
Mata cantik namun terkesan tajam itu menatap sosok tua yang kini masih diam dengan duduk nya yang tenang. dadanya naik turun menahan semua rasa .
"Bicaralah yang sopan nona" Him sang kaki kanan mulai angkat bicara, dia merasa kurang suka dengan tatapan Syalfa yang seakan menatap musuhnya.
"Tenanglah Sayang" kali ini suara lembut itu terdengar di telinga Syalfa, tentu hal itu membuat amarah di dadanya seakan meluap begitu saja.
Dilihatnya Mario yang berada disisinya, kini wajah tampan itu tersenyum ke arahnya. Walau dilihat dari matanya, ada banyak kesedihan disana. Syalfa mencoba membalas senyum itu.
Nendra mulai berjalan ke tempatnya semula, dia tidak ingin merusak suasana, walau tak bisa dia pungkiri. hatinya juga tidak baik-baik saja, terlebih saat dengan kasar Syalfa menolak bantuannya.
Dia tahu tindakannya tadi pasti menyakiti perasaan Mario, tapi dirinya juga tidak bisa mengendalikannya , hatinya sakit melihat raut wajah gadis yang dia cintai dalam diam terlihat begitu terkejut dan sedih. kakinya otomatis melangkah dan tangannya berusaha melindungi tubuh sang gadis yang akan terjatuh.tidak mungkin dia diam saja bukan?.
Sebuah tepukan di bahunya membuat Nendra menoleh. Dilihatnya sahabatnya tersenyum dan menggangguk, Nendra membalasnya dengan anggukan kepada Deon. seakan mengucapkan terimakasih sudah memberikannya semangat.
Disaat suasana sedang tegang, terdengar suara benda yang bergerak , Syalfa menoleh menatap nyalang pada sosok baru yang muncul. wajahnya gosong ada aliran darah dimana-mana, hanya ada satu bola mata yang masih utuh menatap ke arah Syalfa yang sedang dalam kondisi hati yang masih kurang baik. bukannya takut atau risih dengan sosok itu, justru Syalfa membentaknya.
"Apa lihat -lihat!! mau MATI lagi kamu!" Suara Syalfa yang terkesan dingin itu membuat Rania mengelus dada. Sahabatnya ini, kalau sudah seperti ini bahaya. tidak akan ada yang bisa menenangkannya kecuali pawangnya, siapa lagi kalau bukan Mario.
"MATI lagi? " Ike bahkan merinding mendengar Syalfa mengucapkan itu. "hantu yang malang" batinnya.
Setelah sosok tadi menghilang, Syalfa kembali menatap ki wicak .
"Tenang dulu, aku akan jelaskan jika kamu mau tenang nak, tidak akan baik jika kita berbicara dengan kondisimu yang sedang stabil" suara ki wicak akhirnya terdengar, bahkan kali ini sedikit lebih lembut. dia sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Syalfa yang kurang sopan, berani menatapnya seakan penuh permusuhan.Dia cukup tahu akan sikap gadis muda itu, hatinya pasti lelah selalu di permainkan oleh takdir.
Syalfa kembali merasa tenang, saat suara lembut Mario terngiang lagi di pendengarannya. kekasihnya itu memang selalu bisa membuatnya tenang.Syalfa kembali duduk di tempatnya dengan di dampingi Mario disisinya.
"Lanjutkan".
"Aku sendiri tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi, aku merasa ada yang aneh saat melihat Mario yang saat belajar menyentuh benda di Goa milikku tiba-tiba Jiwa nya memudar seperti yang kamu lihat sekarang. Dan saat itu juga HIM memberi tau padaku Dia melihat pemimpin kegelapan bangkit kembali bertepatan saat kalian berhasil keluar dari sana. Mario juga sempat melihatnya, Sosok itu berukuran berpuluh puluh kali lipat , bahkan saat diri kalian melayang keluar dari tempat itu, sosok itu seperti hampir memenuhi wilayah negri Keabadian. aku tentu kaget saat Mario mengatakan itu, aku sedikit ragu. karena Mario juga dalam kondisi setengah sadar ".
Syalfa menatap Mario yang menganggukan kepalanya seakan membenarkan ucapan ki wicak. lalu, pandangannya menatap HIM yang hanya diam tak ingin menatapnya. mungkin pengawal itu masih kesal dengan sikapnya tadi.
Syalfa kembali menatap ki wicak seakan memberinya persetujuan untuk kembali berbicara.
"Aku merasa, sebentar lagi kalian akan mengalami kembali masa silam itu. kali ini aku tidak yakin kalian akan menang melawannya. apa lagi kalian manusia-manusia biasa, hanya kamu dan Rania yang memiliki kekuatan paling besar. tapi itu juga kekuatan kalian sebagian tengah menghilang saat 3 tahun lalu bukan? bahkan kekuatan kalian semakin menipis saat ini akibat kejadian di alam lain tempo lalu".
"Lalu kenapa, tahu kami tidak akan menang tapi aki menyuruh kami untuk memanggil mereka kembali?".
" Walaupun mereka tidak kembali, mereka akan tetap mati. Apa kalian tidak ingat tentang itu. kalian terikat satu sama lain, setidaknya jika mereka kembali. mereka bisa membantu kalian saat melawan nanti. anggota kalian lebih banyak dari pada saat ini yang hanya 8 orang saja."
"Jangan pesimis seperti itu, dulu kita juga berfikir kita tidak akan selamat bukan? tapi lihat kita masih bisa hidup sampai sekarang" Mail menepuk pundak Ike memberi dukungan.
"Iya bukankah kita masih ada teman hebat yang lain, ada Rasya dan pak Hans?" Rania kembali mengingat dua orang itu. yang menurutnya juga hebat.
"kamu tidak ingat, mereka itu hanya orang asing yang membantu kita waktu itu. mereka tidak terikat Rania, hanya keberuntungan kita saja. saat itu mereka bisa masuk ke lingkaran kematian" Ike kembali mengingatkan, tentu jawabannya membuat Rania lesu.
"Aku sudah menemuinya, dan mereka akan kembali" Karina kali ini ikut angkat bicara.
"Benarkah?" Rania kembali senang saat mendengar mereka akan kembali.
Karina mengangguk mengiyakan,"Tapi itu tetap belum cukup, kekuatan mereka berlipat-lipat" Karina menunduk lesu.
"Kita bisa mencari Manusia berbakat yang bisa membantu kita nanti, seperti dulu . kita cari atliet silat, pedang atau apapun itu. bukankah itu bisa membantu?"
"Mereka itu bukan manusia Mail, tidak sesederhana itu".Rania mengehela nafasnya.
Semua orang diam, merasa bingung mencari solusi.
Hening
tidak ada obrolan lagi hanya ada suara benda- benda yang bergeser karena ulah-ulah usil makhluk di sana.
"Sebenarnya kita mungkin bisa menang" ki wicak sedikit ragu untuk kengungkapkannya.
"Bagaimana?" tanya Rania antusias.
"Akan ada kekuatan baru sebentar lagi salah satunya dari anak yang kamu kandung Rania, mereka adalah perisainya, tapi yang kita butuh pengendali perisai itu".
"Anakku? perisai? maksudmu anakku akan ikut berperang? wah , kamu benar benar gila aki! tidak tidak, aku tidak akan membiarkan mereka Mati" Kali ini Rania berbicara cukup tegas.
"Iya aki ini aneh aneh saja, masa balita ko suruh ikut perang, bukannya menang malah jadi santapan gratis mereka" Ike juga merasa keberatan.
"Bayi-bayi Rania bukan bayi biasa, dia anak dari pangeran Ular. mereka bisa membantu kita. aku yakin dari setiap anak Rania memiliki kekuatannya masing-masing" lanjut ki wicak.
"Ah iya aku melupakan itu" Ike menepuk jidatnya.