
Rania terus menangis pandangannya berubah menjadi tatapan yang kosong.
"Mom" panggil Deon lirih sambil memeluk tubuh lemas istrinya.
terasa sekali tubuh Rania bergetar , di sisi lain juga terdengar suara-suara anak-anak yang juga menangis pilu.bahkan Daffin dan Liam harus memeluk tubuh Alen yang terus memberontak ingin di lepaskan. gadis kecil itu memancarkan kemarahan dan juga kesedihan secara bersamaan.
Semua orang menunduk sedih melihat pemandangan yang sangat menyayat hati. mungkin, jika itu orang yang sudah dewasa rasanya tak menyakitkan ini.tapi ini hanyalah seorang anak gadis berusia 10 tahun. sungguh iblis yang tega membunuhnya, bahkan dengan cara yang seperti itu. memakan setiap daging gadis itu, bahkan suara gemerutuk tulang yang di jilat dan digigit layaknya memakan tulang ayam.
mereka bahkan merasa ngilu, sekaligus tak tega. apa lagi Rania sang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya. bagaimana perasaan wanita itu?.
"Aku bunuh kau!!!"Teriak Rania yang tiba-tiba bangkit dan mendorong tubuh Deon yang tengah memeluknya.
"Sayang" ucap Deon yang terjatuh di tanah, namun pandangannya menatap Rania yang tak meliriknya sedikitpun.
Rania melangkah dengan Cepat dan berlari sekencang mungkin, lalu tangannya dengan cepat meraih senjata dari tangan Daffin yang kebetulan di tangan kirinya masih memegang pisau.
Tangannya langsung mengudara hendak membelah pembatas itu.
namun tubuhnya justru terpental hingga 5 meter, bahkan bahu dan tangannya terasa begitu panas.
Rania terbatuk lalu di lihatnya telapak tangannya yang berlubang, bahkan terlihat daging di dalamnya.
Rania meringis dan perlahan bangkit.
"Rania"
"Mommy"
terdengar teriakan dari arah sana, seperti mengkhawatirkan dirinya, tapi Rania kali ini seperti bukan dirinya. teriakan itu seperti angin yang hanya lewat di pendengarannya. tatapannya hanya satu, yaitu sosok ular iblis , ya iblis? dia harus membunuh iblis itu.
Kaki nya melangkah sedikit demi sedikit, pandangannya hanya satu titik di sana, sosok menjijikan itu masih menikmati tubuh Anaknya, anak yang di lahirkannya dengan susah payah, anak yang di jaganya dengan baik. perlahan kenangan saat melahirkan , membesarkan dan saat saat dirinya tengah tertawa bersama Alin berputar di otaknya.seperti sebuah film yang menayangkan setiap adegan, perlahan air matanya mengalir membasahi pipi.
WUuUuuz
Sebuah angin cukup besar datang dari arah belakang Rania.
"MoMmY"
"MoMmY"
Teriakan-teriakan itu bahkan tak juga membaut Rania menoleh, hingga sebuah usapan lembut di pipi kanan nya membuat wanita itu berhenti sejenak dan menoleh.
Terlihat lelaki tampan dengan wujudnya yang separuh Ular tengah menatapnya dengan sorot mata yang lembut. tatapannya beralih pada ke empat anaknya yang berwujud serupa.
Rania langsung menangis kencang sambil menunjuk arah dimana sosok iblis berwujud ular berada.
Arav langsung menoleh dimana sosok ular yang memiliki wujud sama seperti dirinya telah menjilati sebuah tulang membuat kedua mata itu memerah marah. tangannya terkepal kuat dan dengan gerakan cepat ia langsung menerobos dinding yang sedari tadi tak ada satu pun yang bisa menerobosnya.
PYAR
terdengar pecahan seperti pecahan sebuah beling, namun itu bukan lah sebuah barang yang pecah. tapi suara itu akibat dari Arav yang berhasil memecah pembatas itu.
"KAAU!!! "
Arav berteriak kencang sambil meraih ekor ular siluman yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri .
Arav membanting keras tubuh ibunya dan memutar-mutar tubuh itu dengan terus memegang ekornya.
"ARAV! LEPAS!!"
Arav tak menggubris teriakan ibunya, amarahnya sudah sampai melampaui batas. sudah cukup dirinya menuruti kemauan sang ibu dan terus mengalah. tapi, kali ini kelakuan ibunya sudah benar-bnar kelewatan.
"Aku akan membunuhmu! aku tidak peduli kau itu siapa bagiku, mulai saat ini ibuku sudah mati! dan aku yang akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri" .
HIAKkkkkkkk
CRASS
Arav menusuk perut ibunya dengan senjatanya yang tersembunyi di balik telapak tangannya.
HUEK
.
"A ra av " ucap ibu Arav lirih sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Jangan memanggil namaku dengan mulut kotormu itu!"
CRAS
CRAS
JLEB
Kali ini Aras langsung memenggal leher ibunya, sampai kepala itu menggelinding tepat di depan kaki Rania dan ke tujuh putranya.
Rania langsung menginjak kepala itu berulang kali, sampai kaki Rania berlumuran darah.
Sedangkan Arav terus memotong -motong tubuh ibunya dengan tatapan penuh Amarah.
setelah puas, Arav melihat tulang-tulang putrinya sudah berceceran dimana-mata.tubuhnya lemas dan ambruk seketika.
"Maaf kan ayah nak, Maaf.. ayah datang terlambat" sesalnya sambil menunduk.
"AYah"
panggil anak-anaknya mendekat dan mengelus punggung Arav.
"Biar aku membawa sisa tubuh adik ayah" ucap Riley.
Arav mengangguk dan membiarkan putrinya mengurus tulang belulang adiknya.
Riley langsung menghempaskan tangannya dan menghilang dari sana beserta sisa tubuh dari Alin.
"Aku yang akan membuang tubuh itu Ayah" ucap Rey sambil menatap tubuh neneknya yang sudah tak berbentuk itu.
lagi-lagi Arav hanya mengangguk, dan Rey juga langsung mengibaskan tangannya hingga kobaran api langsung melahap tubuh ibu Arav hingga menjadi abu seketika.