
" Deon! namaku deon, tidak usah memanggilku pangeran sepertinya, aku bukan seorang pangeran!" ucap deon tegas." Dan aku tidak mau menjadi pemimpin kalian, yang harus mentaati aturan dan memiliki beberapa istri sepertinya" bantahnya .
" baik Tuan deon, saya tahu anda tidak ingin menjadi bagian dari kerajaan kami dan menggantikan posisi pangeran velix. kami memang pengikut pangeran velix , namun kami juga bukanlah kesatria dari kerajaannya. kami di angkat menjadi anak buahnya di saat pangeran menyelamatkan kami dari para siluman yang ingin membunuh kami. kami telah berjanji untuk mengabdi kepadanya hingga kami musnah dari alam ini tuan . dan keinginan pangeran adalah, agar kami ikut dengan anda dan melindungi anda. tapi kami juga tetap akan datang membantu pangeran velix jika suatu saat dia membutuhkan bantuan" jelas hux tak kalah tegas.
Deon menghela nafasnya gusar, sepertinya velix memang tidak ingin di ganggu. sampai-sampai dia menyerahkan semua pengikutnya padanya.
" hah, baiklah. lalu bagaimana cara kalian bersembunyi? aku tidak ingin ada yang melihat jika aku di ikuti banyak siluman seperti kalian ini" kata deon memandang semua siluman yang mengelilinginya.
" kami akan masuk ke dalam gelang itu tuan" tunjuk hux pada gelang pemberian pangeran velix.
" ooh, baiklah aku setuju. jangan merepotkanku. sebelum masuk ke dalam sini, kau antarkan aku untuk bertemu teman- temanku" pinta deon menatap hux.
" baik tuan " kata hux
hux menatap semua bawahannya lalu menyuruh mereka agar masuk ke dalam gelang lebih dulu, setelah semua masuk, hux merubah dirinya menjadi seekor burung gagak hitam dan membawa tubuh deon terbang.
****
rania melangkah dengan perlahan sambil sesekali mengusap perutnya yang entah kenapa merasa kurang nyaman.
sedangkan syalfa dan nendra mengikutinya dari belakang. syalfa mengerutkan keningnya berulang kali menatap kelakuan rania yang menurutnya aneh. sebelumnya syalfa mengajaknya berjalan berdampingan dan mengajak sahabatnya itu untuk menceritakan bagaimana pengalaman rania selama disini. namun, jawaban rania sungguh mengejutkannya, bagaimana tidak. rania justru enggan untuk berbicara dengannya, bahkan rania selalu merasa sebal jika berdekatan dengannya. aneh bukan?
begitu juga dengan nendra, rania tidak menyukai aroma dari tubuh pria itu, keduanya di suruh jaga jarak dengannya, jika mereka tidak menurutinya maka rania akan marah dan mengamuk.
" akhirnya, aku menemukan kalian!" pekik deon yang segera berlari setelah cengkraman di pundak burung itu terlepas, deon hendak memeluk rania yang posisinya tepat di barisan terdepan, namun rania dengan cepat menghindar ke samping, sehingga mau tak mau tubuh deon justru hendak menubruk tubuh syalfa, nendra dengan cepat menarik pergelangan syalfa , sehingga syalfa berada di pelukan nendra dan deon terjatuh ke tanah. mepihat itu semua orang tertawa terbahak, sedangkan hux menahan senyumnya. melihat tuannya yang tersungkur ditanah.
deon berdecak menatap teman-temannya yang menertawakannya. deon menatap tangan nendra yang berada di pinggang syalfa, melingkar erat di sana. keningnya mengernyit heran. lalu pandangannya beralih pada rania, di lihatnya rania dari ujung kaki ke atas kepala, lalu turun kembali hingga tatapannya berhenti di perut rania.
deon melihat ada sesuatu di perut rania, deon mengucek kedua matanya takut , jika dia salah melihat. dilihatnya kembali perut rania, matanya membuat sempurna merasa tak percaya.
deon menatap wajah rania lekat, lalu menatap syalfa dan nendra yang sudah menghentikan tawanya dan menatapnya dengan wajah bingung dan pandangan deon kemudian menatap hux yang menganggukan kepalanya. seakan tahu arti tatapannya.
rania menatap deon yang masih terduduk di tanah dengan wajah yang sulit di artikan, ada keterkejutan,heran dan sedih.
" ada apa? kenapa kamu memandangku seperti itu?" tanya rania yang tak suka dengan tatapan deon padanya.
" aah, tidak ada! kamu hanya..ah.. cantik, iya cantik. iya kan dra?" kata deon sedikit gugup sambil meminta persetujuan nendra akan ucapannya.
"biasa saja" kata nendra acuh.
nendra menggandeng syalfa melanjutkan perjalanannya. sedangkan deon menggaruk kepalanya yang tak gatal, sambil berdiri ikut menyusul nendra dan syalfa.
rania hanya mengerucutkan bibirnya sebal. mendengar jawaban nendra.