My Lover Is A Ghose

My Lover Is A Ghose
Negosiasi



Di sebuah lahan yang luas dengan di kelilingi pohon-pohon hutan yang menjulang tinggi. Nendra ,Syalfa dan kedua anaknya Sava dan Kris tengah berdiri menatap ke arah langit. Rania,Deon dan ke empat anak mereka ,Daffin,Liam,Alen,Alin mereka juga melakukan hal yang sama. Rasya ,Pak Hans dan sang anak Willy juga memperhatikan langit di sana. begitu juga Milla dan Dicky yang berjejer dengan Ayah mereka,


Sedangkan yang lain berdiri di belakang dengan memegang sebuah senjata sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.


Sedangkan di sisi lain, Ki wicak ,Hena ,Mario dan Beril memilih untuk berada di tempat persembunyiannya. sambil memantau dari jarak yang dekat. semua pasukan Roh milik Ki wicak akan di pimpin oleh Hin nanti. dan Karina memilih untuk terus bersama Andika dan jiwa-jiwa sahabat yang sudah berhasil mereka bebaskan dari kurungan. kini mereka bergabung siap untuk melawan. mereka berada di bagian kiri hutan.


Sebuah awan tengah berputar-putar di atas sana, di tengah Awan itu terdapat sebuah lorong berwarna hitam, itu adalah pintu masuk dan keluar antar dunia. terlihat dari bawah sini sebuah kilatan putih tengah menyambar -nyambar seakan memberi peluang agar lubangan hitam itu semakin melebar.


Syalfa meremat jemarinya yang berada di genggaman tangan Nendra. Nendra juga membalas rematan tangan sang istri memberi tanda."Aku akan selalu bersamamu".


Semua orang menatap lubangan itu dengan wajah yang tegang, namun tak membuat mereka takut.


Sebuah sosok tiba-tiba muncul dari atas sana.


Satu


Dua


tiga


empat


lima


enam


tujuh


delapan


Sosok berbulu dengan tangan berukuran cukup besar, bulunya sampai panjang dan gimbal. sorot matanya berwarna merah dengan tarik di kedua sisi bibirnya ,menjulang ke bawah. air liurnya sampe menetes di sela-sela taringnya.


kilatan kuku tajamnya seakan siap mencabik- cabik mereka satu per satu.


Melihat itu, Nendra langsung merengkuh anak dan istrinya.siap menjadi tameng untuk mereka.


Sedangkan Daffin,Liam dan Deon juga memasang badan untuk Rania dan kedua putrinya.


begitu juga dengan yang lain mempersiapkan senjatanya untuk siap tembak dengan tingkat kewaspadaan yang meningkat.


Tak berapa lama muncul kembali, kali ini sesosok bertubuh manusia dengan sorot mata tajam. Syalfa , Rania dan Mario tentu tahu sosok itu.


Seorang berjubah hitam hingga menutupi kepalanya, sorot mata yang mengerikan itu tengah menatap mereka satu per satu, seakan mencari seseorang, hingga sorot mata tajam itu berhenti pada seorang gadis kecil yang berada di barisan tengah terdepan. gadis kecil yang di gandeng oleh anak laki-laki tampan dengan sorot mata penuh ancaman menatap ke arah mereka.


Bibirnya yang memiliki taring lancip itu menyeringai , Syalfa yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya itu pun langsung berjalan dan berhenti tepat di hadapan putri kecilnya, seakan menghalami penglihatan sosok sang pemimpin.


Seringai itu perlahan menghilang digantikan, saat seorang wanita yang masih di ingatnya telah menghalangi penglihatannya.


Dari salah satu orang berjubah itu maju perlahan, terlihat dari wajahnya yang berambut putih dan panjang. dia seorang perempuan, matanya menatap tajam ke arah Syalfa seakan tak terima dengan tindakan Syalfa yang seakan menantang sang pemimpin.Dia mulai menyerang dengan kekuatannya .


WUUUUSSS


Sebuah asap putih transparan mulai menyerang Syalfa, namun dengan cepat Alen yang melihatnya langsung mengarahkan kekuatannya untuk menghalangi serangan itu dengan dinding transparan.


Dan Asap putih itu berhasil di halau dengan baik.


"Ada apa?" tanya salah satu rekannya saat melihat wanita berjubah itu tengah menatap anak kecil yang berada di barisan kiri, tengah tersenyum remeh padanya.


"Ada yang menghalangi seranganku, bocah kecil!!" geramnya.


"Tenang Lentera, itu hanya seorang bocah yang kebetulan memiliki sedikit keistimewaan".


wanita yang bernama Lentera tak lagi menjawab, pandangannya kembali pada Syalfa.


PrOK


PROK


PROk


"Manusia, manusia.. mari kita berbicara baik-bai dan membuat kesepakatan" kata sang pemimpin.


Nendra mulai maju dengan langkah tegapnya dan suara yang lantang.


"Kesepakatan apa?" kali ini Nendra mencoba untuk meladeni negosiasi ini, berharap bisa mengusir mereka dengan cara baik, tanpa harus ada pertumpahan darah.


"Aku hanya menginginkan jiwa yang kalian bawa, batu permata biru yang berada di tubuhmu dan juga wanita di sampingmu, aku juga ingin gadis kecil yang ada di belakang wanita itu, setelah kalian memberikannya padaku, aku berjanji akan menarik semua pasukanku dan menutup pintu ini untuk selamanya, aku dan bawahanku tidak akan mengusik kehidupan manusia".


"Tidak! aku tidak akan memberikan putriku padamu!" jawab Nendra tegas.


"Jadi kalian memilih untuk mengantarkan nyawa kalian pada ku? ooOh Manusia keras kepala, bagus..itu lebih menguntungkan aku, aku akan tetap mendapatkan semuanya dengan bonus budak-budak baru di istanaku".