
Mario menatap lekat wanita yang tergantung menempel di dinding. dengan kaki yang terikat dan tangannya di cekal 2 Roh disana. pandangannya menatap sedih ke arah wanita yang melayang di atasnya.
Tunggu!
Mario merasa pernah melihat wanita yang menjerit dan menangis di ujung sana. tapi siapa dia? matanya masih menatap dalam wajah rania yang tak begitu jelas, karena posisinya yang berada di atas.
namun,suara dan nama yang di teriakan wanita itu. kenapa membuatnya tak nyaman? nama itu seperti sangat familiar.
"Syalfa?" gumamnya masih bingung.
Hingga kemudian sebuah memori melintas di kepalanya. membuat mario harus memejamkan kedua matanya sesaat.
"MARSYALFA?" gumamnya lirih, lalu matanya seketika terbuka lebar. pandangannya langsung tertuju kepada wanita yang melayang diatas sana.
" Sayang? syalfa?" gumam mario meneteskan air matanya.
Mario bingung harus bagaimana menyelamatkan syalfa yang tinggi disana.
" SYALFA!!!!" teriaknya saat melihat tubuh syalfa sudah mulai menghitam dan rambutnya perlahan berubah warna menjadi putih.
"Hei, lepaskan kekasihku bi*dap! iblis kepar****!" teriak mario geram.
Mario menatap sosok pemimpin itu dengan tajam namun di balas seringai yang menjijikan.
Mario berlari saat pandangannya menangkap sebuah batu yang tak jauh darinya.
tangannya terulur mengambil batu itu, tapi?
" ada apa ini, kenapa aku tidak bisa menyentuh batu ini? kenapa tembus?" kata mario frustasi dengan terus berusaha mengambil batu itu.
"ku mohon, ini demi kekasihku " katanya di sela- sela usahanya itu.
WUUUUZzzz
Segerombolan angin berdatangan dari segala arah dengan cahaya berwarna kuning, putih dan hijau.
BUUM
terdengar suara ledakan dasyat. dan teriakan memilukan.
Mario berdiri saat mendengar kegaduhan yang lebih besar. mata nya melebar melihat beberapa orang dan sosok asing di sana berdatangan dan bertarung melawan sosok pemimpin tadi.
matanya menyipit saat melihat tubuh kekasihnya berada dalam gendongan seorang lelaki.
" Siapa dia? berani sekali menggendong kekasihku" kata mario kesal.
Mario mengernyit saat rania yang sudah terbebas dan berjalan ke arah syalfa dan kedua lelaki asing.
" Apa rania mengenal mereka? tapi kenapa aku tidak? bukankah semua teman mereka pasti aku juga akan mengenalnya?"
Kakinya melangkah mendekat ke segerombolan orang yang sedang mengkhawatirkan kekasihnya .
"Mario? ituhkah kau?" tanya rania sambil mengucek kedua matanya.
" Iya , ini aku" katanya sedikit cuek, pandangannya masih menatap wajah kekasihnya dengan lekat.
" Berikan dia padaku, biar aku yang menggendongnya" tegas mario menatap lelaki yang menggendong syalfa.
"Tidak, biar aku saja" kata Nendra tak kalah tegas.
ya, lelaki yang menggendong syalfa saat ini adalah Nendra.
Rania menatap Mario dan Nendra bergantian.
" Syalfa! untung kau saat ini pingsan! setidaknya itu bisa menyelamatkanmu dari kematian sesungguhnya!" gumam rania menatap Nendra dan Mario ngeri.
"Sudah! sudah! lebih baik kita cepat pergi dari sini. sebelum mereka menyadarinya. ayo!" kata rania menyadarkan Nendra dan Mario yang sedang bertatapan dingin.
"HEMM" gumam Mario dan Nendra membuat Rania menggeleng tak percaya.
"Huft, sama saja" kata rania kesal.
Deon menatap ketiganya acuh tak acuh sambil berjalan mengiringi langkah rania. di ikuti Nendra yang masih menggendong syalfa . sedangkan mario masih berusaha mengambil syalfa dari gendongan nendra. tapi lagi lagi nendra menghalanginya.membuat mario mendengus, ingin sekali mario memukul wajah tampan nendra , tapi situasinya saat ini tidaklah tepat. mario cukup waras jika ingin membuat perhitungan, jika saat ini dirinya tidak mengalah. yang ada mereka akan mati terbunuh.
Tunggu Mati?
Mario tertegun dengan kata itu.dia tidak bisa mengambil batu.apa dia tidak bisa menyentuh syalfa juga?
mario menggeleng mengusir pemikiran- pemikiran yang terlintas di otaknya.
"Tidak, tadi hanya kebetulan saja. mungkin karena aku panik" katanya menenangkan dirinya sendiri.
"Tuan lari!" terdengar suara teriakan membuat Mario, Nendra, Deon dan Rania menoleh serempak ke sumber suara.
"Ada apa hux?" tanya Deon tak mengerti.
"Lari tuan lari! terdengar peringatan itu lagi.
hux masih sibuk membalas serangan- serangan bertubi -tubi. semakin lama semakin banyak sosok sosok aneh yang datang membuatnya kualahan.
"Hei lari cepat! bodoh!"
terdengar lagi teriakan sekaligus umpatan dari arah lain.
keempatnya menoleh ke arah suara. ternyata itu Cia yang masih sibuk melawan roh-roh dengan pedangnya.
"Ada apa?" tanya Deon masih bingung.
"Lari di atas! atas!" teriak Rania menggeret paksa tangan Deon.