
syalfa pov
entah ini sudah berapa hari aku terjebak di dunia mereka, namun aku merasa sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. bagiku terjebak di dunia mereka tidak terlalu menyeramkan. aku bahkan tidak takut jika aku harus mati di tempat ini. entah itu roh, siluman atau iblis aku sudah terbiasa menghadapinya. sebenarnya aku sudah sangat lelah dengan hidupku yang selalu berurusan dengan mereka, tapi aku berfikir untuk kuat agar aku bisa menemukanmu Mario. ini demi mario! aku sangat yakin kita akan bertemu, aku sudah mulai merasakan keberadaanmu di tempat ini. entah dimana? tapi bertahanlah untukku.
" syalfa" panggil nendra menepuk pundakku dengan lembut.
aku menoleh sedikit terkejut, karena aku sempat melamun memikirkan mario.
" kamu memikirkan apa? jangan melamun, tempat ini berbahaya, jangan biarkan fikiranmu kosong" kata nendra memperingati.
" emm, iya maaf aku lupa soal itu" kataku pelan.
" tak apa, aku akan selalu mengingatkanmu" kata nendra sembari menatapku lembut.
nendra, aku sempat merasa ada kemiripan antara dia dan mario. dari segi fisik nendra dan mario memang berbeda. tapi aura mereka hampir sama, aku merasa ada sesuatu dalam diri nendra yang membuatku tertarik, bahkan aku merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya. tapi aku tidak tahu, perasaan apa ini.
aku menatap wajah nendra lekat, lagi - lagi aku melamun memikirkan hal itu hingga sebuah tangan kembali menepuk pundakku.
" sudah ku bilang, jangan melamun" kata nendra yang kembali membuatku terperanjat." kenapa kamu melihatku seperti itu hemm?" tanya nendra lembut.
" ti..dak, aku.. aku hanya teringat seseorang" kataku sedikit gugup karena nendra yang menatapku intens.
saat nendra hendak kembali mengatakan sesuatu, tiba- tiba terdengar suara hux menggema.
" awaaas!!"
hux segera melemparkan sebuah bola berwarna merah dari tangannya untuk menghalau serangan yang mengarah kepada kami.
aku, nendra, deon dan rania langsung waspada , menatap ke sekeliling guna mencari tahu. siapa yang hendak mencelakai kami. yang jelas aku tahu itu bukanlah manusia.
ku lihat hux di atas sana juga tak kalah waspadanya seperti kami.
wuuuush
wuuush
sebuah bayangan hitam muncul mengintari kami, aku tidak bisa melihat makhluk apa itu? tapi suara itu adalah seperti suara burung.
benar saja, ternyata itu adalah siluman burung. tapi sangat berbeda, bentuknya sangat aneh tidak seperti hux, ini lebih menyeramkan. tanpa di perintah hux bergerak lebih cepat menangkis setiap serangan siluman burung itu.
aku hanya melihat setiap gerakan gesit yang hux lakukan, aku memandangnya dengan kagum. saat konsentrasiku tertuju pada hux yang sibuk melawan kedua siluman burung aku di kejutkan dengan sebuah tarikan pada kakiku.
" aaakh" pekiku.
dengan cepat nendra menahanku dengan melingkarkan tangannya di pinggangku. aku melihat ke arah kakiku yang terlihat sesuatu yang menjijikan melingkar disana.
nendra menatap nya tajam, terlihat dia mengambil sesuatu dari balik punggungnya. sebuah pisau kecil namun tajam. pisau yang sama yang ia gunakan kemarin.
dengan lincahnya nendra melempar pisau kecil itu tepat ke daging empuk berlendir yang membelit kakikuku.
terlihat pisau nendra menancap dalam membuat sesuatu yang tak kalah menjijikan mengalir berwarna kehijauan dengan bau busuk menyeruak hingga ke penciumanku.
rania yang berdiri di belakangku dan nendra langsung memuntahkan isi perutnya.
UWEK
dengan refleknya deon memijat tengkuk rania dengan lembut. aku merasakan belitan di kakiku mulai melemas dan kemudian terlepas .
daging berlendir itu menjauh dari kakiku hilang di semak- semak yang cukup jauh dari kami berada.
aku menoleh menatap wajah nendra yang masih menatap waspada sekeliling, tangannya masih melingkar erat di pinggangku. aku membiarkan tangan itu berada di sana. entah kenapa aku tak bisa menolaknya, aku merasa nyaman.
" kamu tidak apa-apa?" tanyanya , tatapan itu sungguh lembut dan penuh damba. membuat jantungku berdebar- debar. ada apa ini? kenapa dengan jantungku? aah tidak, aku hanya mencintai marioku.
" kamu melamun lagi" kata nendra menyentil keningku, membuatku meringis sambil mengusap pelan keningku.
hux turun dari udara saat berhasil mengalahkan kedua siluman burung itu.
" semuanya aman, kita bisa kembali melanjutkan perjalanan tuan, tapi sepertinya kita harus lebih berhati-hati kali ini. tempat yang kita tuju sudah dekat" kata hux pada deon. deon hanya mengangguk dan memerintahkan hux untuk kembali pada posisinya.
hux memberi hormat dan terbang kembali.