My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Kabur!



Ku tatap awan yang gelap


sepi ,senyap memikirkanmu


Hati terasa hampa merindukanmu


Menangis kala teringat senyum manismu


Aku mencintaimu


Selalu mencintaimu


Tersimpan kokoh dalam hati


Takkan pernah terganti


_SYALFA_


 -------


terdengar suara gaduh, dentingan benda tajam serta tulang-tulang yang patah .


cira terus menyerang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melawan gerombolan siluman buaya yang terus berdatangan tanpa henti.


ekornya kini terluka parah karena gigitan mereka, lengan dan pipinya terdapat luka cakaran. namun tidak membuatnya menyerah.


terkadang matanya melirik nendra yang masih melawan beberapa siluman yang mendekat dan menyerang mereka. kini nendra berdiri di sebelahnya, saat dirinya mulai kuwalahan. begitupula syalfa, walaupun tubuhnya lemas dan banyak terdapat luka dan kehabisan banyak darah. tapi syalfa tetap membantu melawan siluman buaya yang kini mengepung mereka. ketiganya berhimpitan dengan punggung hampir bersentuhan, mata mereka menatap ke depan dengan waspada nafas ketiganya tak beraturan .


" kenapa mereka semakin banyak, bukankah kita sudah membunuh banyak dari mereka?" tanya nendra heran.


" sepertinya mereka menipu kita yang kita lawan bukanlah tubuh aslinya" kata cira.


" benarkah?! pantas saja, bukannya berkurang malah semakin bertambah, jika terus seperti ini. kita lah yang akan mati di tangan mereka" kata nendra.


" kita harus cari cara, agar bisa pergi dari sini.kita tidak mungkin bisa melawan mereka semua sekarang dengan keadaan tubuh penuh luka seperti ini" kata cira.


" iya kau benar, syalfa juga sudah sangat lemah" kata nendra menoleh ke syalfa yang berada di belakangnya. nendra mengelus punggung syalfa lembut.


nendra, syalfa dan cira kembali menatap mereka semua waspada, ketiganya menempelkan punggung mereka satu sama lain. kini ketiganya benar- benar sudah terkepung.


" kau! manusia! cepat berikan batu permata yang sudah kau ambil dari istana!" bentak ketua buaya.


" batu permata biru?" kata nendra dan cira menatap syalfa dan ketua siluman buaya bergantian.


" batu permata ini bukanlah milik kalian, aku tidak akan pernah memberikannya! " teriak syalfa.


"lalu, apa itu milikmu? tidak mungkin,! raja yang telah menemukannya, jadi batu itu adalah milik istana kami. kau tidak berhak membawanya! serahkan atau kau akan mati dengan cara mengenaskan! walaupun kau calon istri raja, tapi kau sudah kabur dari pernikahan dan mencuri harta istana, raja tidak akan mengampunimu. jadi sebaiknya kau menyerah saja dan kembalikan batu itu, mungkin raja akan mengampunimu atau hukumanmu tidak terlalu berat ".


" batu permata biru ini memang bukan milikku, tapi ini milik kekasihku. aku tidak akan pernah memberikannya pada kalian! aku lebih baik mati dari pada menyerahkannya!" ucap syalfa lantang dengan menatap mereka satu per satu.


" kekasih?" gumam nendra pelan.


" ternyata kau lebih memilih mati! baiklah! serang mereka!" teriak ketua buaya pada semua anak buahnya.


syalfa menatap mereka tajam, terlihat cahaya keemasan mulai muncul dari pelipisnya. angin bertiup kencang membuat seisi goa seperti kedatangan angin ****** beliung. mereka menutup matanya, bahkan ada sebagian dari mereka yang tubuhnya terlempar dan terbentur ke dinding goa.


mereka yang hendak menyerang perlahan mundur, karena angin yang teramat besar, membuat mata mereka perih, tangannya menghalau angin. agar tidak menghalangi penglihatan mereka.


nendra yang melihat itu semua merasa bingung begitu juga cira. mereka tidak merasakan apapun, tapi lawan mereka terkena angin yang cukup besar. nendra dan cira menatap syalfa yang fokus menatap mereka semua. rambutnya berterbangan dan di pelipis gadis itu ada cahaya keemasan yang menyala terang.


kini keduanya mengerti, syalfa bukanlah manusia biasa. dia memiliki kekuatan istimewa. nendra sendiri sebenarnya sudah tau gadis itu memang memiliki kemampuan. saat nendra tau syalfa bisa melihat makhluk tak kasat mata dan mendengar cerita masa lalu syalfa dan sahabatnya. tapi dia belum pernah melihat langsung, syalfa yang mengeluarkan kekuatannya untuk melawan mereka. baru kali ini, dia melihatnya secara langsung. nendra makin di buat takjub dan kagum pada syalfa.


nendra menatap siluman buaya yang sudah terkapar . ada beberapa dari mereka yang mencoba bertahan dengan memegang batu di sekitar goa termasuk ketua buaya yang masih bertahan.


" cukup syalfa, lebih baik kita segera pergi dari sini, sebelum mereka menyadarinya. kemungkinan siluman lain juga akan segera datang itu akan lebih membuat kita mustahil keluar dari tempat ini!" kata nendra.


syalfa diam tanpa menjawab perkataan nendra, tubuhnya perlahan melemas . nendra dengan cepat langsung menggendong syalfa dan segera berlari.


" ayo cepat cira!" teriaknya pada cira.


cira juga berlari menyusul nendra yang pergi lebih dulu.