
Seorang lelaki terbaring di sebuah lingkaran bening seperti lapisan kaca. di bagian ujung lingkaran bening itu terdapat warna hitam ke abuan yang sedikit demi sedikit merambat naik, seakan menenggelamkan sosok lelaki yang diam tak bergerak di dalamnya.
ada 4 sosok yang duduk bersila mengelilingi sosok lelaki yang terbaring itu. sosok-sosok itu seakan mengeluarkan kekuatan mereka untuk menghalau warna kehitaman yang hendak menutup rapat lingkaran bening itu.
Terlihat jelas sosok sosok itu menahan dengan susah payah, bahkan dari mereka ada yang mengeluarkan cairan berwarna hitam dari sudut bibir mereka.
" Tahan, sebentar lagi kedua gadis itu datang" suara berat dari sudut sana menggema. sosok yang di yakini ketua dari mereka itu. terlihat duduk bersila di atas sebuah batu berlumut yang melayang.
kedua matanya tertutup, namun seakan tahu kondisi sekitarnya walau tanpa membuka kedua matanya.
****
Syalfa dan rania kedua nya masih terus berlari , sesekali mata keduanya mengedar takut ada makhluk atau siluman yang mengincar mereka.
" aneh , sungguh aneh.. sepanjang perjalanan. tidak ada satupun sosok yang menyerang" batin syalfa.
bukannya lega karena tak ada yang menghalangi mereka, justru syalfa merasa semakin cemas. seperti akan ada sesuatu yang besar telah menanti kedatangannya.
" Syalfa berhenti!" kata rania yang mengejutkan syalfa.
" ya" kata syalfa lalu keduanya berhenti dengan mengatur nafas mereka.
" apa kita benar-benar aman sekarang? aneh sekali. mereka tidak mengganggu bahkan membiarkan kita lolos begitu saja. apa mereka takut terhadap kita?!" tanya rania menatap syalfa penuh penasaran.
" ya, aku jg berfikir demikian, aku rasa ada sesuatu yang membuat mereka tak lagi menganggu kita"
" Benar kah, tapi apa itu"
" Entahlah, tapi sepertinya akan ada sesuatu yang besar sudah menanti" syalfa memandang jauh kedepan. seakan mencari tahu apa itu. tapi hatinya sangat resah .
keduanya melanjutkan perjalanan mengikuti kata hati.
***
Syalfa dan rania terdiam saat berdiri tepat di tengah sepasang pohon besar yang di kelilingi tumbuhan liar . keduanya mematung menatap pemandangan di hadapannya. terlebih lagi syalfa, banyak makhluk ahh lebih tepatnya itu Roh bergentayangan melayang layang kesana kemari. pandangannya mengedar, syalfa meremat dadanya yang berdebar sangat kencang. syalfa menautkan jemarinya ke jemari rania . lalu menariknya masuk, keduanya berjalan perlahan, takut mereka mengetahui kedatangannya.
Keduanya berjalan masuk lebih dalam lagi. syalfa terdiam saat merasakan sakit di dadanya.
" kamu baik-baik saja?" rania menatap wajah syalfa yang terlihat meringis menahan sakit.
Rania mengangguk paham, kini rania yang berjalan memimpin dengan mengandeng syalfa perlahan.
" Perasaan apa ini" batin syalfa.
Keduanya berjalan di lorong yang gelap , semakin mereka berjalan masuk . syalfa semakin merasa sesak.
"A ku merasa tak tenang" kata Rania memecahkan keheningan.
Syalfa diam tak menjawab. hawa di lorong itu sangat pengap, bukan hawa pengap yang membuat keduanya tak nyaman. bagi mereka pengap itu sudah hal biasa , bahkan ini sudah berulang kali mereka lalui.tapi entah apa ?
hingga kini di depan sana terlihat sebuah cahaya berwarna putih, cahaya apa itu? keduanya perlahan mendekat ke sumber cahaya yang menyilaukan mata.
saat keduanya mendekat dan semakin mendekat. sebuah angin datang menerpa tubuh keduanya.
Dingin, ya itu yang di rasa syalfa dan rania. keduanya kembali mematung .
DEG
" Akh, sakit sangat sakit" pekik syalfa dalam hati. rasanya jantungnya seperti di remas dengan kuat.
sepasang mata itu menatap nanar ke arah sana. lebih tepatnya, sosok lelaki berpakaian putih bersih terbaring dengan di kelilingi sosok aneh.
Syalfa dan rania kini berada tepat di atas benda berbentuk aneh yang mengurung sosok yang terbaring lemah itu.
" Mario, itu kah kau" lelehan bening perlahan mengalir di sudut matanya. syalfa memejamkan kedua matanya sekedar untuk menenangkan hatinya, apakah ini nyata? apakah itu dia? perlahan matanya kembali terbuka dan masih sama. benar dia .. dia..
syalfa tak menunggu lama, langsung melompat ke bawah dan berlari mendekat ke arah sosok itu.
Rania tetap diam tanpa ingin mencegah sahabatnya itu, dia tahu betapa hancurnya syalfa saat melihat kekasihnya mati di depan matanya. biarkan! biar syalfa menumpahkan segala rasa yang sudah terpendam cukup lama.
rania menatap sosok penjaga yang mengelilingi sosok mario, pandangannya waspada. takut sosok itu tiba -tiba bertindak.
pandangan rania kini menatap sepasang mata tajam yang berada tak jauh dari syalfa.
"Auranya sangat kuat sekali, aku yakin dia pemimpinnya, aku harus menyadarkan syalfa. dan segera membawa mereka pergi dari sini" kata Rania dalam hati.