
DAG
DIG
DUG
Jantung Rania berdegub dengan sangat kencang, bahkan tangannya sampai bergetar mendengar semua penjelasan Syalfa.
"Aku Hamil?!" Rania menggigit bibir bawahnya guna menahan sesuatu yang hendak keluar dari pelupuk matanya.
"Ya, kamu HAMIL!!" Syalfa menekan kan kata hamil dengan suara sedikit menegas." Coba jelaskan padaku Rania, bagaimana ini bisa terjadi? dengan siapa? kapan?" Syalfa memberondong Rania dengan bermacam-macam pertanyaan.
GLEK
Rania menelan salivanya gugup, "Aku aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa hamil" .
"Omong kosong! jangan kamu tutup-tutupi lagi. siapa baji**an itu katakan!!" kali ini syalfa benar-benar geram dengan jawaban Rania.
"Ta tappi aku benar-benar tidak tahu apapun syalfa, aku tidak ingat apapun" .
"Sudah lah syalfa, mungkin yang di katakan Rania memang benar, dia tidak mengingatnya. beri dia waktu, siapa tahu dengan itu bisa membantunya memulihkan kembali ingatannya yang terlupa" kata Deon menengahi, merasa tak tega melihat Rania yang sudah pucat pasi.
"Tunggu!! bukankah kita baru saja beberapa minggu keluar dari dunia lain. Dan , jika di hitung dari waktu disana, kita berada di dunia mereka cukup lama bukan? apa jangan - jangan?!" Syalfa menatap Rania penuh selidik.
Begitu juga dengan Deon, Nendra dan juga Galen.
"Semoga apa yang aku duga ini salah Rania" Syalfa menatap Rania yang masih diam.
"Jawab Rania" Nendra yang sedari tadi diam juga kini angkat bicara, karena merasa kesal dengan situasi yang tak kunjung ada titik temu.
"Aku benar-benar tidak tahu apapun, aku juga tidak mengingat jika aku melakukan .." Rania tidak melanjutkan perkataannya, kepalanya menunduk .
Syalfa menghela nafasnya guna menetralkan sesuatu yang sedari tadi meluap-luap ingin di lampiaskan.
Setelah dirasa dirinya sudah tak emosi lagi, Dengan lembut tangannya meraih tubuh Rania ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku ,karena sudah membuatmu tertekan. aku hanya khawatir dengan masa depanmu nanti, selain sebagai sahabat, kamu juga seperti saudara buatku Rania".
Rania menatap Wajah Syalfa yang merasa bersalah padanya. dia tersenyum.
"Terimakasih, Aku memang tidak mengingat apapun Syalfa, sungguh aku tidak berbohong apapun padamu. Tapi sebelum aku sadar , aku sempat bermimpi bertemu dengan lelaki di sungai. dia mengaku bernama Arav .."
"Lalu?" tanya Syalfa yang penasaran, dia yakin itu bukanlah sebuah mimpi biasa.
"Dia Pangeran ular dan mengaku sebagai Suamiku. kami menikah saat aku berada di dunianya. Aku juga sempat menggendong seorang bayi. dia berkata mereka adalah anak-anakku dan Arav, dan Arav bilang aku harus menjaga mereka" .
"Apa?!"
Syalfa, Nendra, Deon dan Galen serempak melotot tak percaya.
"Maksud kata mereka itu apa? apa kamu akan memiliki anak lebih dari satu ?" kali ini Nendra juga ikut penasaran.
"Entah berapa aku tidak menghitungnya, tapi mungkin ada tujuh. seorang bayi tiga dan yang lainnya ular" jawab lirih Rania,Tapi yang aku lihat hanya ada dua bayi saja.aku sempat bertanya pada Arav ,kemana bayi yang satunya dan mengapa aku tidak mengingat kebersamaan kami saat bertemu dan kemudian menikah? dia tidak bisa menjawabnya, dia bilang suatu saat nanti aku akan mengetahunya sendiri.
Lagi-lagi jawaban Rania membuat teman-temannya serasa ingin pingsan di tempat. semua orang terkejut dengan semua cerita Rania yang menurutnya tak masuk akal, tapi itu lah yang terjadi, percaya tak percaya nyatanya mereka juga sudah pernah mengalami sesuatu yang di luar nalar manusia.
Deeetttt
drrret
Suara deringan ponsel membuat fikiran mereka kembali ke dunia nyata. ternyata suara ponsel Milik Deon.
"Gawat-Gawat!!" kali ini Deon berdiri dengan tatapan yang tak lepas dari ponselnya.
"Ada apa, kau mengagetkanku saja" Syalfa mengelus dadanya yang berulang kali terkejut .bisa mati muda jika ini berlanjut pikirnya.
"Lihat! semua mahasiswa kampus sedang membicarakan kehamilan Rania. bagaimana mereka bisa tahu? bahkan foto Rania yang pingsan dan di gendong Galen juga ada disini. dan juga foto Rania yang terbaring diruang kesehatan kampus " Deon menjelaskan dengan menggebu-gebu.
"Sia*l kita terlambat" Syalfa kembali mengumpat.
"Biar aku hubungi Papa , untuk meminta bantuannya" Deon dengan cepat melangkah keluar kamar Rania .
"Sekarang bagaimana?" tanya Rania sedih.
"Ini biar menjadi urusanku dengan yang lain" Nendra juga beranjak berjalan menyusul Deon yang sudah hilang entah kemana.
"Bagaimana menurutmu Ka Galen, aku kali ini benar-benar sedang tidak bisa berfikir apapun" Syalfa terduduk dengan lemas di dekat Rania yang kini sudah memejamkan kedua matanya.
"Menikah!!" kata Galen sedikit Ragu.
"Maksud ka Galen?".
"Rania harus menikah secepatnya, dan calon suaminya harus mengakui anak yang di kandung Rania adalah Anaknya. hanya itu jalan satu-satunya" .
Rania yang belum tidur langsung membuka matanya lebar mendengar usulan Galen.
"Itu mustahil, Rania selama ini tidak dekat dengan siapapun selain kita" Syalfa menjawab dengan lesu.
"Apa tidak ada cara lain, selain menikah?" tanya Syalfa.
"Itu jalan yang terbaik , selain memperbaiki nama Rania. ini juga membantu agar anak yang Rania kandung mendapatkan hak nya dan tidak ada yang menjulukinya dengan anak har*m" jelas Galen."Tapi ada juga cara lain.." lanjutnya sedikit ragu.
"Apa ka Gal?" tanya Rania yang kini beranjak duduk.
"Gugurkan kandunganmu dan pindah dari kota ini, lanjutkan kehidupanmu di tempat lain, maka tidak akan ada yang tahu dengan masa lalumu".
"Tidak!! aku tidak mau membunuhnya" Rania menggelengkan kepalanya kuat.