
nendra dan syalfa sudah berjalan cukup jauh, sebelumnya keduanya sudah beristirahat sejenak sekedar untuk mengisi perut dan mengumpulkan tenaga yang sudah terkuras .
terlihat tidak jauh dari mereka ada sebuah rawa yang tentu tak terawat , dengan tumbuhan yang lebat disekelilingnya.
beruntung air terlihat jernih, membuat syalfa tersenyum senang. rasanya ingin sekali menyegarkan tubuhnya dengar air di hadapannya. saat kedua kakinya hendak mendekati rawa itu, tangannya di cekal oleh nendra. syalfa menoleh dengan mengerutkan keningnya seakan bertanya" ada apa".
" jangan terburu-buru syalfa, air itu memang tenang dan jernih, tapi bisa saja air tenang itu justru sangat berbahaya".
syalfa mengangguk mengerti, dirinya memang terlalu antusias membuatnya kurang waspada. pada hal sebelumnya ia sangat teliti dan jarang sekali ceroboh, namun setelah ada nendra, seakan tingkat kewaspadaannya berkurang. mungkin karena nendra selalu menjaga dan melindunginya membuatnya nyaman tanpa perlu khawatir dengan kondisi sekitar.
nendra mengambil sebuah batu sedikit besar lalu melemparkannya ke air yang terlihat tenang.
PLUM
terdengar suara cipratan air yang terkena batu. nendra dan syalfa diam menunggu apa ada reaksi setelahnya.
hening
tidak terjadi apapun, kemudian nendra kembali mengambil batu yang kali ini tidak hanya satu, tapi tiga sekaligus.
nendra melemparkan batu itu lebih jauh, setelah batu- batu itu kembali mengenai air, keduanya terdiam menunggu seperti sebelumnya.
hari yang menjelang sore memang membuat suasana sedikit gelap, membuat keduanya harus fokus dengan penglihatannya.
setelah menunggu beberapa saat, dari tempat lemparan batu itu muncul sebuah kepala berwarna hitam.
tunggu..
itu adalah rambut berwarna hitam, kepala itu mendekat ke arah dimana syalfa dan nendra berdiri.
nendra langsung menarik tangan syalfa untuk segera menjauh dari rawa itu, keduanya berbalik badan saat kepala yang tertutup rambut itu makin mendekat dengan gerakan yang cukup gesit.
saat kaki mereka melangkah, sebuah rambut mencengkram kaki keduanya.
syalfa menendang kaki kanannya yang terlilit ke udara, agar segera terlepas, namun yang ada cengkaran itu semakin kuat. sedangkan nendra sudah mengambil sebuah pisau lipat yang berada di balik punggungnya. nendra memotong rambut itu yang melilit kaki syalfa terlebih dulu, ia abaikan lilitan yang berada di kakinya.
belum sampai lilitan itu terpotong, lilitan lain mengerat ke perutnya. nendra merintih menahan sakit, tubuhnya terasa seperti di remat erat.
Huah...huah..
nafas nendra terengah saat dadanya mulai terasa sesak, syalfa yang melihat wajah nendra yang berubah pucat kehijauan merasa khawatir. syalfa melihat ke sekeliling berharap mendapatkan sesuatu untuk di gunakannya.
matanya tertuju pada batu-batu yang sebelumnya di gunakan nendra. syalfa menunduk, tangannya berusaha menjangkau batu itu yang ternyata agak jauh.
disaat syalfa sedang sibuk mengambil beberapa batu dengan kakinya yang masih terlilit rambut, tubuh nendra justru perlahan terseret hendak masuk ke dalam rawa.
" Dapat"
syalfa melihat ke belakang, matanya melebar, tubuh nendra sudah terseret hendak masuk ke dalam rawa. syalfa berlari menjangkau tangan nendra yang terjulur, di pegangnya tangan nendra yang terasa dingin. tangan satunya melempari kepala berambut itu dengan batu yang di bawanya. membuat siluman rawa marah. belitan di badan nendra perlahan terlepas . rambut - rambut itu berterbangan di udara , seperti memindai sesuatu. syalfa menarik tubuh nendra yang lemas menjauh dari rawa, namun karena belitan di kakinya belum terlepas membuatnya jatuh tersungkur, syalfa menatap rambut yang berkibar di atas rawa, lalu salah satunya membelit leher syalfa.
kedua tangan syalfa menahan beliatan di lehernya yang perlahan mencekiknya.
" UHUK.. ka.. bangun, aah tolong" kata syalfa menatap nendra yang masih terkulai di tanah.
nendra berusaha bangkit lalu meraih pisau lipat yang sebelumnya sempat terlempar . kakinya tertatih mendekat ke arah syalfa. tangan kirinya meraih pinggang syalfa erat, lalu tangannya melempar kuat pisau itu ke arah kepala berambut hitam.
JLEB
lemparannya tepat mengenai kepala itu, terdengar suara erangan, beliatan pada leher dan tubuh syalfa terlepas dan kembali masuk ke rawa.
" UHUK..UHUK"
syalfa terbatuk batuk, sambil tangannya menepuk nepuk dadanya, di hirup nya dalam dalam oksigen di sekitanya.
" kamu tidak apa-apa?" tanya nendra khawatir, terlihat jelas bekas cekikan melingkar di leher putih syalfa.
syalfa mengangguk tanpa bersuara, syalfa belum sanggup untuk berbicara, lehernya terasa perih dan panas.
saat nendra sibuk mengkhawatirkan syalfa, kembali sebuah rambut hitam pekat melilit tubuh nendra, kali ini di sertai tarikan kuat.
SREEK
BRUAK
tubuh nya terjatuh dan terseret dengan cepat, syalfa terkejut tangannya reflek meraih tangan nendra, syalfa menarik kedua tangan nendra . rasa panas di lehernya tak di hiraukannya lagi.
tarikan itu semakin kuat membaut tangan keduanya perlahan terlepas.
" NENDRA" teriak syalfa
tubuh nendra tertarik hingga masuk ke dalam rawa, syalfa berlari hendak menceburkan tubuhnya masuk menyusul nendra, namun sekelebat sosok putih muncul lebih dulu masuk ke dalam rawa.
syalfa berdiri menyaksikan pertarungan siluman rubah yang berhasil menarik rambut panjang itu keluar rawa.
keduanya bertarung dengan sengit, syalfa kembali teringat nendra membuatnya buru- buru mencari keberadaan nendra. ternyata tubuh nendra sudah berada di pinggir rawa. syalfa memeriksa keadaan nendra. dilihatnya bekas cekikan yang sama seperti miliknya, pergelangan tangannya juga membiru.
" Ka..!"
" Ka nendra.."
syalfa berulang kali menepuk dan menggoyang-goyangkan bahu nendra agar kembali sadar ,namun nendra tetap saja diam dengan kedua matanya yang terpejam.
syalfa memegang pergelangan tangan nendra, mengecek denyut nadi nya lalu, tangannya beralih ke leher memastikan kembali .
syalfa menekan- nekan dada nendra tapi tetap saja, masih sama..nendra tak menunjukan gejala apapun.
kali ini syalfa menengadahkan dagu nendra agar sedikit lebih tinggi, tangannya menjepit hidung nendra , syalfa memberinya nafas buatan sebanyak dua kali di lanjutkan menekan- nekan dada nendra kembali.
hingga suara nendra yang terbatuk dan mengeluarkan air membuatnya lega.
" Ka.. kau baik-baik saja" tanya syalfa sambil membantu nendra bersender ke pohon besar.
" iya, aku lebih baik sekarang, terimakasih" kata nendra tersenyum menatap lemas syalfa.
BRAK!!!!