
nendra dan syalfa melewati rawa dengan bantuan perahu kecil yang terbuat dari potongan kayu dan di ikat dengan ilalang kering, sedangkan sampannya terbuat dari batang kayu yang terbengkalai .nendra mengayuh sampan kayu dengan perlahan, mata keduanya menjelajah kesana kemari .
syalfa memejamkan matanya saat suara tak asing seolah memanggilnya.
"Syalfa kamu berada dimana?"
" rania, kau disini?" tanya syalfa , seolah merasakan keberadaan sahabatnya yang tidak jauh dari nya." aku di sebuah rawa, tapi sepertinya ini berujung di sebuah sungai yang letaknya di tengah hutan" lanjutnya.
" iya, kami menyusulmu! aku, nendra dan deon. tapi kami terpisah saat masuk ke sini. jelas rania" baik, aku akan mencarimu , aku juga berada di sekitar sungai".
syalfa membuka matanya kembali lalu menoleh ke arah nendra yang masih dengan tatapan waspada memandang sekitar.
" ka ndra, rania sudah menunggu kita di sungai, bisakah kau mendayungnya lebih cepat?" tanya syalfa.
" baiklah" nendra segera menambah kecepatan saat mendayung.
****
rania berjalan tanpa alas kaki menyusuri sungai dengan tanah yang becek dan berair. kaki nya yang di lumuri lumpur tak di hiraukannya, kakinya terus menelusuri sungai, pandangannya menatap lurus berharap sesuatu muncul. tapi bukan siluman seperti sebelumnya, rania berharap sahabatnya muncul dari sana, dari arah datangnya arus.
terdengar suara gemricik air dengan suara yang tak terlalu kuat, tapi semakin lama suara itu semakin terdengar jelas.rania menajamkan penglihatannya, tubuhnya terdiam kaku, bahkan jantungnya sudah berdegup kencang.
" tolong, jangan lagi.. jangan sekarang" kata rania dalam hati, dia berharap tidak ada yang datang, rania tidak mau terpisah kembali dari sahabatnya itu, hanya tinggal sebentar lagi keduanya akan bertemu.
terlihat sesuatu muncul dari ujung sungai, dimana dua orang sedang mendekat ke arahnya. rania masih diam tanpa bergerak sedikitpun, bahkan jika dia bisa, ingin sekali rania berhenti bernafas sejenak. demi menghindari para siluman yang haus darah.
tak lama kedua orang itu mendekat, kini rania bisa melihat dengan jelas, ternyata yang datang adalah sahabatnya dan teman barunya.
'GREP'
rania memeluk syalfa dengan erat, air mata luruh seketika, rasa tenang ,bahagia, haru semua bercampur aduk menjadi satu.
" hiks hiks , kau kemana saja hah? aku mencarimu kemana- mana?" kata rania masih memeluk syalfa erat.
" hay, apa kau ingin membunuhku hah? uhuk, uhuk! kau..aah sesak sekali, lepas!" kata syalfa yang merasa sesak akibat pelukan rania yang terlalu kuat.
" aah, maaf.. aku terlalu senang" kata rania melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
" ck, kenapa kamu sekarang cengeng sekali, seperti bukan rania saja" cletuk syalfa.
" kau tidak tahu saja, apa yang aku alami selama berada disini. itu semua sebuah pengorbanan demi sahabatku, tapi kau! kau malah mengejekku" kata rania jengkel.
" kau marah? seperti anak kecil saja, kenapa sifat dan sikapmu jadi berubah seperti ini? apa kau baru saja bertemu dengan pangeran? pangeran apa? pangeran rubah, serigala, harimau, buaya, atau pangeran ular? waah , kau jadi bucin, cengeng dan manja karena jatuh cinta dengan salah satunya kan?!" cletuk syalfa ngasal.
rania yang mendengar pangeran ular di sebut membuat raut wajahnya muram. rania terduduk dengan menopang dagu, entah apa yang ia pikirkan sekarang.
" nih anak satu kenapa jadi kaya anak ABG gini" kata syalfa yang merasa heran dengan perubahan sikap rania.
rania tak menggubris perkataan syalfa yang terus mengejeknya. suasana hati nya mendadak buruk, ada perasaan rindu untuknya. tapi dengan segera rania menggeleng menghilangkan fikiran itu .
" kau benar-benar ya, tadi melamun sekarang malah geleng- geleng ga jelas. leher kamu pegal?" kata syalfa yang makin di buat bingung dengan rania sahabatnya.
" ayo, sebaiknya kita segera pergi dari sini. nanti saja di lanjut membayangkan pangeranmu itu, waktu kita sangat sedikit" kata syalfa menarik paksa tangan rania yang masih sibuk duduk malas di tanah.