
Malam semakin larut, suara Anjing di luar sana juga semakin keras terdengar. angin berhembus semakin kencang. helaian korden berwarna putih di kamar berterbangan mengikuti hembusan angin yang menerpa. di dalam kamar itu sudah sangat berantakan dengan benda - benda yang sudah tidak berada di tempatnya. banyak Ular-ular yang mati tergeletak di sana sini. Hanya satu ular kobra berwarna hitam yang masih bertahan, namun tetap saja itu tidak membuat Rania dan Deon bernafas lega, kedua nya masih tegang sambil memperhatikan pertarungan sengit itu.
Deon terus menggenggam erat tangan Rania, kedua nya memasang ancang-ancang . walaupun keduanya berharap Ular hitam itu akan menang, tapi melihat banyaknya Ular yang sudah mati, membuatnya pesimis.
BRUAK
lemari pakaian milik Rania hancur seketika, dua makhluk yang berbeda itu sama-sama terpelenting ke arah yang berbeda. sosok kabut itu akhirnya tumbang menubruk lemari yang kini hancur tak berbentuk. sedangkan Ular kobra yang sedari tadi bertahan juga tak kalah mengenaskan . wujud ularnya berasap dan menghilang menjadi sebuah cahaya berwarna merah dan keluar melewati jendela yang terbuka.
Rania dan Deon memandang kepergian Ular kobra itu, setelah ular kobra itu pergi. ular-ular yang telah mati juga berasap lalu menghilang.
Rania dan Deon, keduanya menatap waspada pada kabut yang masih menyelimuti lemari rusak itu, perlahan kabutnya semakin tebal, yang awalnya berwarna putih kini sebagian berwarna khitaman.
Apa tandanya ini?
Rania beranjak dari ranjang, Deon masih menggenggam nya erat. keduanya memilih untuk beranjak perlahan , langkah kakinya bahkan sangat pelan. selangkah demi selangkah tangan masih bergandengan namun mata tetap menatap sosok yang hanya terlihat kabut tanpa wujud yang semakin lama semakin pekat dan warnanyapun semakin jelas.
tubuh keduanya menempel layaknya sebuah magnet , kaki tanpa alas itu terus melangkah sambil menghindari beberapa barang yang tergeletak di lantai .berusaha agar tidak menimbulkan suara apapun.
Deon tangannya tetap menggenggam tangan Rania erat, tubuhnya mulai bergeser mendahului Rania, ia akan memimpin jalan sekarang, membimbing Rania agar mengikuti langkahnya. tujuannya adalah pintu kamar, mereka harus segera meninggalkan kamar itu sebelum semuanya terlambat.
Kamar sudah berantakan bahkan banyak benda yang hancur dan pecah. tapi Sahabat mereka yang tidur di kamar yang tak jauh dari kamar mereka tidak datang sama sekali? apa mereka tidak mendengar kegaduhan ini? atau mereka tengah melakukan ritual itu?.
Deon sebenarnya cukup kesal jika memikirkan itu, tapi kali ini bukan waktu yang tepat untuk itu bukan? nyawa keduanya sedang di ujung tanduk sekarang.
Di setiap langkahnya Matanya trus mengamati pergerakan Kabut itu, entah apa yang terjadi kabut itu hanya berkumpul layaknya asap kebakaran yang hanya berada di satu tempat . matanya beralih menatap ke bawah takut-takut kakinya salah melangkah dan menginjak benda tajam akibat pecahan kaca, atau menginjak sesuatu yang dapat menimbulkan bunyi yang bisa menarik perhatian.
Deon melihat sebuah kayu tergeletak di lantai, ia yakin kayu itu adalah kaki dari kursi kayu yang telah patah. salah satu tangannya yang terbebas mengambil benda itu berharap bisa di jadikannya untuk senjata.
Sedangkan Rania hanya diam mengamati Deon yang berusaha untuk membawanya keluar, hati dan fikirannya mencoba untuk tenang ,selalu memanggil Syalfa sang sahabat.
"Apa telepatinya sudah tidak bisa di gunakan?"
Deon tersenyum saat di lihatnya pintu kamar mereka sudah dekat, buru-buru kakinya melangkah agar lebih mendekat lagi. tanpa sadar tangannya terlalu kuat menarik tangan Rania membuat tubuh sang istri terkejut dan tidak berhati-hati dalam melangkah. kakinya tak sengaja menendang sebuah botol.
KLUTAK
Botol trus menggelinding ke suatu arah. mata Rania melebar, mulutnya menganga tak percaya. bahkan Deon pun juga terkejut ia melihat botol itu yang teus menggelinding lalu pandangannya tertuju pada Asap yang kini sudah mulai menampilkan wujudnya. Topeng dengan Wajah manusia dan tangannya yang mengerikan tengah menatap ke arah mereka berdua.Deon lari sambil menarik tangan Rania.
CEKLEK
CEkleK
tangannya meraih gagang pintu dan berusaha untuk membukanya tapi kenapa sulit sekali? Deon berusaha mendobrak pintu, bahkan kakinya menendang nendang pintu itu dengan kuat.
Asap berbentuk topeng dan tangan mulai melayang terbang mendekat, tatapanya tertuju pada Rania.
"Ka_" panggil Rania pelan, matanya masih waspada menoleh ke belakang.
Deon terus saja mencoba membuka pintu, tapi entah apa yang membuat pintu itu sangat sulit untuk di buka. padahal sebelum tidur Deon sangat ingat Ia ataupun Rania tidak mengunci pintu itu sama sekali. tapi ini apa? pintu itu sangat sulit di buka.
Deon menoleh saat panggilan lirih Rania terus memanggilnya. Ia semakin panik saat Asap menyeramkan itu mendekat .
DOOR
DOR
DOoR
"Woy, Syalfa!!Nendra!! Tolong!!" teriaknya dengan suara yang sangat keras .
hanya meminta tolong yang bisa Deon lakukan, bukan berarti ia pengecut tidak ingin melawan. jika di hadapannya seorang preman atau mafia itu bisa saja, setidaknya mereka bisa saling baku hantam. namun ini bukan manusia bagaimana melawanya? membunuhnya? Please Deon hanya manusia biasa bukan pawang hantu, yang memang punya keahlian khusus dan ilmu yang bisa mengendalikannya.