My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Strategi



Di sebuah ruangan yang cukup luas, semua orang tengah duduk di posisinya masing -masing.


"Syalfa, apa kabar?" Sapa Rasya yang hendak berjabat tangan dengan Syalfa namun segera di tepis Nendra.


Syalfa tersenyum canggung, merasa tak enak dengan sikap pencemburu suaminya.


"Aku baik ,kamu kapan sampai?" tanya Syalfa basa basi.


"Sekitar 1 jam yang lalu" jawab Rasya sembari melirik Nendra sesaat.


"Oh ya, kenalin dia suamiku, nama nya Nendra" Syalfa mencoba mengenalkan suaminya pada sahabat yang sudah lama tak bertemu itu.


"Kenalin, aku Rasya " Rasya menjulurkan tangannya ke hadapan Nendra yang di balas dengan sambutan tangan yang tegas. Nendra menatap Rasya tak suka.


"Oh , emm Ya sudah .. aku duduk disana dulu ya. Semoga kali ini kita juga berhasil seperti dulu Syalfa, Apa lagi sekarang juga ada Nendra".


"Iya semoga saja ya Ka Rasya".


Rasya mulai melangkah melewati tempat duduk Syalfa dan Nendra. Rasya kemudian tersenyum saat tatapannya bertemu dengan Rania. Rania juga membalasnya dengan senyum ramah, tentu hal itu membuat Deon menatap Rasya tajam.


Rasya mulai duduk di samping ayahnya, Hans dan beberapa orang lainnya.


Si sebuah meja kecil dengan berjejer kursi berukuran kecil, disana tempat duduk anak-anak yang saat ini sedang fokus menatap bola kuning yang berada di tengah meja.


Kris , Sava,Liam,Daffin,Alen,Alin ,Beril ,Wily ,Dicky,Mila.


Mereka anak-anak hebat dengan kemampuannya masing-masing.


Willy putra Rasya, awalnya Rasya tidak menginginkan anaknya untuk ikut ke dalam bahaya ini. tapi willy bersih keras untuk ikut. Alasannya tidak ingin papa dan kakeknya berjuang sendiri. usia Willy saat ini sudah menginjak usia 15 tahun.


Dicky dan Mila keduanya adalah anak dari anggota kepolisian yang memiliki kekuatan dari semenjak mereka lahir, bakat itu keturunan dari mendiang kakek dan nenek mereka . keduanya sudah bersama sedari kecil karena kedua orang tua mereka bersahabat,keduanya saat ini berusia 13 tahun.


"Bagaimana?" tanya Alen pada Sava yang masih sibuk menyentuh bola kuning di meja, seakan sedang menyambungkan sesuatu kesana.


"Ini sulit" ucapnya di sela-sela aktifitas tangannya.


"Kamu harus cepat, waktunya sangat mendesak" Alin mencoba mengingatkan.


"Aku tahu, aku sedang berusaha" ujarnya tetap fokus dengan tangannya yang terus mengusap ngusap bola kuning itu.


Setelah berusaha hingga 15 menit, kemudian terlihat sebuah bayangan dari bola kuning itu membuat semuanya mendekat agar lebih jelas melihat apa yang ada di dalam sana.


Mereka melihat banyaknya Jiwa yang terperangkap di sebuah ruang gelap dengan dijaga 3 siluman.


"Sepertinya jiwa itu di paksa untuk melawan kita" kata Kris yang di angguki oleh semua teman-temannya.


"Apa mereka teman kuliah Mommy? seperti yang di ceritakan tante Karina kemarin?" tanya Alen sambil terus memperhatikan wajah-wajah mereka.


"Iya, Sepertinya begitu" jawab Liam.


"Bagaimana cara kita membebaskan mereka? " ucap Alin.


"bagaimana kalau dua dari kita ke sana di bantu Belin?" saran Alen.


"Ya, Kris benar" timpal Mila.


"Lalu bagaimana? waktu kita hanya sedikit. sebentar lagi pasti pintu terbuka sempurna, masuk atau tidak kita sama-sama dalam bahaya. lalu apa bedanya?" kata Alen.


"Setidaknya jika kita ada apa-apa banyak yang akan membantu karena kita berada di dunia sendiri resikonya lebih sedikit " jawab Kris.


"Begini saja, Beril kau pergi ke tempat tante Karina dan ceritakan bahwa kita sudah menemukan dimana Jiwa-jiwa itu di tahan, nanti Tante Karin pasti tau, apa yang harus di lakukan" kata Sava.


"Baik"


Beril segera menghilang, untuk melakukan tugas baru dari tuan kecilnya itu.


****


"Apa kalian ada ide?" tanya Nendra pada mereka.


"Di sekitar lokasi sudah Ada 5 Mobil, 3 mobil keamanan dan 2 Mobil kesehatan. total ada 30 orang. mereka akan berjaga-jaga disana.


"Itu cukup Beresiko. Tarik mereka jangan terlalu dekat, posisi mereka akan cepat tercium . karena makhluk itu adalah siluman , sangat gampang mengetahui keberadaan kita hanya dengan mencium bau darah segar di sekelilingnya walau jarak cukup jauh" kata Rasya.


"Ya, Rasya benar. kami sudah pernah melawan mereka, resikonya sangat besar, lebih baik mereka tarik ke hotel ini. mereka akan datang jika semua selesai" saran Rania.


"Baik, aku akan hubungi mereka sekarang juga" kata Jeki salah satu anggota kepolisian yang juga saudara dari Deon.


Jeki bangkit dan menjauh dari tempat duduknya, agar tidak mengganggu diskusi teman-temannya.


"Lalu bagaimana sekarang?'' tanya Deon.


"Kita membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan khusus" kata Rania.


"Supernatural?"


"Bisa di katakan begitu".


"Aku bisa melihat hantu di sekelilingku, selain itu aku juga bisa menghipnotis , selain pada manusia juga pada Hantu" Ucap seseorang yang duduk tepat di samping Pak Hans .


"Siapa namamu?" tanya Pak Hans.


"Mars".


"Apa kau yakin? aku baru dengar hantu bisa di hipnotis" kata Rania Ragu.


"Yakin, karena aku sudah pernah mencobanya" jawab Mars.


"Coba ceritakan?" perintah pak Hans.


"Waktu itu, aku masih anak kuliah yang juga mengambil kerja paruh waktu, aku kerja di sebuah minimarket yang buka 24 jam. saat itu, aku mendapatkan siff malam, saat aku pulang aku bertemu dengan seorang wanita yang tengah duduk di sebuah bangku kosong depan Halte. aku mendekatinya dan menegurnya. aku bertanya kenapa dia berada di sana sendiri? dan dia langsung menoleh padaku. dia tersenyum dan menyangka kalau aku tunangannya. semenjak saat itu dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, padahal aku sudah berulang kali menjelaskan kalau aku bukan tunangannya. aku mencoba untuk menghipnotisnya dan itu berhasil, sejak saat itu dia tak mengikutiku lagi" jelasnya


"Wahh, nanti kita bisa mencobanya pada Si centil Karina" ujar Rania antusias.