
Syalfa masih menangis di depan sebuah lingkaran bening yang mengurung kekasihnya.
dadanya terasa sesak menatap keadaan mario yang masih terpejam di dalam sana. wajahnya masih sama seperti beberapa tahun lalu. Tampan!.
Syalfa masih menatap lekat wajah itu, tatapannya menyiratkan kerinduan yang teramat dalam. hingga sebuah suara membuatnya terpaksa harus menoleh.
"Syalfa"
di lihatnya rania yang berdiri , masih di tempatnya sama sewaktu mereka memasuki tempat ini.
Rania mengisyaratkan sesuatu dengan lirikan ke sebuah tempat. namun, isyarat rania tak syalfa hiraukan.pandangannya kembali menatap dimana kekasihnya berada, syalfa seakan tak peduli dengan dimana dia sekarang, tak peduli dengan rania atau siapapun.
Syalfa memeluk lingkaran bening itu, dengan wajahnya yang di tempelkan disana. seakan yang di peluknya adalah tubuh hangat mario.perlahan air matanya menetes ,terdengar isakan lirih dari bibirnya yang manis.
"Apa yang terjadi padamu! ku mohon , bertahanlah. aku merindukanmu! aku mencintaimu! aku .. aku..hiks hiks" syalfa meracau tak jelas.
Rania hanya bisa menatap sahabatnya dengan tatapan sendu, dia tahu perasaan syalfa sedang kacau. tapi..
Dari ujung matanya rania melirik kesana kemari mengamati sekitar, perlahan beberapa roh yang sebelumnya mereka temui berdatangan dari berbagai arah, semakin lama semakin banyak membuatnya sedikit panik.
Rania melangkah sedikit demi sedikit mendekat ke arah syalfa yang masih memeluk erat lingkaran transparan yang mengurung mario.
Semakin mendekat dan semakin mendekat, namun langkahnya terhenti saat beberapa mata tajam itu menatap ke arahnya.
Mata yang penuh dengan kutukan, kutukan? entah, tapi rania merasa mata itu banyak akan aura negatif dan bahkan lebih dari itu. mata itu bisa seperti sebuah kutukan bagi siapa saja.
jantung rania berdetak dengan langkah cepat rania berlari ke arah syalfa dan menarik kuat tangan sahabatnya.
namun syalfa langsung menepis kuat tangan rania. syalfa kembali memeluk lingkaran transparan itu.
Syalfa sadar, kita harus segera pergi dari sini!! pekik rania antara cemas dan takut.
syalfa menggelengkan kepalanya kuat, masih tetap berada di sana. hingga sebuah angin kencang menubruk tubuh rania dan tubuhnya terpental ke lantai dengan keras.
AAAA...
Rania memekik karena merasakan sakit di punggungnya, seperti di hantam sebuah benda, rania menoleh ke arah di mana serangan itu berasal.
matanya bertemu dengan mata tajam penuh kutukan itu.lalu, mata itu menatap ke segerombolan roh . dan roh-roh itu melayang berbaris melingkar mengelilingi mereka semua.
Rania melihat ke atas dengan begidik dan kembali menatap mata tajam itu yang sekrang terlihat seringai mengerikan dari bibirnya yang berwarna hitam.
Rania merangkak mendekat ke arah syalfa kembali sambil memegang bagian tubuhnya yang terasa nyeri.
" Syalfa sadar lah, ku mohon!" rania menggoncang-goncangkan tubuh syalfa kuat, namun syalfa masih tetap dengan tatapannya yang tertuju pada mario." jika kau begini, kita semua yang akan musnah, bahkan begitupun dengan mario" kata rania yang berhasil membuat tatapan matanya menatap rania.
" lihatlah" rania melirik mario yang masih terpejam, syalfa menatap kembali wajah tampan itu." bukankah kau ingin dia kembali? jika kau begini, bukan hanya mario yang musnah,kau, aku, rendra, deon, dan semua teman kita juga akan mati".
syalfa meneteskan kembali air matanya mendengar kata-kata rania. syalfa mulai mengerti dan melirik sekitar, kemudian menatap ke atas ." kenapa aku harus mengalami seperti ini lagi" batinnya. lalu pandangannya bertemu dengan mata tajam yang masih diam mengamati mereka.
"tatapan mata itu, tatapan yang sama dengan pemimpin yang dulu pernah aku dan mario bunuh, apa mungkin?" batin syalfa .
bibir hitam itu kembali tersenyum menyeringi seakan mengetahui apa yang syalfa katakan dalam hatinya.
" Apa dia bisa membaca batin dan fikiran manusia" batinnya lagi. yang kemudian seringaian itu semakin melebar.
syalfa berdiri tegak, saat semua pertanyaan dalam hatinya terjawab .
Rania juga mengikuti syalfa yang berdiri menatap syalfa yang terus menatap pemimpin mereka.
"Ada apa?" tanya rania berbisik.
" berhati-hati lah, makhluk itu bisa membaca apa yang kita fikirkan dan katakan walau itu dalam hati" jawab syalfa lirih.
Bola mata rania melebar seakan tak percaya, tapi ini bisa saja, dia juga merasakan aura hitam pekat dari sosok itu dan jangan lupa tatapan kutukannya.