My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Hamil?



Waktu sudah menunjukan waktu makan siang Syalfa dan Rania berjalan menuju kantin kampus.


Dengan semangat Rania menarik narik tangan Syalfa agar berjalan lebih cepat.


"Aduuh Ran, jalannya pelan- pelan aja napa? Pasti kebagian ko baksonya".


"Aku sudah laper Syalfa sayang, udah ga bisa di tunda lagi ". Rania masih terus menggeret tangan Syalfa yang menurutnya terlalu lelet.


" Kalian mau kemana?"


Syalfa dan Rania menoleh sesaat ," Oh Ka Deon? kita mau makan ke kantin" jawab Rania .


"Boleh kami gabung?" kini Galen ikut menimpali.


"Boleh boleh Ayo" Seru Rania semangat.


Sedangkan Nendra hanya diam menatap Syalfa dengan lekat.


Sesampainya di kantin Kampus mereka duduk di bangku kosong di dekat jendela.


banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka termasuk Lolita dan Bianca yang duduk tidak jauh dari mereka.


Keduanya menatap Rania dan Syalfa tak suka.


"Awas aja , aku akan beri mereka pelajaran !!" kata Bianca sambil Meremas sendok di tangannya.


Sedangkan Lolita hanya diam sambil melanjutkan makanannya.


Syalfa beranjak untuk memesan makanannya dengan Rania, Di ikuti Nendra yang ikut berjalan di belakangnya untuk memesan makanannya dengan sahabatnya.


Setelah menunggu cukup lama Syalfa dan Nendra kembali dengan beberapa minuman pesanan mereka. tak lama makanan yang mereka pesan datang.


"UHH mantep! " Rania mengacungkan jempolnya pertanda puas dengan Bakso di depannya.tangannya perlahan meraih sendok sambal namun Syalfa segera menepisnya.


"Sambel Terus!! inget Perut, kemarin aja nangis- nangis karena sakit perut, ini mau ngulang lagi? yang ada nyusahin entar" omel Syalfa sambil menyingkirkan Mangkuk berisi sambel menjauh dari Rania.


"Dikit aja lah ,janji ga Makan sambel banyak- banyak" Rayu Rania.


" Ga ada!!" tegas Syalfa.


HUEK


Rania menutup mulutnya saat tiba-tiba mencium aroma daun bawang. perutnya terasa mual, dengan buru-buru Rania berlari ke toilet yang ada di dekat kantin.


"Kenapa tuh?" tanya Galen yang melihat Rania berlari ke arah toilet.


Selang beberapa menit Rania kembali dengan Raut Wajah yang pucat, keluar keringat dingin di sekitar area wajahnya.


"Kamu kenapa Ran? ko muka kamu pucet gitu" Syalfa menatap Rania khawatir.


"Iya, sampe keringetan gitu, nih lap dulu tuh keringetnya sampe kaya gitu, kamu sakit perut?" Deon menyodorkan sapu tangannya yang di terima Oleh syalfa. Syalfa mengelap wajah Rania dengan perlahan.


"Syalfa" panggil Rania dengan lirih."Aku ..aku pusing, aku mau Pu.."


BUGH


"RANIA"


Pekik mereka bersamaan, Syalfa panik melihat Rania yang pingsan. untung Galen dengan sigap menopang tubuh Rania yang hendak membentur meja. karena posisi Rania tadi sedang berdiri.


Galen segera membawa Rania ke Ruang kesehatan yang letaknya di dekat Perpustakaan.


Banyak pasang mata yang melihat Galen menggendong Rania. membuat keduanya menjadi topik pembicaraan.


Syalfa, Nendra dan Deon juga menyusul di belakangnya.


"Tolong teman saya Dok" Syalfa dengan panik menarik tangan dokter yang bertugas di sana.


"Iya, tolong baringkan disini" Kata dokter yang mulai memeriksa Rania.


Dokter Menempelkan Stetoscope ke bagian dada Rania kemudian dokter menekan bagian perut dan nadi Rania.


"Bagaimana dok" tanya Syalfa tak sabaran.


"Begini, tekanan darahnya Rendah dan asupannya kurang, mungkin karena sering kali muntah. hal ini sudah biasa di alami pada Ibu Hamil" kata dokter sambil melepas stetoscope di kedua telinganya.


"APA"


Syalfa dan yang lain terkejut mendengar penjelasan dari Dokter.


"Hamil dok?" tanya Syalfa tak percaya.


"Iya, ade ini hamil" jawab dokter menatap mereka heran." Apa ada yang salah?" .


"Eh engg a dok" kata Syalfa sedikit tergagap.


"Ini Resep Vitaminnya, Kamu bisa menebusnya di Apotek terdekat. lebih baik teman kamu istirahat di rumah untuk beberapa hari" Saran dokter.


"Baik Dok, terimakasih".