
" Bau apa ini? amis sekali" Galen mencoba terus menahan nafasnya sambil berjalan mengambil tas nya yang tergeletak di sofa. Galen mengambil parfumnya yang setiap hari ia taruh di tasnya.
Galen menaruh sedikit di tangannya dan menghirupnya.
"Uuh, ini jauh lebih baik" lirihnya dengan selalu mencium tanganya yang wangi.
"Berikan padaku" Deon menyodorkan tangannya ke Arah Galen. lelaki itu pun menaruh juga sedikit di tangan sahabatnya itu. Galen menoleh ke arah Nendra yang masih diam menatap Syalfa.
"Hei bro, kamu ingin juga tidak?" tanya nya dengan menyodorkan parfumnya.
Nendra hanya mengulurkan tangannya tanpa berniat menjawab perkataan Galen.
"Dasar Kulkas!" umpat Galen sambil menyimpan kembali parfumnya ke dalam tasnya , setelah selesai memberi sedikit wewangian itu kepada Nendra.
HUEK
Terdengar suara Rania yang muntah di toilet, ternyata Rania belum selesai juga mengeluarkan isi perutnya.
Syalfa yang hendak menyusul Rania ke dalam toilet di kamar itu, langsung di cegah Galen.
"Biar aku saja" katanya yang di balas anggukan Syalfa.
Galen berjalan ke arah toilet yang pintunya memang tidak tertutup sepenuhnya. terlihat Rania yang berjongkok di depan Closet.
Galen memijit tengkuk Rania berharap membuat Wanita itu jauh lebih baik. setelah Rania selesai , Galen memberikannya sebuah tisu.
"Terimakasih" Rania menerimanya dan menyeka bibirnya , setelah berkumur sebentar.
"wajahmu sedikit pucat, apa tidak apa-apa?" tanya Galen yang sedikit khawatir, apa lagi Rania berjalan sedikit terhuyung. tangannya segera mencekal salah satu tangan Rania agar tidak jatuh. saat keduanya hendak melewati pintu toilet, ada seekor ular yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Reflek Rania menjerit dan terlonjat mundur. Galen yang terkejut juga menarik Rania lebih dekat ke arah tubuhnya, bahkan tangannya memeluk pinggang Rania sampai tubuh keduanya menempel .
Ssseeet
Suara desisan ular kobra meliuk liukan tubuhnya, kepalanya terangkat menatap Keduanya. lidahnya terjulur mendesis desis.
"Ada apa?" Ike ,Syalfa dan yang lain segera mendekat ke arah toilet, saat mendengar teriakan Rania.
Ike menghentikan langkahnya saat melihat Seekor ular cukup besar , dan ular itu dalam keadaan kepala tegang mengahadap Rania dan juga Galen.
"Ular?" kata Syalfa heran.
"Kenapa disini ada ular?" Ike juga merasa aneh, seekor ular bisa masuk ke dalam Rumah, bahkan berada di lantai 2.
Syalfa mendekat agar lebih jelas melihat Ular yang menurutnya aneh, baru kali ini dia melihat ular kobra tapi di belakang kepalanya terdapat Tanda berwarna kuning sedikit mengkilat. Ternyata gerakan Syalfa dan beberapa temannya di ketahui Ular itu, sang ular kini menghadap Syalfa sambil mendesis. Kesempatan itu justru di manfaatkan Galen, ia segera mengambil Gagang Pel yang berada disana.
Galen mengangkat gagang itu kuat-kuat , mengangkatnya bersiap memberikan pukulan mematikan. namun gerakannya terhenti, Rania berdiri di hadapannya menghalangi gerakan Galen yang hendak memukur ular itu.
"Jangan Ka, ular itu bukan ular biasa. walaupun ka Galen memukulnya dengan Ini" tunjuk Rania pada Gagang pel yang di pegang Galen, Rania menggeleng" Percuma, ga akan bisa" Rania menatap ular itu yang kini juga kembali menatapnya dan Galen karena Syalfa dan teman-temannya kembali diam di tempat . "Biar aku yang mengatasinya". ucapnya lagi.
"Apa kamu bisa berbicara? aku yakin, kamu salah satu bagian dari Arav " tanya Rania mulai berjongkok agar lebih dekat dekat ular itu. tangan Galen memegang pundak Rania khawatir. hal itu seperti membuat ular di hadapannya tidak suka.
terdengar suara desisan kembali, tentu hal itu membuat Rania tahu .
"Ka galen"
"Iya"
"Aku ga papa ko, jangan khawatir kakak bisa ga sementara menjauh dari aku dulu? " tanya nya penuh harap.
Galen menggangguk mengerti,kali ini dia mencoba untuk percaya pada Rania. dia tahu dari pengalaman Rania yang di ceritakan sahabat mereka, Rania cukup peka dan juga cerdas.
Galen melangkah mundur hingga punggungnya hampir menyentuh tembok.
Rania kembali menatap ular di hadapannya yang sepertinya sedang memperhatikan pergerakan Galen dia tersenyum.
"Sekarang hanya ada aku dan kamu, apa kamu bisa berbicara padaku?" tanya Rania .
"iya"
"Sudah kuduga, kamu bukan ular biasa. apa kamu bagian dari Arav?" .
"Iya Putri, aku salah satu bagian dari Tuan Arav. maaf atas sikap saya tadi" .
"Tidak apa, aku mengerti . boleh aku tahu kenapa kamu berada disini?" .
"Aku hanya memperingati putri untuk lebih berhati-hati termasuk dengan kandungan putri. akan ada banyak makhluk seperti kami yang mengincar keturunan dari Tuan Arav jadi berhati- hati lah".
Setelah mengatakan itu ular kobra segera pergi menerobos lubang kecil di bagian toilet.
Rania yang hendak bertanya lagi jadi mengurungkannya.
"Bagaimana?" tanya Syalfa yang melihat Rania menghela nafasnya.
"Apa kalian tidak bisa mendengar ucapanya tadi"
Syalfa dan yang lainnya menggeleng, membuat Rania kembali mendesah. ternyata hanya dirinya yang bisa berkomunikasi dengan Ular tadi.
"Dia bagian dari Arav dan memberikan aku peringatan untuk berhati hati termasuk menjaga kandunganku dengan baik, karena akan ada makhluk seperti mereka yang mengincarnya" jawab Rania lesu.
Rania berjalan kembali duduk di sofa yang ada di ruangan itu, diikuti teman-temannya yang lain. Syalfa duduk di samping Rania.