langsung meminta maaf.
"Weeek, ga kena" Rania menjulurkan lidahnya mengejek Ike .
CEKLEK
terdengar suara pintu yang di buka dari luar , ternyata Galen yang datang dengan wajah kusutnya dan langsung melepas jaket yang di kenakannya kemudian melemparkannya ke sofa tunggal.
"Kenapa kamu? Muka ko di tekuk gitu?" Tanya Ike yang memang duduk di dekat Galen.
"Lagi Apes banget gue hari ini" keluhnya sambil mengambil minuman kaleng di atas meja .
"Ada apa bro? Habis kena copet?" tanya Deon .
"Iya muka nya memang mirip orang kurang duit" canda Ike sambil tersenyum.
"Ga tau lah, ga usah di bahas males banget gue" Galen menyenderkan punggungnya yang terasa begitu berat.
"Siapa kamu?" Syalfa tiba -tiba menatap Galen dengan wajah dinginnya.
Nah kalau udah kaya gini nih , sudah tau Ada apa di sana.
Ike buru-buru mendekat ke Mail dan merangkul lengannya.
Mereka menatap arah pandang Syalfa yang tertuju pada sahabat mereka itu.
Galen menatap teman-temannya dengan bingung, kemudian dia menoleh ke arah belakang, siapa tau ada orang lain di sana. tapi tidak ada siapapun, lalu dengan siapa Syalfa berbicara? apa dengannya?.
"Kau tidak mengenalku Syalfa?" tanya Galen bingung.
"Jawab!!" Syalfa kembali menatap Galen dengan lebih dalam.
"kau benar-benar lupa padaku? Aku Galen , masa lupa sih" .
"Stop" Karina tiba-tiba muncul dari arah belakang Galen.
" Biar aku saja"
Karina langsung menarik paksa sosok lelaki yang menempel di punggung Galen.
Kemudian keduanya menghilang. Galen menepuk punggung serta pundaknya yang sudah tidak begitu berat lagi.
"Apa itu? jadi sedari tadi ada yang mengikutiku" tanyanya.
"Ga nyadar loe?" tanya Deon santai
"Engga" jawabnya .
Syalfa kembali duduk di tempatnya semula." Ka Galen habis dari mana? kenapa dia mengikuti kakak?" .
"Sebelum aku datang kemari, tadi di jalan ada kecelakaan, aku tidak sengaja melihat salah satu korbannya saat tubuhnya akan di masukan ke dalam mobil".
Syalfa mengangguk mengerti, lalu di lihatnya lamat-lamat wajah Galen yang sepertinya dalam Mood yang tidak baik.
Nendra yang melihat Syalfa terus menatap Galen merasa tak suka.
"Ehem, biasa aja dong liatnya" Nendra menatap Syalfa penuh peringatan, membuat Syalfa menghela nafasnya.
"Karena kalian sudah berkumpul, Ada yang ingin aku bicarakan. ini tentang rencana pernikahan Rania dan Ka Galen".
"Kenapa Syalfa?" tanya Galen.
"Lebih baik pernikahan kalian bareng saja Denganku, tadi Malam aku melihat ada sesosok wanita yang menyerang Rania , untung ular-ular pengikut Arav selalu menjaga Rania dan bisa menanganinya dengan cepat. Aku yakin mereka menginginkan anak yang Rania kandung. jadi untuk menghindari hal yang serupa kembali terjadi, mending pernikahan kalian di percepat saja, setidaknya ada yang menjaga Rania nanti" .
"Apa? ada yang menggangguku? kenapa kau tidak cerita padaku?"
Syalfa tidak menggubris pertanyaan Rania, dia masih menunggu jawaban Galen.
Galen masih diam seperti sedang berfikir keras, hingga sebuah anggukan membuat Syalfa tersenyum senang.
"Baik, kalau begitu kita akan menyiapkan segalanya sekarang" Seru Syalfa senang.
"Eeh, kenapa kalian tidak bertanya padaku terlebih dulu" .
"lah, memangnya kamu ga mau?" tanya Syalfa.
"Ya mau sih" cengir Rania.
"Lalu kami bagaimana?" tanya Mail.
"Ah iya, hampir saja lupa?" seru Syalfa , " apa alasan kalian menikah mendadak seperti ini?"
"Ike akan di jodohkan dengan anak dari teman bisnis ayahnya dan besok mereka akan mengadakan pertemuan keluarga di rumah Ike" jawab Mail lesu.
"Waah, gawat dong" seru Rania.
"Boleh ya, kami juga menikah bareng dengan kalian saja, aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku kenal, lagi pula aku hanya mencintai Mail" mohon Ike.
"Tapi bagaimana dengan Orang tua kalian?" tanya Nendra.
"Kalau kalian tidak membantu kami, kami terpaksa akan pergi dan kawin lari saja" Ike kini terisak sambil menenggelamkan wajahnya pada bahu Mail.
"Ya sudah boleh" jawab Nendra yang tak tega melihat wajah keduanya yang tampak murung. dia sendiri juga merasakannya, bagaimana rasanya jika sampai menikah dengan orang yang tak ia cintai.
Jawaban Nendra membawa angin segar bagi Mail dan Ike , keduanya mengucapkan terimakasih dengan para sahabatnya termasuk Nendra dan Syalfa.