
galen,deon,rania dan mail diam mengamati drama yang sedang berlangsung di ruang kesehatan kampus, ike berada naik ke brankar dimana syalfa sedang duduk dengan tubuh bersandar ke bantal yang mengganjal punggungnya, tangannya yang terluka sudah di obati dan di perban beberapa saat yang lalu. ike menatap tajam ke arah nendra, seakan itu adalah sebuah ancaman untuknya, matanya menelisik manusia jadi- jadian yang sedang berdiri acuh menatapnya.
" jangan berani menenkat!! pergi! dan cari saja makananmu di hutan sana!" usir ike masih menatap nendra penuh waspada.
" apa maksudmu?" tanya nendra yang bingung dengan ucapan gadis aneh di depannya itu.
" kau pasti ingin memakan sahabatku syalfa kan? ck, dagingnya tak enak dan beracun. jadi cari makanan di hutan saja, disana ada banyak hewan yang bisa kamu makan" jelas ike.
" ck, omong kosong, apa kau fikir aku hewan buas atau siluman? hah, gadis bodoh!" ucap nendra kesal karena sudah tahu arah obrolan mereka sekarang.
" bukankah kau ini manusia jadi- jadian?" tanya ike memastikan.
" kau lihat saja, apa mungkin aku ini sebangsa monster atau siluman gadis aneh?" tanya balik nendra ketus.
ike menatap tubuh nendra kembali dari atas sampai bawah, lalu ike menoleh menatap dion yang sedang menatap ke arah lain.
ike langsung turun dari brankar setelah tau kekhawatirannya kini hanya sebuah salah paham.
" emm, kaa.. aku minta maaf, aku hanya ingin melindungi sahabatku" kata ike menatap nendra dengan tatapan tak enak.
" hmm" nendra menjawab dengan deheman, lalu melangkah mendekat ke arah syalfa.
ike menyingkir, saat nendra melewati dirinya hendak mendekati syalfa kembali.
" jangan di lihat, biarkan saja mereka" kata nendra yang melihat syalfa menatap pojok ruangan, disana ada sosok wanita berbaju putih menggendong bayi berlumuran darah.
" kau bisa melihatnya juga?" tanya syalfa menatap nendra setelah sosok itu menghilang.
" iya, aku bisa melihat mereka sama sepertimu" jawab nendra." beristirahatlah dulu, jika sudah membaik kamu bisa langsung pulang, aku akan pergi , ada urusan yang ingin aku selesaikan segera" kata nendra mengelus rambut syalfa lembut.
" kamu baik- baik saja? apa luka itu dalam?" tanya rania.
" aku baik, tak perlu khawatir. luka ini hanya luka ringan bagiku" jawab syalfa.
" sebaiknya kita pulang saja, kau harus beristirahat lebih banyak kali ini" kata rania.
" iya" jawab syalfa singkat , lalu beranjak turun dari brankar dan keluar dari ruang kesehatan bersama sahabatnya.
setelah kepergian syalfa, sosok wanita yang menggendong janin itu menatap kepergian mereka, ada senyum misterius dari bibirnya yang terdapat darah hitam di sana, lalu kembali menghilang.
syalfa membaringkan tubuhnya di ranjang , tadi rania sempat pamit untuk turun ke lantai dasar guna memantau toko rotinya setelah mengantar syalfa sampai di kamarnya.
"aaaaaah" teriak syalfa merasakan sakit di tangannya, tapi bukan tangan yang terluka melainkan di bagian yang lain.
syalfa menahan rasa sakit yang teramat, rasa panas bercampur perih seperti terkena benda tajam yang di bakar terlebih dulu lalu mengores tangannya.
bulir keringat membasahi wajahnya, pandangannya mulai memburam ,syalfa menatap tangannya yang kini terdapat tanda berwarna biru lalu kemudian kesadarannya hilang sepenuhnya.
****
di sebuah kamar mewah dan megah, seorang lelaki tampan mengerang menahan sakit di dadanya, rasa panas seperti terbakar dengan tusukan benda tajam seakan menghujam dadanya, membuat pandanganya kini tertuju pada sebuah tanda berwarna biru yang kemudian muncul di dada sebelah kiri.
nendra masih berusaha menahan rasa sakit itu, tangannya terkepal guna menahan rasa yang bergejolak, hingga rasa sakit itu perlahan memudar dan hilang.
nendra menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang, masih menatap tanda berwarna biru di dada bidangnya yang tak tertutup kain.
" tanda apa ini? kenapa tiba- tiba muncul di tubuhku ?" tanyanya dengan nafas yang tersengal, tubuhnya kini terasa lemas untung saja, tubuhnya cukup kuat menahan rasa sakit dan panas yang muncul secara tiba- tiba itu sehingga tidak sampai pingsan.