My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Menceritakan



Mobil yang di Di kemudikan Nendra memasuki Halaman luas rumah orang tua Deon.


Semua orang segera bergegas keluar dari Mobil. Nendra membantu Mengangkat tubuh Deon di bantu oleh papa Doni.


Mama Anggi juga berjalan mengikuti kedua Lelaki yang membawa anaknya, namun kakinya berhenti melangkah saat merasakan kedua perempuan yang sedari tadi bersamanya justru tidak ikut di belakangnya.


Mama Anggi berbalik melihat Syalfa dan Rania kedua wanita itu justru sedang berdiri di depan Gerbang rumahnya. sedangkan bapak penjaga gerbang berdiri tak jauh dari mereka.


Mamah Anggi langsung berjalan mendekat."Ada apa? kenapa berdiri disini? Ayo masuk" ajaknya.


"Sebentar mah, ada yang harus kami lakukan terlebih dulu" jawab Rania sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu mamah masuk duluan ya, mau buat sarapan buat kalian, jangan lama-lama di luar rumah".


"Iya mah"


"Iya Tante"


Syalfa mengeluarkan sebuah kalung yang tersembunyi di balik bajunya.sedangkan Rania mengeluarkan sebuah cincin pemberian Arav dulu.


Keduanya mulai membagi tugasnya masing-masing. Dengan mengelilingi pagar rumah itu dengan kekuatan dari liontin dan permata dari masing-masing .


Pak satpam yang melihatnya cukup terkejut saat melihat sebuah cahaya yang terpancar dari kedua nya.namun, dia memilih untuk diam.


Setelah dirasa cukup Syalfa dan Rania berjalan mendekati bapak satpam.


"Pak, apapun yang terjadi, jangan pernah bapak buka pagar ini. jika ada yang bertamu bapak lapor terlebih dulu pada Kami" ucap Rania.


"Iya Non saya mengerti"


"Pak saya akan membuat bapak sebuah pilihan. bapak mau mundur dari pekerjaan ini apa masih mau lanjut? jujur pak, ini taruhannya nyawa, karena percaya atau tidak percaya. ada sesuatu yang sedang mengincar nyawa kami, tapi bukan manusia" jelas Syalfa.


"Maksudnya Non?"


"Ceritanya panjang pak, intinya nyawa kami dalam bahaya, dan lawan kami bukanlah manusia. bapak masih ada kesempatan untuk pergi sebelum semua terlambat, bagaimana?".


"Sebenarnya bapak masih bingung non, antara percaya dan tidak. tapi kalau menyangkut nyawa.saya memilih mundur non,masih ada anak dan istri di rumah yang perlu di kasih makan".


"Ya, saya tahu pak. makanya saya memberi pilihan ke bapak sebelum terlambat".


"Syalfa, aku mulai merasakan auranya" kata Rania mulai panik.


"Pak, sekarang saatnya. bapak pergi dari sini sejauh mungkin" kata Syalfa .


Walau pun masih bingung, tapi pak satpam memilih untuk menurut, ia sudah melihat kedua wanita itu mempunyai sesuatu yang bisa mengeluarkan cahaya yang tak biasa, apa lagi pak satpam asli dari kampung, tentu tahu kedua benda itu bukanlah benda biasa.


Syalfa membuka pintu Gerbang sedikit agar pak satpam bisa keluar dengan Motornya.


"Lewat Arah kiri Pak. apapun yang terjadi jangan menoleh ke belakang sampai rumah ini tak terlihat baru bapak boleh untuk menoleh, tapi jangan berhenti" kata Syalfa memperingati.


"Cepat!" pekik Rania.


Pak satpam langsung mengendarai sepeda motornya ke arah Kiri dan Syalfa juga langsung menutup pintu pagar dan menguncinya.


"Ayo!!"


Keduanya berlari memasuki rumah megah itu. di ruang tamu sudah ada Pak Doni,Nendra ,Mama Anggi dan Deon yang di baringkan di sofa atas perintah Nendra.


"Coba kalian jelaskan!" perintah papa Doni tegas.


Syalfa duduk di dekat Nendra saat suaminya itu menepuk sofa kosong di sampingnya.


Rania memilih untuk duduk di sebelah Deon saat melihat mama Anggi yang beranjak dan memilih pindah duduk di dekat papa Doni.


Syalfa mulai menjelaskan semua masa lalu mereka sampai tragedi masuk ke dunia lain dan beberapa hari setelahnya. Dia tidak bisa berbohong, ini juga demi keselamatan kedua orang tua Deon.


"APA!! bagaimana mungkin! di dunia modern seperti sekarang masih ada hal seperti itu?".ucap papa Dion sedikit tak percaya.


"Jadi Saat ini kamu sedang hamil? dan itu anak Pangeran Ular itu?" tanya Mama Anggi shock.


"Iya Mah" jawab Rania tak enak hati.


"Lalu kita harus bagaimana sekarang?" tanya Papa Dion yang memang tidak tahu menahu cara menghadapi makhluk yang di ceritakan Syalfa.


"Tidak ada, kita hanya bisa bersembunyi dan bertahan. Dahulu mungkin kami akan mati-matian untuk bertahan dan melawan. tapi saat ini ada janin yang harus kami lindungi".


"Bahkan kami tidak yakin masih sekuat dulu" lanjut Rania.


"Lalu sampai kapan? akan seperti ini?" tanya Mama Anggi yang mulai cemas.


" Sampai Anak Kami lahir. lebih tepatnya Anak Syalfa dan Nendra" jawab Rania .


"APA!!" pekik Om Doni dan Tante Anggi.


"Kalian bahkan baru menikah kemarin" . ucap Om Doni lagi.