
Erina dan Asmodeus telah memasuki hari
keduanya di atas gerbong kereta eksklusif hasil bantuan dari Alexei, saudara satu ayah Erina.
Hari masih pagi, Asmodeus yang bangun lebih dulu menatap keluar jendela sambil merenung.
Pegunungan, lautan, perkotaan, orang - orang. Semua yang dilewati, begitu banyak dan luas. Semasa Ia menjadi astral, hal - hal seperti itu tak pernah terlintas di pikirannya.
Asmodeus merasakan banyak hal yang menjadi berbeda ketika dirasakan sebagai makhluk yang paling sempurna, namun memiliki banyak keterbatasan, yaitu manusia.
Sempat terbersit dalam pikirannya, apakah hidup sebagai manusia adalah hal yang lebih baik? namun itu bukanlah dirinya yang sebenarnya.
Ia melirik ke arah Erina, Erina tersenyum kepadanya lalu beranjak dari kasur.
Asmodeus memikirkan apa yang kira - kira akan terjadi setelah ini semua selesai. Apakah Ia akan kehilangan Erina? apa Ia akan kembali ke keabadian? atau justru Ia akan mati sebagai manusia? masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti, tidak ada yang bisa memprediksinya. Kecuali orang - orang terpilih yang diberikan mukjizat.
"Mo, habis ini kita ke gerbong makan untuk sarapan ya", ajak Erina seraya membereskan seprainya.
"Oke, aku juga sudah lapar.. mandinya
nanti saja ya"
"Aku kangen mie instan, semoga mereka menyediakan Ind*mie"
"Haha.. mana mungkin di kereta semewah ini"
...----------------...
Di gerbong makan, mereka berdua menatap buku menu yang cukup tebal. Desainnya klasik seperti menu dari restoran mewah bergelar michelin star. Sang pelayan menunggu di sebelah meja dengan sabar.
Meskipun banyak, namun sebagian besar isi menu adalah sesuatu yang belum pernah mereka dengar ataupun lihat.
Sepuluh menit lebih mereka berpikir, sang pelayan pun mulai terlihat gelisah karena menunggu.
Saat sudah hampir putus asa, Erina membuka bagian menu dari mancanegara, dan melihat di halaman belakang 'Indonesian instant fried noodle with egg'.
"Yeay! aku menemukannya! I want this ya"
Erina menunjukkan keinginannya dengan bersemangat kepada sang pelayan.
Sang pelayan segera mencatatnya, lalu Ia berpaling kepada Asmodeus yang belum menyebutkan pesanannya.
"Hmm..I want chicken porridge and
half cooked sunny side egg"
Asmodeus menyebutkan pesanannya.
"The drink?"
tanya sang pelayan.
"Hot americano!"
Sebut keduanya bersamaan, lalu mereka sama - sama tersenyum.
......................
Tak perlu waktu lama bagi restoran mewah di dalam kereta untuk membuatkan pesan dua orang pelancong yang kebingungan.
Pesanan mereka datang dan diletakkan diatas meja, mata Erina berbinar.
"Kayaknya lebih lama kita memilih menunya daripada masak pesanannya ya", ucap Asmodeus.
"Iya benar, selamat makaan..", Erina mengangkat garpunya.
Mereka pun menyantap hidangan di depan mereka dengan lahap selagi hangat. Sesekali mereka saling memandang kemudian tersenyum.
...----------------...
Setelah perut kenyang, mereka kembali ke kamar, lalu memutuskan untuk menonton film sambil duduk di sofa. Mereka benar - benar menikmati momen ini selayaknya pasangan yang sedang berbulan madu.
"Kalau kita gak menemukannya disana bagaimana?", tiba - tiba Erina mengungkapkan kekhawatirannya.
"Kita kan sudah mendapatkan bantuan dan fasilitas dari Alexei, semoga itu mempermudah kita untuk mencarinya ya"
"Ba.. bagaimana k**alau dia sudah keburu meninggal**?", Erina mulai menitikkan air matanya.
Asmodeus mendekatkan tubuhnya lalu memeluk Erina yang mungil. Erina pun menyenderkan kepalanya di bahu Asmodeus yang lebar.
"Kamu jangan terlalu memikirkannya dulu ya, perjalanan kita masih panjang. Yang pasti kita harus berusaha, dan aku pasti akan membantu kamu sekuat tenaga"
ucap Asmodeus untuk menenangkan Erina yang sedang banyak pikiran.
Erina tersenyum lalu memejamkan matanya, tak lama kemudian Ia langsung tertidur. Asmodeus memindahkannya ke atas kasur, kemudian menyelimutinya dengan selimut dari bulu angsa yang sangat lembut.
Asmodeus menulis sebuah pesan pada secarik kertas untuk Erina, menaruhnya di meja tengah, kemudian Ia keluar kamar untuk mencari udara segar.
Di dalam kereta ada ruangan terbuka khusus yang difungsikan untuk melihat pemandangan sekaligus menikmati udara. Namun letaknya cukup jauh, di gerbong paling belakang.
...----------------...
Di sebuah pegunungan yang tinggi, terdapat dua orang yang sedang mengamati perjalanan kereta itu dari jauh.
"Disini cukup dingin.. apa kau yakin itu keretanya?"
Tanya Behemoth sambil menggigil.
"Iya aku yakin, aku bisa mencium baunya
dari sini"
Kata Succubus percaya diri.
"Sue, aku yakinkan kau sekali lagi ya, kalau Kita membantu mereka, kita juga akan terkena mantra perjanjian dan menjadi manusia"
Succubus menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya, kemudian menatap Behemoth dengan tajam, lalu mengangguk dengan yakin.
"Aahh..ini semua terjadi karena perasaan cinta kan? kenapa aku jadi harus ikut dalam situasi seperti ini?", Behemoth menyesali.
"Karena aku tahu kau menyukaiku, jadi mau tak mau kau juga ikut membantu", ucap Succubus selagi menatap kereta yang akan lewat.
Behemoth terdiam dan mengeluarkan keringat yang banyak, Ia terkejut ternyata Succubus menyadarinya selama ini.
"Kita para iblis memang disibukkan dengan berbagai perasaan ini, karena kita memang diciptakan demikian, memiliki segala hasrat dan keinginan, cinta, benci, kesedihan, kesenangan, dan kemarahan, tidak seperti para malaikat yang tidak memiliki hasrat dan perasaan, namun hanya menjalankan tugasnya saja", ucap Behemoth.
"Itulah kenapa neraka jauh lebih ramai
daripada surga"
"Kadang aku iri kepada eksklusifitas surga"
"Sudahlah! sekarang kita harus masuk ke kereta itu, persiapkan dirimu!", perintah Succubus.
...----------------...
Asmodeus sedang berdiri di luar sambil memegang pagar pembatas gerbong. Ia menghirup udara yang segar sambil meminum segelas jus jeruk.
'Gubrakk', tiba - tiba ada benda besar yang jatuh di dekatnya, Ia reflek menjauh.
"Succubus, Behemoth! ngapain kalian!? kalian pasti ditugaskan Lucifer untuk menggagalkan kami kan!?", Asmodeus yang terkejut langsung mengarahkan sedotan minumannya seolah itu adalah sebilah pisau.
"Ah...jadi begini..Behemoth coba jelaskan!"
Succubus panik.
"Kenapa jadi aku??"
Lalu Succubus dan Behemoth pun menjelaskan keadaannya pada Asmodeus, namun
Asmodeus tidak langsung percaya begitu saja, tentu dia memahami fakta bahwa perkataan iblis tidak bisa dipercaya.
"Kenapa kalian bisa menemukan kami lebih cepat daripada yang lain?"
"Karena aku bisa mencium baumu", ucap Succubus dengan tatapan yang berbeda.
"Ha?!"
Asmodeus lantas mencium bajunya, memastikan apakah ada bau yang tidak sedap dari badannya.
"Aku harus bilang pada Erina untuk bersiap dengan keadaan ini", Asmodeus segera bergegas pergi menuju ke kamarnya.
Succubus mengikuti di belakangnya, Behemoth pergi ke toilet karena perutnya terasa sakit.
Di saat menuju gerbong, Succubus merasakan bahwa para astral jahat sudah mulai mengerubungi kereta, auranya terasa dimana - mana.
Mereka sampai dikamar, Erina terbangun dan Asmodeus langsung menjelaskan keadaannya.
"Apa kamu mempercayai dia? dia kan jahat sama kita"
Erina nampak ragu dengan Succubus.
"Sekarang bukan saatnya tidak percaya! karena mereka bisa muncul kapan saja!"
Succubus meyakinkan Erina.
Erina berfikir sejenak,
"Tapi logikanya..kalau Succubus dan Behemoth menjadi manusia juga, bagaimana bisa melawan astral yang tidak nampak? justru hanya aku yang masih bisa melihatnya"
"Ah benar juga ya"
Succubus setuju dengan Erina.
"Tidak, kalau para astral memang ingin menyerang kita secara fisik, mereka harus masuk ke dimensi lapisan kedua, yang dimana mereka akan jadi terlihat bagi semua orang di dimensi ini, termasuk manusia biasa", Asmodeus menyebutkan salah satu hukum antar dimensi yang berlaku.
"Apakah astral level rendah bisa melakukan itu? bukankah itu akan memakan energi yang sangat besar?", Tanya Erina.
"Tentu bisa, mereka sudah dibekali para petinggi dengan jimat khusus", Succubus melanjutkan.
Erina merasa tegang, tidak menyangka akan terjadi situasi yang seperti ini.
Ia mengira semua akan berjalan lancar karena telah membuat perjanjian, namun Ia pun memahami, perjanjian dengan iblis tidak akan menguntungkan bagi siapapun yang melakukannya.
Tiba - tiba seorang pria bertubuh tambun masuk ke kamar mereka, "maaf aku terlambat, jadi bagaimana rencananya"
Asmodeus, Succubus dan Erina terdiam menatap pria itu, mereka tidak mengenali pria tersebut.
"Kenapa kalian melihatku begitu? ini aku Behemoth"
Semua pun tertawa melihat penampilan Behemoth yang berubah menjadi seperti
bapak - bapak penjual obat.
Tiba - tiba kereta berhenti mendadak.
Semua orang terkejut.
Keadaan menjadi hening.
Tiba - tiba semua penumpang di kereta pingsan. Itu adalah ilmu hipnotis dari Belial, anak buah Mammon.
Para iblis dan astral jahat pun mulai memasuki kereta secara perlahan, mereka masuk dari gerbong paling depan.
"Kita tidak akan leluasa bertarung di tempat sesempit ini, kita harus keluar"
Saran dari Asmodeus yang diikuti oleh semuanya, mereka menuju gerbong yang agak lebar, yaitu gerbong makan.
Sesampainya di gerbong makan yang sepi,
mereka berempat membuat posisi wajik dan Erina berada di paling belakang.
Karena para astral jahat telah menguasai kereta, bahkan orang biasa bisa merasakan aura yang berat dan negatif ini.
Muncullah makhluk aneh satu per satu
"Sssepeertinya kalian sudah mengetahui kedatangan kami" ucap seekor siluman ular.
"Sepertinya begitu, karena ada para pengkhianat di kelompok mereka"
Balas makhluk berbentuk pocong yang menatap ke arah Succubus dan Behemoth yang sekarang manusia biasa.
"Apa mereka sudah datang?"
tanya Asmodeus kepada Erina.
Hanya Erina yang bisa melihat semua makhluk itu.
"Mereka jelek sekali. Membuatku muak saja", ucap Erina dengan tatapan jijik.