My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Penolakan



tabib mengantarkan rania ke sebuah perbatasan di mana di sana adalah jalan ke luar dari wilayah siluman ular.


sebenarnya ini sangat beresiko , jika ratu mengetahui dirinya yang telah membantu musuhnya. tentu tabib pasti akan segera di beri hukuman yang cukup berat. namun dia sudah berjanji untuk melindungi tuan mudanya juga putri rania yang kini sudah menjadi istri tuan mudanya dan itu artinya dirinya juga harus melindungi orang-orang terdekat dari tuannya. terlebih tabib meyakini bahwa sebentar lagi akan ada penerus baru yang akan segera hadir. mengingat itu sudut bibirnya berkedut , hingga senyuman tipis tercetak jelas.


" putri ran, maafkan aku hanya bisa mengantarmu sampai disini, karena di luar perbatasan ini bukan lagi wewenangku. kau harus berusaha sendiri kali ini" kata tabib dengan raut wajah khawatir.


" ya, aku tahu. terimakasih atas bantuanmu, aku harus pergi untuk mencari sahabatku, selamat tinggal" pamit rania pergi meninggalkan perbatasan, setelah mendapat anggukan dari tabib orang terdekat suaminya.


*****


nendra masih menggenggam tangan syalfa erat. kini kondisi syalfa sudah mulai membaik setelah mendapatkan perawatan dari tabib pribadi keluarga cira.


KRIET


terdengar suara pintu yang terbuka perlahan membuat nendra ingin segera tahu, siapa yang datang untuk menemuinya atau syalfa?


" anak muda, keluarlah lebih dulu. aku ingin berbicara sesuatu padamu" kata ayah cira setelah melihat nendra yang telah melihat kedatangannya.


nendra menganggukan kepalanya mengerti, tangannya perlahan menaruh telapak tangan syalfa pelan ke atas kasur. tangannya mengusap sayang rambut syalfa, nendra mengecup keningnya "aku keluar sebentar, nanti aku kembali lagi" ucapnya yang kemudian berlalu menyusul ayah cira yang sudah menunggunya di luar kamar.


dilihatnya ayah cira yang sudah duduk di salah satu kursi . di depan kamar yang kini di tempati syalfa memang ada sebuah taman kecil, di tengah nya terdapat tempat untuk bersantai dengan meja bulat dan beberapa kursi yang berjejer rapi. di sekelilingnya terdapat kebun bunga mawar merah, kesukaan cira.


" paman ingin berbicara soal apa? maaf jika kami merepotkan paman dan cira" kata nendra membuka obrolan sembari duduk di hadapan ayah cira.


" tenanglah, aku melakukan itu juga untuk putri kesayanganku cira. asal dia bahagia itu tidak masalah untukku. aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan sekaligus membuat permintaan padamu" kata ayah cira sambil menatap nendra lekat.


" iya. silahkan saja" kata nendra mulai serius.


" siapa perempuan itu? apa dia kekasih atau istrimu?" tanya ayah cira sedikit tak enak hati" maaf jika pertanyaan ini menyangkut urusan pribadimu, aku hanya ingin menjaga perasaan putriku" sambungnya.


" maksud paman? menjaga perasaan cira?" tanyanya merasa aneh dengan pertanyaan yang di ajukan ayah cira .


" jawablah terlebih dulu, nanti akan ku jelaskan"


" dia syalfa teman specialku" jawab nendra.


" iya, aku tertarik padanya sejak pertama kali aku melihatnya, mungkin sekarang aku sudah mencintainya" jelas nendra.


" jadi dia kekasihmu? itu maksudmu?" tanya ayah cira lagi.


" belum, dia tidak mengetahui tentang perasaanku. dia sedang mencari jiwa kekasihnya yang telah lama meninggal" jawab nendra dengan menghela nafasnya.


" jadi, kamu mencintai dia sedangkan dia mencintai orang lain namun orang itu telah tiada?" tanyanya memastikan.


" iya".


ayah cira menganggukan kepalanya mengerti dengan urusan cinta anak muda di hadapannya.


" anakku cira menaruh hati padamu, walaupun dia tidak memberitahuku, tapi dari tatapan juga perhatiannya terhadapmu itu sudah membuatku yakin dia menyukaimu" kata ayah cira sambil menatap nendra guna melihat reaksi raut wajah nendra. namun yang dilihatnya membuatnya menghela nafas berat. wajah datar dan dingin itu sudah memberitahu jawabannya. anak muda di hadapannya sama sekali tak tertarik pada putrinya.


" sebelumnya aku sudah pernah menjodohkan cira dengan beberapa anak dari sahabatku mereka adalah para pangeran dari kerajaan tetangga . namun tidak ada dari mereka yang membuat cira tertarik. cira hanya merespon sahabat kecilnya yang juga seorang pangeran kedua dari kerajaan rubah putih bagian timur, itu juga karena mereka teman dari kecil, namun cira hanya menganggapnya sebagai teman sekaligus kakak tidak lebih" jelas ayah cira.


" lalu? apa hubungannya denganku? kenapa paman membicarakan ini padaku? untuk perasaan cira sebenarnya aku sudah mengetahuinya. tapi aku hanya berteman dengannya tidak lebih. aku berbuat baik padanya hanya karena rasa terimakasihku atas pertolongannya padaku tempo hari" kata nendra mulai menjelaskan.


" iya aku tahu, apa kau bisa memberinya kesempatan untuk lebih dekat dengannya? dan mencoba membuka hati untuknya? sebagai seorang ayah, aku hanya ingin dia bahagia.


" maaf aku tidak bisa, ada banyak alasan yang membuatku tidak berani untuk mencoba. aku tidak mencintainya, dia dan aku juga berbeda, jika aku memberi dia jalan untuk dekat denganku. itu malah membuatnya hanya merasakan sakit karena memperjuangkan cinta sepihak. aku tidak sejahat itu, putri paman gadis cantik dan baik masih banyak lelaki di luar sana yang menunggunya" kata nendra tenang.


"iya aku tahu, tapi setidaknya dia sudah berusaha. hati seseorang tidak ada yang tahu, mungkin saja suatu saat kau akan menoleh ke arahnya. bukankah kau juga hanya cinta sepihak? bahkan wanita itu sama sekali tidak mengetahui perasaanmu itu, aku tidak masalah jika putriku hidup dengan manusia nenek cira ayahku juga manusia" jelas ayah cira.


" maaf sekali lagi paman, tapi aku tidak bisa. aku sangat mencintai syalfa, walaupun dia belum melihatku, tapi hatiku penuh untuknya, aku tidak membuka hati untuk siapapun" .


"baiklah jika itu keputusanmu. lalu, kapan kalian akan pergi" tanya ayah cira ketus.


" besok pagi- pagi sekali kami akan segera pergi" jawab nendra tegas.


" bagus, pergilah dan jangan berpamitan pada cira. nanti malam aku akan memberitahunya jika besok dia akan segera aku tunangkan dengan pangeran kedua.aku sudah memutuskan untuk menerima lamaran pangeran dari kerajaan timur" kata ayah cira beranjak pergi .


" tentu, terimakasih telah membantu kami" kata nendra sedikit meninggikan suaranya karena ayah cira sudah sedikit lebih jauh meninggalkannya.