
Hening
Ketiganya diam setelah Syalfa menyuruh Nendra juga Rania menghubungi teman mereka. Syalfa tidak ingin menjelaskan apapun sebelum mereka semua berkumpul.
BRAK
Terdengar suara pintu terbuka dengan kasar membuat ketiganya terlonjat.
"Ada apa , apa kalian baik-baik saja? " Ike menatap ketiganya dengan khawatir tanpa merasa berdosa telah mengejutkan ketiga temannya yang masih mengelus dada.
"Tidak, kalian duduk lah terlebih dulu" Syalfa membuka suaranya saat debaran jantungnya sudah kembali normal.
"Ada apa? kenapa meminta kami kemari dengan mendadak seperti ini, kamu tidak akan menghubungi kami dengan mendadak jika tidak ada sesuatu yang darurat" Mail bertanya dengan rasa penasaran.
Saat Syalfa hendak menjawab pertanyaan Mail,namun pintu kembali terbuka terlihat Galen dan Deon kedua nya sampai bersamaan. Galen tadi sedang meminta persetujuan kedua orang tuanya tentang rencana dadakan pernikahannya dengan Rania. sempat ada bersitegang dengan kedua orang tuanya termasuk sang ibu, belum sempat memberikan penjelasan lebih lanjut. suara dering ponsel membuatnya harus segera pergi ke tempat Rania. sedangkan Deon tentu juga terpaksa meninggalkan Gesy bersama teman-teman mereka disana.
"Duduk"
Nendra menyuruh keduanya untuk segera duduk , keduanya diam tapi menurut. tadinya ingin bertanya ada apa? tapi melihat wajah tegang Syalfa, membuat keduanya memilih untuk diam dan menunggu saja.
"Syalfa?"
panggil Rania menoleh ke arah syalfa ,tangannya yang sedari tadi sibuk memegang Kripik , kini menaruh plastik itu ke atas meja, lalu meneguk segelas air putih yang tak jauh dari sana.
"Kalian ingat? Saat berada di Ruang music kampus?Syalfa menatap Ka Galen dan Rania bergantian.keduanya mengangguk, Nendra sekarang tahu, ternyata Syalfa masih kepikiran tentang sosok yang di temuinya tadi." Ran, aku tanya padamu, apa kamu merasakan sesuatu saat berada disana?" .
"iya, tapi aku tidak terlalu memperdulikannya, bukankah setiap ruangan ataupun tempat manapun pasti ada mereka? bahkan di rumahku juga ada bukan".
"Ya kamu benar, tadinya aku juga berfikir demikian. tapi sekarang tidak" kata Syalfa.
"Sebenarnya apa yang kamu lihat disana? dan apa yang membuat kamu jadi gelisah?" Tanya Mail yang ingin semuanya lebih jelas.
"Awalnya aku melihat ada sosok Gadis bergaun putih duduk di dekat piano, aku fikir dia adalah arwah seorang pianis atau mahasiswi disini, karena waktu itu aku juga tidak melihat wajahnya.kepalanya selalu menunduk, saat kami pergi meninggalkan tempat itu.aku melihatnya lagi di sekitar kampus, aku fikir mungkin kebetulan saja, tapi .." Syalfa menatap teman-temannya yang juga menatap serius ke arahnya.
"Aku melihatnya lagi, dan dia sekarang berada di bawah sana. Aku melihat wajahnya, aku melihatnya!" Syalfa tiba-tiba histeris dan menangis. membuat semua nya panik.
"AAaaChhh!! hiks hiks"
Syalfa berteriak kencang sambil menutup wajahnya.Rania segera memeluk Syalfa dengan Raut bingung juga cemas.
Syalfa mulai melepaskan dekapannya pada Rania, Mata yang sembab itu menatap kesekeliling, lalu kembali fokus pada teman-temannya yang masih setia diam tapi mata mereka tetap tertuju padanya.
"Dia D ia teman kita hiks , MOLY" kata Syalfa sambil pandangannya menatap kosong pada teman-temannya.
Perkataan Syalfa tentu membuat Rania ,Ike dan Mail tegang, ketiganya juga menangis. tapi Mail memilih menunduk menyembunyikan kesedihannya.
Nendra, Galen dan Deon yang tidak mengenal Siapa itu MoLy hanya diam dan memperhatikannya saja.dia pasti salah satu korban dari tragedi di masa lalu pikir mereka.
"Dimana Dia?" Ike menghapus air matanya menatap Syalfa.
Syalfa berjalan mendekat ke arah Jendela, lalu pandangannya menatap ke bawah.
Di lihatnya Sosok wanita yang sedang menatap ke arah toko Roti yang telah tutup. Ike ,Rania ,Mail di ikuti Nendra, Galen dan Deon juga sama memperhatikan ke bawah. tapi Nendra, Galen dan Deon tidak melihat apapun di sana. sedangkan yang lain bisa melihatnya.
"Kalian bisa melihatnya?" tanya Syalfa menatap semua teman- temannya.
"Iya" jawab Rania, Mail dan Ike serempak. mereka masih menatap sosok wanita yang kini mendongak menatap ke arah mereka.
"Aku tidak melihat apapun" kata Nendra yang di angguki Deon dan Galen.
"Mungkin karena kalian tidak terlibat kejadian di masa lalu" jawab Syalfa dengan memandang sosok Moly yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Ayo kita turun, temui Moly" Ajak Ike semangat hendak keluar dari kamar namun tangannya di Cekal Syalfa.
" Jangan , ini aneh " kata Syalfa.
"Iya, aneh.aku juga merasa demikian. Moly muncul setelah kita kembali dari dunia mereka, dan kita sempat berurusan dengan sosok-sosok yang ikut menyerang kita di masa lalu. aku jadi ingat perkataan Hux" Roh -Roh teman kita akan di bangkitkan kembali , jika salah satu dari kita tertangkap bukan? lalu kenapa moly bisa muncul? sedangkan kita kembali dengan selamat?" Rania berkata sambil terus menatap Molly.
Tepat saat Rania selesai dengan ucapannya, tubuh Moly yang awalnya utuh , tiba-tiba berasap dan tubuhnya terkoyak, tubuhnya tergeletak di tanah dengan bagian perutnya yang terbuka, isi perutnya keluar kemana mana ,darah segar memuncrat ke bagian sisi pagar toko.
Ike menjerit memeluk Mail, sedangkan Mail menoleh ke arah lain. Rania buru-biru berlari ke toilet untuk memuntahkan sesuatu. apa lagi dia sedang hamil.
Syalfa hanya memejamkan kedua matanya, hidungnya bisa menghirup aroma amis dan anyir yang menyeruak, walaupun mereka di lantai atas , tapi letaknya hanya di lantai 2. dan entah kenapa aroma itu sampai ke tempat mereka berada.
Nendra, Galen dan Deon juga dapat mencium aroma tak sedap itu. mereka memilih menutup hidungnya rapat-rapat.