
Galen membawa Rania ke sebuah ruangan yang untungnya hari ini ruangan itu sedang tidak di pergunakan untuk kegiatan tertentu di kampus, yaitu Ruangan Musik.
"Ka, maksud Ka Galen tadi itu apa?" Rania melepaskan genggamannya dari tangan Galen.
Syalfa menyusul keduanya untuk masuk, dia juga merasa terkejut tadi di kantin, disusul Nendra yang ikut masuk.
Syalfa mengedarkan pandangannya saat merasa sedikit aneh , dan benar saja. di dekat piano ada seorang gadis berpakaian serba putih sedang duduk di depan piano.pandangannya menunduk , Syalfa melirik Rania yang masih fokus pada Ka Galen.
"Maaf Rania, Aku benar-benar sudah tidak tahan denger mereka terus menghinamu seperti tadi".
"Tapi Ka, bukan dengan cara seperti itu. kakak bilang mau menikahi aku, kakak juga mengaku ayah dari anak yang aku kandung. Ka, kalau mereka tahu yang sebenarnya, masalah ini bukannya semakin membaik, malah semakin runyam, aku makasih banget atas kebaikan Ka Galen karena sudah mau melindungi aku, tapi kakak juga harus mikirin diri kakak sendiri, Nama baik keluarga kakak jadi taruhannya juga".
"Aku tahu itu Rania, Tapi aku sudah mengambil keputusan, aku akan menikahimu dalam waktu dekat. Tolong! jangan menolakku" Galen memegang salah satu tangan Rania .
"Tapi Ka, apa kata kedua orang tua kakak? kakak juga ga cinta sama aku, gimana mungkin kita menikah tanpa saling cinta?".
" Rasa itu akan hadir karena terbiasa Rania, suatu saat kita juga pasti bisa seperti itu. percaya lah, aku hanya ingin membantu sahabatku, setidaknya kita harus menikah secepatnya sampai anak kamu lahir, jika sampai saat itu kamu ingin kita berpisah, aku tidak masalah dan nanti aku juga akan memberitahu kedua orang tuaku segera, kamu jangan berfikir macam-macam".
Rania menatap kedua bola mata Galen yang kini juga menatapnya.
Nendra yang tadinya penasaran dengan ucapan Sahabatnya tadi, kini malah fokusnya selalu tertuju pada gerak gerik Syalfa yang menurutnya aneh.
Syalfa yang dilihatnya sedari tadi uring uringan dengan keadaan Rania, sampai menyusul ke tempat ini. kini wanita itu malah selalu melirik ke arah piano, ada apa disana? Nendra juga melihat ke arah yang di tatap Syalfa , namun tidak ada yang aneh menurutnya.
"Ada apa?" Nendra menepuk pundak Syalfa pelan, membuat nya menoleh .
bukannya menjawabnya, Syalfa malah menggeleng, tapi matanya kembali melirik ke satu tempat.Dan itu membuat Nendra paham. Ada sosok lagi yang muncul, dan sosok itu berada di sana, di tempat yang Syalfa lirik.
Nendra diam, dia hanya perlu memperhatikan Syalfa saja.
"Bagaimana? hanya ini jalan satu-satunya. percaya padaku Rania" Galen kembali meyakinkan Rania, hingga bibirnya perlahan tertarik ke atas, saat melihat sebuah anggukan dari Rania yang berarti Rania menyetujuainya.
"Terimakasih" Galen mengelus pelan Rambut Rania" Nanti malam Aku jemput, kita ketemu kedua orang tuaku".
"Tapi, kenapa secepat itu?"
"Harus Rania, atau berita di luaran sana nnti akan semakin melebar, di tambah lagi kejadian di kantin tadi".
"Baiklah".
"Kalian, ada disini juga?" Galen baru menyadari di sana ada sahabatnya Nendra dan juga Syalfa.
"Iya, sudah sedari tadi" Jawab santai Nendra, matanya masih mengamati Syalfa yang sudah mulai mendekat ke arah piano.
"Syalfa, apa aku boleh minta tolong?".
Syalfa yang hendak mendekat ke arah piano jadi terhenti saat mendengar seseorang menyebutkan namanya.Syalfa berbalik menatap Galen yang mendekat ke arahnya.
"Tolong temani Rania mencari sebuah gaun, aku akan mengajaknya makan malam dengan kedua orang tuaku" pintanya.
"Oh, baiklah. aku siap, apapun untuk sahabatku" Syalfa menjawab dengan antusias.
"Kalau begitu, aku serahkan Rania hari ini padamu, buat dia terlihat lebih cantik malam ini. aku tahu kamu sahabat Rania yang terbaik, aku pergi dulu ada urusan yang harus aku selesaikan" pamit Galen .
"Baiklah" kata Syalfa.
"Hati-hati bro" timpal Nendra.
"Kita bertemu nanti malam, aku tinggal dulu" pamitnya pada Rania.
"Ya, hati- hati ka" jawab Rania.
Setelah Galen pergi , Syalfa hendak kembali mendekat ke arah piano, namun Nendra segera mencegahnya.
"Ayo kita pergi, sebentar lagi akan ada Kelas bukan?" Nendra menarik tangan Syalfa dan juga Rania untuk meninggalkan tempat yang menurutnya sedikit angker, karena ada sosok di dalamnya.
Rania merasa heran dengan Nendra yang seperti terburu-buru untuk pergi dari sana. tapi Rania memilih untuk diam saja, mungkin memang Nendra juga ada urusan dengan teman-temannya.
"Rania, kamu di panggil untuk keruangan Rektor sekarang" kata salah satu mahasiswi berkacamata dengan sopan, kemudian siswi itu pergi setelah mendapatkan jawaban Rania.
"aku pergi dulu ya, Kalian duluan aja" Rania melambaikan tangannya bergegas ke ruangan Rektor.
"Apa yang kamu lihat tadi?" tanya Nendra yang masih penasaran, Nendra melihat ke sekeliling yang nampak tak begitu Ramai, ada beberapa teman-teman mereka, tapi jaraknya cukup jauh, dan mereka tidak akan bisa mendengarkan perbincangan mereka.
"Seorang gadis , tapi aku tidak bisa melihat wajahnya. dia tadi men.." Syalfa menghentikan ucapannya dan langsung menarik tangan Nendra saat melihat sosok yang dilihatnya di ruang musik tengah berdiri tidak jauh dari mereka, pandangannya masih menunduk, tapi itu sukses membuat Syalfa tidak nyaman. apa lagi sebisa mungkin mereka harus menghindari makhluk tak kasat mata, sesuai dengan ucapan Karina tempo hari.