
Semua tentangmu
Hanya berakhir Rindu
Belum bisa untukku miliki
Mungkin belum saatnya terjadi
_Nendra_
Nendra , syalfa dan cira berhasil keluar dari goa . pintu keluar masuk wilayah siluman buaya.
"Cepat kalian pergi ke daratan terlebih dulu, biar kami yang menutup pintu goa ini, sebelum mereka berhasil menyusul kalian" suara tegas seseorang membuat ketiganya menoleh ke arah suara.
" ayah?! kenapa ayah bisa berada disini?" tanya cira menatap ayahnya dengan pandangan berbinar sekaligus heran.
" bukan saatnya untuk membahas itu cira, kau bawa teman-temanmu menjauh dari tempat ini segera! pergilah ke daratan!" .
" aah , iya ayah"
" ayo ndra, cepat!" kata cira menatap nendra sekilas yang sedang merengkuh pinggang syalfa yang sedang dalam keadaan lemah.
nendra tidak menjawab, tapi tubuhnya mulai berenang, dengan membawa syalfa yang masih lemah di pelukannya.
nendra menatap syalfa, lalu mengecup keningnya lembut. fikirannya kembali fokus untuk mengikuti cira yang mulai menjauh.
syalfa yang merasakan sesuatu menempel di keningnya entah kenapa merasakan hatinya menghangat.lalu, matanya perlahan menutup sempurna.
" ada apa dengannya? apa dia baik-baik saja?" tanya cira, mendekati nendra yang sedang berusaha membuat syalfa sadar .
"dia pingsan, denyut nadinya sangat lemah. tubuhnya sangat dingin dan wajahnya begitu pucat. aku harus segera mengompresnya dengan air hangat" kata nendra menatap syalfa khawatir.
" iya, mungkin dia sudah terlalu lama berada di dalam air, sebaiknya kita bawa dia pulang" kata cira.
" iya" kata nendra singkat , lalu beranjak dengan menggendong syalfa kembali.
" sebaiknya kau naiklah ke punggungku, itu akan lebih cepat sampai" kata cira kemudian berubah wujud menjadi rubah berekor sembilan dengan ukuran yang lebih besar.
" apa itu tidak masalah?" tanya nendra ragu.
" tidak, bukankah aku yang memberimu tawaran?" kata cira.
nendra hanya diam, sambil memikirkan sesuatu." apa yang kau lakukan!? jangan terlalu banyak berfikir, atau temanmu akan menjadi lebih parah" kata cira yang langsung membuyarkan lamunan nendra .
" hemm" nendra hanya bergumam lalu mulai menaiki punggung rubah putih jelmaan cira dengan memangku tubuh syalfa.
setelah memastikan nendra sudah duduk dengan baik, cira langsung melompat tinggi dari pohon ke pohon. suasana malam yang gelap dan hembusan angin yang dingin, di tambah kecepatan cira yang berlari dan meloncat dengan gesit membuat hawa semakin dingin.
nendra memeluk tubuh syalfa dengan erat, berharap dekapannya membuat tubuh itu merasakan kehangatan dari tubuhnya. terkadang dia mencium kening dan pipi syalfa yang masih terpejam.
" bersabarlah ! kau gadis yang kuat! sebentar lagi, hanya sebentar.. kita akan segera sampai" kata nendra membisikan kata- kata penyemangat berharap gadis itu mendengarnya kemudian di akhiri dengan kecupan lagi di puncak kepala syalfa.
cira sebenarnya mendengar jelas perkataan nendra, walaupun itu adalah sebuah bisikan . tapi telinga rubahnya sangat tajam. bahkan suara yang cukup jauh pun cira bisa menangkapnya dengan jelas.
" sepertinya tidak ada tempat kosong di hatimu nendra, aku bisa melihat dan merasakan betapa kau mengkhawatirkannya, bahkan kau berani mempertaruhkan dirimu sendiri untuk menyelamatkan gadis itu" kata cira dalam hati. pandangannya masih fokus ke depan tapi tidak dengan fikirannya.