
Di sebuah Kamar rumah sakit, seorang Gadis muda tengah terlelap . Setelah kemarin menjalani Operasi karena kecelakaan. Disisinya Seorang Pria masih setia menunggu Gadis muda itu dengan wajah lelah karena dari kemarin kurang tidur dan istirahat, fikirannya berkecamuk , perasaan bersalah tengah menghantuinya. hatinya resah memikirkan perasaan seorang wanita yang sudah ia sakiti, walaupun dia tidak mencintainya. tapi dia sudah berjanji untuk menikahinya.
"Rania, Maafkan aku"
Flashback
Malam sebelum acara pernikahan, Galen dan ibu nya terus bersiteru. lebih tepatnya sang ibu yang masih tidak setuju dengan Galen yang menikahi Wanita hamil itu.
"Kalau kamu tidak mau membatalkannya, Maka mama akan bunuh diri!" ancamnya.
"Mah, tolong ngertiin Galen Mah! dia itu sahabat aku,-"
"Pokoknya mama Ga setuju, Awas aja kalau mama tau kamu nekat buat nemuin wanita itu lagi, apa lagi sampai menikahinya! "
Braaaakkkk
Mamah Galen menutup pintu kamar itu dengan keras.
Galen menghembuskan nafasnya berat, ia benar-benar bingung. ibu nya selalu seperti ini jika keinginannya tidak ia turuti, pasti akan melakukan apapun.
Keesokan paginya Galen sudah siap dengan pakian Rapih, ia sudah memikirkannya berulang kali. Rania adalah wanita yang baik dan tangguh, dari awal Galen mengenalnya, ia sudah kagum dengan Gadis itu. walau pun bukan cinta, tapi Galen sudah berjanji untuk membantu sahabatnya itu.
Galen melihat jam di tangannya menunjukan pukul 4 pagi, ia sudah berniat untuk kabur dari rumah pagi-pagi buta dan segera pergi ke tempat Rania.
Galen berjalan dengan perlahan keluar dari kamarnya. pintu nya sengaja tidak ia kunci agar lebih cepet pikirnya, langkahnya perlahan melewati sederet kursi-kursi yang terjejer rapi di ruang tamu. untung saja, kamarnya berada di lantai satu. beberapa hari yang lalu, ia sudah pindah ke lantai satu, karena di lantai atas nanti akan di jadi kan kamar sang Kakak yang akan segera pulang dari luar negri karena mau membantu sang papah mengurus perusahaan disini.
Setelah berhasil keluar dari rumah, Galen bergegas menyalakan mobilnya.
"Aden mau kemana pagi- pagi begini?" tanya pak satpam sambil menguap, karena terbangun mendengar suara deru mobil Galen.
"Ada urusan, buka gerbangnya Mang".
"Oh, iya Den". Pak satpam segera memecet tombol otomatis untuk membuka pintu Gerbang rumah.
Setelah pintu Gerbang terbuka, Galen segera menjalankan mobil keluar dari Rumah.
Galen bernafas dengan lega setelah Mobilnya sudah berlalu dari komplek rumahnya. suasana memang masih sangat pagi, awan gelap masih menghiasi langit, lampu-lampu di sepanjang jalan masih menyala terang.
Galen mngendarai mobil dengan santai, ia tidak ingin buru-buru saat ini. Apalagi Rania pasti dirumah juga masih tidur.
Di persimpangan jalan Galen hampir saja menabrak sebuah motor yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
Ia mengumpat sang pengendara motor yang ugal-ugalan.
Namun, tak lama terdengar suara benturan yang cukup keras.
Bruaaaak
Para pedang kaki lima yang masih buka di sekitar sana berlari ke arah suara. kemudian ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya, Galen membuka pintu kaca kemudi , sambil melihat seorang bapak bapak yang sepertinya sedang panik .
"Ada Apa pak?" tanya nya.
"Tolong Mas, ada kecelakaan, Seorang pengendara motor menabrak Wanita pejalan kaki. apa mas bisa membantu untuk membawanya ke rumah sakit terdekat? tanya nya.
"Iya pak" jawab Galen yang merasa kasihan . ini masih Sangat pagi, pasti akan sulit mendapat bantuan.
Dari arah kerumunan seorang lelaki menggendong wanita yang sudah tidak sadarkan diri. bajunya sudah berlumuran darah.
Galen menoleh untuk melihat wajah wanita yang sudah terbaring di kursi belakang mobilnya.
Matanya membulat saat mengenali siapa korban tabrak lari itu.
"Mita!?"
"Aden mengenal Gadis ini?" tanya istri pemilik warung .
"Iya bu, dia teman lama saya" .
Galen langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit. setelah sekian lama tidak bertemu. kini ia bertemu dengan sang mantan kekasih yang dulu sangat di cintai nya, mungkin saat ini juga masih ada rasa untuk wanita itu. tapi ia malah di pertemukan dengan keadaan gadis itu yang seperti ini.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 15 menit, Galen segera membuka pintu penumpang dan mengendong tubuh Mita ke atas brankar yang sudah di sediakan pihak rumah sakit.Ternyata para petugas di sana sangat bagus dan bekerja cepat.
Mita langsung masuk ke ruang ICU dan mendapat pertolongan pertama.
Galen melankah mendekat ke istri pemilik warung dan memberikan beberapa uang untuk ucapan terimakasih dan ongkos pulang.
Awalnya ibu itu menolak, namun karena Galen memaksa, sehingga dia pun mau menerima uang dari Galen, dan Langsung berpamitan pulang.
Gelen duduk termenung memandangi pintu ruang ICU . dia sangat khawatir dengan kondisi Mita.
1 jam tengah berlalu, Galen masih setia menunggu bahkan ia tidak beranjak sama sekali dari tempat duduknya.
"Semoga kamu baik-baik saja Mit" Gumamnya.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, Galen segera beranjak mendekat ke Dokter .
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Galen khawatir.
"Kami sudah membersihkan semua luka dan menjahit beberapa luka di perutnya. tapi luka di kepalanya cukup parah. ada gumpalan darah di sana, jadi kami sarankan untuk segera melakukan operasi, agar keadaan pasien segera membaik".
"Lakukan yang terbaik dok".
"Baik, tapi Dokter bedah kami kebetulan sedang berada di perjalanan pulang dari luar kota, jadi operasi bisa di lakukan nanti malam".
"Baik dok".
"Apa anda keluarga pasien? kami membutuhkan tanda tangan keluarga pasien, atas persetujuan untuk tindakan operasi".
"Iya dok, saya keluarganya".
"Kalau begitu Silahkan Tunggu sebentar di sini, nanti akan ada suster yang datang untuk memberikan surat persetujuannya".
Galen mengangguk dan mempersilahkan Dokter itu untuk melanjutkan tugasnya.
"Pak, ini mohon Tanda tangan disini" Kata suster yang tiba -tiba datang mendekat. membuat lamunan Galen buyar seketika.
Galen segera meraih surat dan pulpen, ia membumbuhkan tanda tangannya di sana dan mengembalikan surat itu ke suster.
Setelah suster pergi, Galen duduk kembali di kursi tunggu.
Flashback Off