
Erina tak menyadarinya, tiba - tiba ia berada di tempat yang sangat gelap, hanya diterangi oleh cahaya obor yang temaram.
"Dimana ini? Leiva!? Varlo!?", Erina berteriak sambil mencari - cari.
"Mereka bukanlah teman - temanmu", terdengar suara besar yang menggema.
Ekspresi Erina yang tadinya panik, langsung berubah serius.
"Sudah kuduga, siapa kalian?"
Muncul sosok Leiva dan Varlo ke depan Erina, lalu perlahan berubah menjadi sepasang anak kecil botak yang berwajah mengerikan.
Kedua anak itu langsung berlari ke samping Erina dan mengikat kaki dan tangannya dengan tali tambang tanpa disadari.
"Ukh.. dasar tuyul!", Erina kesal.
Lalu dari depan, terdengar suara sebuah benda besar dan berat yang didorong.
Perlahan muncul dari kegalapan, sebuah kursi yang terbuat dari batu yang didorong oleh puluhan tuyul kecil. Di atasnya duduk makhluk besar bertubuh tambun, berhidung dan bertelinga panjang. Ia memakai tongkat dan mahkota dari kayu seperti seorang raja. Tubuhnya dipenuhi keringat dan mulutnya meneteskan banyak air liur.
"Nona Muriella sang penghancur! selamat datang di tempat hina ini, namamu sudah terkenal dimana - mana", ucap makhluk itu.
Erina melihatnya dengan tatapan jijik.
"Kau pemimpin tempat ini ya? kurasa kau sudah mengantisipasi tentang kedatanganku?"
"Izinkan saya memperkenalkan diri, saya Rajho, sang raja Goblin. Dan ya, tentu saja kami mengetahui kedatanganmu. Bahkan tak perlu menjadi hebat, orang biasa juga bisa menyadari kehadiran aura yang begitu kuat"
"Ha, aura? padahal kekuatanku kan belum kembali", Erina nampak bingung.
"Hahahaha.. apa kau sendiri bahkan tak menyadarinya? tentu saja aura dari benda gaib yang kau bawa itu!"
"Oh sial, rupanya hal itu dapat memancing", Erina bergumam dalam hati.
"Lalu apa mau kalian?"
"Nah, mengingat kaum kami adalah para pencuri yang terhormat, kami ingin meminta baik - baik dahulu barang - barang berharga yang kau bawa tersebut"
"Cih, lagaknya seperti kaum yang terhormat, padahal sosoknya benar - benar menjijkkan", pikir Erina.
Erina pun belum mengetahui, apakah mereka menyadari apa benda yang dibawanya, atau hanya merasakan auranya saja.
"Memangnya benda apa yang kubawa?", tanya Erina.
"Hoho mau mengujiku rupanya, tentu saja itu adalah...", Rajho terdiam.
Ia lalu menoleh kepada ajudannya di sebelah kirinya dan berbisik, "memang benda apa yang dibawanya?"
"Sa.. saya juga tak tahu tuan, tadi informasinya hanya sebatas aura dari benda gaib", jawab ajudannya panik.
"Dasar bodoh! panggil informannya kemari!"
Lalu tak lama muncullah dua sosok tuyul yang sebelumnya menjadi Leiva dan Varlo menghadap Rajho.
"Hei, beritahu aku benda apa yang dibawanya!"
Kedua tuyul itu langsung bertatapan.
"Kami juga tak tahu tuan"
"AH SAMA SAJA KALIAN SEMUANYA BODOH!", Rajho emosi.
Erina bisa melihat bahwa makhluk - makhluk yang dihapannya ini bukan makhluk yang pintar. Ia pun segera mencoba untuk mengorek informasi.
"Okee begini, aku akan memberitahukan apa yang kubawa, tapi sebelumnya beritahu aku darimana kalian tahu sosok dua orang yang kukenal? dan bagaimana kalian bisa melihat aura dari benda gaib yang tidak semua astral bisa melakukannya"
Salah satu tuyul menjawab, "Jadi, kami berdua sedang berpatroli di wilayah dekat pintu masuk, lalu aku, Jimon merasakan aura kuat dari pendatang yang menggunakan kereta kuda karena aku menggunakan batu bertuah ini", ia menunjukkan kalung dengan batu permata berwarna biru.
"Memangnya tahu darimana aura itu dari benda gaib, bukan dari orangnya?"
"Warna auranya berbeda"
"Oh, lalu? bagaimana bisa tahu sosok itu?"
Tuyul satunya ikut menjawab, "lalu aku, Dijon menggunakan batu bertuah ini untuk melihat siapa sosok yang berpengaruh dalam pikiran seseorang", ia menunjukkan kalung batu berwarna kuning.
Erina baru mengetahui bahwa ada sistem batu bertuah yang bisa memberikan seseorang kemampuan tertentu yang tidak dimilikinya sebelumnya.
"Hmm.. begitu, sebenarnya ada banyak yang kupikirkan, tapi apa alasan kalian memilih kedua orang itu? apa kalian bisa melihat latar belakang cerita mereka?"
"Lalu kenapa kalian bisa menjawab pertanyaanku dengan benar?"
"Ituuu kebetulan saja, kami juga khawatir kalau salah menjawab"
"Ahaha begitu rupanya, kalian sangat beruntung. Tapi sepertinya cukup sampai di sini"
Erina ingin berlagak sok keren dengan melepaskan ikatannya, namun ternyata sangat sulit.
"Ikatan itu bukan yang mudah dilepas nona, nah sekarang kau sudah mengetahui triknya, sekarang berikan bendanya!", Rajho berkata dengan tegas.
"Untuk apa kuberikan? memangnya kau bisa pakai?"
"Itu akan kugunakan untuk menstabilkan energi di wilayah ini, tempat ini butuh benda gaib untuk itu"
Erina merasa tujuan Rajho tidaklah buruk, namun ia tak akan semudah itu memberikan benda - benda penting yang dititipkan kepadanya tersebut.
"Memangnya kau tak akan menggunakannya untuk kekuatanmu sendiri?", Erina mencoba mengujinya.
"Ohohoho.. tentu saja itu juga! aku sebagai raja dari tempat ini harus mendapatkan kekuatan agar tak terkalahkan! ohohoho.."
Sesuai dugaan Erina, para goblin dan tuyul ini bukan makhluk yang pintar, meskipun mereka cukup licik.
Erina memejamkan matanya dan berkonsentrasi, ia mencoba mengaktifkan mahkota dan cincinnya bersamaan dan memanggil pak Uwo serta Ratna ke tempatnya sekarang.
Para makhluk memperhatikan Erina yang sedang berkonsentrasi.
"Hei dia seperti akan melakukan sesuatu, periksa auranya!", perintah Rajho.
Jimon mengarahkan kalungnya ke Erina, dan terlihat aura yang mengembang seperti gelombang yang akan terpancar.
"Di.. dia akan memakai kekuatan dari benda gaib itu tuan!"
"Apa bendanya!?"
"Ngg.. sepertinya mahkota, dan cincin"
"Tiarna Fatchach dan Anelle de Batalla! luar biasa dia punya dua sekaligus", Rajho langsung merasa bersemangat.
Erina berusaha sekuat tenaga, namun sepertinya tak membuahkan hasil.
"Ohohoho tak perlu berusaha sekeras itu nona, kau berada di tempat yang telah kututup dengan kemampuan isolasiku, kekuatanmu itu tak bisa dipakai di sini", ucap Rajho.
Erina membuka matanya, ia khawatir ini akan menjadi berbahaya, karena ia tak bisa menggunakan kemampuan yang baru dimilikinya itu. Dan teman - temannya tak dapat melacak lokasinya.
...----------------...
Ratna dan pak Uwo yang berada di pedesaan.
Mereka terus mencari Erina dengan bertanya kepada orang sekitar namun tak ada yang melihatnya.
Lalu orang - orang di sekitar mereka mulai tertawa kecil. Satu persatu, lalu semua orang tertawa mengikik, terdengar seperti suara tikus yang terlindas mobil.
Wujud semua orang mulai berubah.
Warga desa itu ternyata adalah para tuyul dan goblin. Para pencuri bertubuh kecil dan lincah dengan wajah mengerikan. Semuanya melihat ke arah Ratna dan pak Uwo.
"Ngg.. Ratna, sepertinya ada masalah di sini"
"Tidak juga ,sepertinya bisa kita bereskan dengan mudah"
"Berikan barang - barang berharga kalian!", teriak goblin berkulit biru dan bermata merah mengacungkan pedang berkarat.
"Sepertinya itu pemimpinya", Ratna menunjuk.
"Ya, biar aku yang mengurus mereka, kau cari nona Erina", ucap pak Uwo.
"Kau yakin?"
"Ya! cepatlah! kita tak tahu apa yang terjadi padanya"
"Baiklah, caw!", Ratna berteleportasi menjauh dari wilayah itu.
"Nah, aku tak menginginkan ada masalah di sini, aku hanya ingin bertemu pemimpin kalian", pak Uwo berkata lembut.
"Ah berisik! hajar dia!"
"Waaaaaa..", ribuan tuyul dan goblin menyerang pak Uwo secara serentak.