
Deru nafas yang terus bersahutan terdengar cukup jelas. ketegangan terjadi tepat ditengah malam. diluar sedang terjadi petir dan hujan yang cukup deras. tidak ada listrik yang menerangi ruangan penuh ketegangan itu, hanya ada lilin yang mengitarinya.
jendela dan korden telah di tutup rapat, mereka berharap malam ini tidak ada teror lagi, mengingat suasana yang benar-benar menyudutkan mereka. keadaan Rania semakin membuat mereka cemas.
"Emm, sakiiiit"
Rania meringis menahan kontraksi yang hebat, anaknya seperti tengah berebut untuk segera keluar.
Deon dengan lembut mengelus perut Rania, dia bisa merasakan gerakan yang cukup kuat.
Deon mengecup perut itu dengan penuh kasih sayang, "Nak, Daddy tau kalian sudah tidak sabar untuk bertemu mommy mu, tapi kasian mommy merasa kesakitan, jadi kalian satu-satu dulu ya" .
Dan benar saja, setelah Deon mengucapkan kata -kata lembut itu, pergerakan yang tadinya sangat keras dan tak beraturan di permukaan perut Rania yang besar itu, kini mulai bergerak teratur. ternyata calon anak di dalam sana mendengarkan perkataan Daddy nya itu.
Deon tersenyum sambil terus mengusap perut Rania lembut.
Sebuah bayangan putih transparan layaknya sosok perempuan melayang hendak mendekat ke arah Rania. bayangan berparas wanita itu menembus setiap benda yang ada di kamar itu.
Syalfa langsung menoleh saat merasakan sesuatu mendekat. segera beranjak dan menghadang bayangan itu.
"Siapa kau" tanya nya dengan tegas, salah satu tangannya terkatup di perutnya, agar bayi di dalam kandungannya tidak terjadi goncangan, akibat Syalfa yang tiba-tiba beranjak.
Nendra langsung sigap berdiri di sebelah Syalfa, walau mereka tidak dapat melihat siapa yang di maksud Syalfa, tapi mereka tetap siaga.
papa Doni dan mama Anggi juga berdiri tapi mereka lebih memilih menjadi benteng untuk Rania dan Deon di belakangnya.
Syalfa bisa melihat sosok wanita itu tersenyum, senyumannya sangat lembut dan begitu tulus, sayang sekali sosoknya transparan ,bahkan benda yang berada di belakang sana sampai terlihat. Syalfa harus memfokuskan penglihatannya terlebih dulu, baru bisa melihatnya sedikit jelas.
Sosok bergaun putih menjuntai ke lantai, berambut coklat panjang sepinggang. wajahnya putih pulus namun terkesan pucat. tidak mengerikan sama sekali, bahkan senyumannya mampu membuat Syalfa terpukau untuk sesaat.
"Siapa kau?" tanya Syalfa kali ini suaranya sedikit melembut.
"Namaku Milen, aku yang akan menjadi ibu asuh bagi penerus Pangeran ular" .
"Ibu Asuh? maksud kamu, kamu akan menjadi ibu sambung bagi anak-anak Rania nanti? dan membawa mereka pergi? siapa yang menyuruhmu?" tanya Syalfa.
Sontak ucapan Syalfa membuat semuanya terkejut, terlebih bagi Rania dan Deon.
Dengan meringis menahan sakit, Rania berusaha untuk menoleh , melihat siapa sosok yang beraninya akan menjadi ibu asuh anaknya!.
Namun Rania sama sekali tidak melihat apapun di hadapan Syalfa.
"Aku adalah sahabat dari Arav , aku hanya ingin membantunya saja. Arav tidak bisa melindungi mereka secara langsung, dia hanya bisa melalui orang-orang terdekat saja. Dan dia mempercayakan anak nya padaku, karena hanya aku yang tahu cara merawat dan memberikannya ilmu sesuai dengan permata yang mereka dapat nanti,_"
Ucapan Milen terpotong, oleh suara tegas Rania.
"Jadi menurutmu, aku tidak bisa merawat anak-anaku!" ucapnya tak terima.
Rania sudah bisa mendengar suara sosok wanita itu, ia berusaha mengeluarkan kekuatan dari cincin yang Arav pernah berikan padanya. dia yakin, yang datang salah satu dari suruhan Arav.Dan terbukti sekarang.
"Bukan begitu Nona, aku hanya akan membawa anakmu yang lahir dengan wujud ular, sedangkan bayi manusia yang kau lahirkan nanti akan tetap bersama kalian. jika bayi ular itu tetap berada di dunia manusia, nyawa mereka mungkin tidak berlangsung lama, karena lingkungan mereka bukan lah di dunia manusia. aku berjanji setiap 1 bulan sekali, aku akan membawa mereka untuk bertemu denganmu".
"Tapi kenapa? bukankah mereka harus tetap bersama untuk melawan makhluk - makhluk dari dunia lain nanti?" tanya Syalfa bingung.
"Iya kau benar, tapi bayi ular yang Nona Rania lahirkan bukan bayi ular biasa, mereka akan tumbuh dengan benar jika berada di alamnya. merawat mereka juga tidak sembarangan nona. sedangkan bayi manusia, walaupun mereka titisan dari Arav. merawatnya sama seperti bayi manusia pada umumnya, hanya saja aku belum tahu bayi manusia yang Nona Rania lahirkan akan bagaimana nanti? apa yang menurun padanya dari pangeran Arav? entah itu kekuatan? atau bisa juga wujudnya akan berubah menjadi setengah ular".
"Ya ampun" teriak Rania tak percaya.
"Aaakh sakiiiit" Rania kembali berteriak saat sesuatu keluar dari alat *** nya.