
Erina kembali ke wujud asalnya, dan langsung tak sadarkan diri.
Succubus segera bergegas untuk menutupi tubuhnya.
Tak lama berselang, muncullah sang pria misterius.
"Aku akan memberikan pengumuman. h
Hari ini, kemenangan telah didapatkan oleh klan Roviolo atas klan Arblegas. Dengan ini, izin untuk masuk ke menara kekuatan telah diberikan, maksimal tujuh orang perwakilan dari klan yang diperbolehkan masuk ke dalam menara, sekian"
"Ah saya mau tanya!" Damien mengangkat tangannya.
"Ya silahkan"
"Apa kami boleh beristirahat dan mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam"
"Hanya satu jam, setelah itu gerbang pertama akan tertutup untuk empat tahun kedepan"
"Hah!? hanya satu jam!?"
"Ya, maksimalkanlah waktu kalian dengan baik"
pria misterius menghilang
"Astaga, tempat ini benar - benar gak membiarkan kita bernafas dulu"
Succubus terbang membawa Erina "Apa kata pria itu?"
"Waktu kita hanya satu jam sebelum gerbangnya tertutup"
"ishh..benar - benar menyebalkan, baiklah aku akan pergi untuk membawa Lily kemari, kau tunggu disini jaga Erina. Kakek, kau bagaimana?"
"Aku sudah menyaksikan keajaiban"
"Baiklah kau akan kuantar pulang, lalu kalian berdua?"
"Kami akan ikut ke dalam!" dua bocah itu nampak bersemangat
"Kalian yakin?"
"Iya!"
"Bawalah mereka, mereka sudah tak punya orangtua, mungkin masuk ke dalam sana akan membuat mereka memiliki tujuan hidup baru" ucap Luvo
"Baiklah aku pergi dulu" Succubus membawa Luvo kemudian kembali ke kota
Damien menatap kedua bocah itu "Kita sudah bersama beberapa hari, tapi aku belum tahu nama kalian berdua"
"Aku Leiva, putri seorang petani gandum, dan ini sepupuku Varlo, ayahnya adalah seorang peternak"
"Apa pekerjaan paman? apa paman juga seorang monster seperti tante iblis dan tante titan", tanya Varlo polos.
Damien tersenyum, "Iya, mungkin bisa dibilang aku juga monster, pekerjaanku adalah mencabut nyawa orang".
"Akh..apakah paman yang mengambil nyawa orangtua kami?", Leiva terkejut.
"Tidak - tidak, aku bekerja di belahan dunia yang lain, bukan disini".
"Hoo..padahal aku baru mau tanya bagaimana kabar orangtua kami, apakah mereka baik - baik saja, kata kakek Luvo mereka sudah pergi ke surga".
Damien merasakan perasaan iba kepada kedua bocah ini.
"Aku yakin mereka baik - baik saja, karena anak mereka sudah besar - besar dan kuat".
Mereka tersenyum
"Eh tantenya bangun" Varlo menunjuk Erina
Damien menghampiri dan mengusap kening Erina "Na..gimana perasaanmu?"
"Aku...pusing..gimana dengan perangnya?"
"Tuh hasil dari kerjamu" Damien menunjuk ke arah ribuan mayat manusia dan monster yang bertumpuk di padang rumput.
Erina tercekat, kemudian menangis.
"Aku...tak suka dengan ini...aku tak ingin membunuh siapapun, tapi...kenapa? kenapa harus begini? huu...."
Damien menaruh kepala Erina di pundaknya, "Tenanglah, ini semua demi sesuatu yang baik"
"Kalau baik kenapa harus dibayar dengan nyawa, kenapa juga dari awal aku bersemangat sekali memenangkan perang ini!?"
"Mungkin itu sisi dirimu yang lain, yang tak bisa kau kendalikan"
"Kau terluka?"
"Aku gak apa - apa"
"Aku ada pertanyaan untukmu"
"Apa itu?"
"Kenapa sebelum berperang, kau berteriak demi Lily?"
"Ahh..itu..."
"Lalu, aku lihat kalian berpegangan tangan sebelum kesini"
"Emhh...kan..itu.." Damien terlihat salah tingkah
"Apa ada sesuatu di antara kalian berdua?"
"Akuu....kan terdampar bersamanya, jadi aku merasa harus selalu melindunginya, wajar kan?"
"Hmm..baiklah, aku hargai bantuanmu"
Damien menghela nafas lega.
Namun Erina tetap mencurigai adanya sesuatu antara Damien dan Lily.
Succubus kembali membawa Lily dan juga banyak kantung yang besar - besar.
"Nak kamu gak apa - apa?" Lily langsung menghampiri dan mengkhawatirkan Erina
"Aku gak apa - apa, berkat ramuan yang mama berikan"
"Bagus deh, Damien juga?"
"Pasti dong, aku...." Damien belum selesai bicara
"Astaga lukanya banyak banget, sini aku obati dulu" Lily langsung sibuk merawat Damien.
Damien hanya bisa pasrah, ketika Lily sibuk merawat, dan Erina menatap curiga.
Setelah semua beres, Erina, Damien, Succubus, Lily, Leiva, dan Varlo bersiap memasuki gerbang pertama yang telah terbuka untuk menuju ke menara kekuatan.
Semuanya merasa tegang, dan ketika sudah melewati gerbang, pintunya yang begitu besar langsung tertutup.
Leiva dan Varlo berpelukan karena ngeri dengan suasana yang suram.
Areanya begitu luas, dan di kejauhan nampan seperti pintu gerbang yang lebih besar lagi.
"Kita harus siap untuk bertarung lagi sebelum masuk gerbang itu, karena katanya ada penjaganya" Damien mengingatkan
"Erina belum siap, Ia masih lelah" ucap Lily
"Tak perlu khawatir, aku bisa melanjutkannya kok"
"Ya benar, ucap seorang yang sekarang sedang digendong" Succubus menyindir
"Hehe"
Erina digendong di punggung Damien karena tubuhnya yang masih lelah sehabis melakukan transformasi.
"Tenang, sekarang giliran kami yang beraksi, karena paman dan tante pasti lelah", ucap Varlo.
"Haha..kau sangat bersemangat nak", Succubus mengusap kepala Verlo.
Sebelum mencapai pintu gerbang kedua, mereka memutuskan untuk beristirahat di reruntuhan.
"Karena sudah di dalam gerbang, kita tak perlu terburu - buru bukan?", tanya Lily.
"Ya, semoga begitu, memang baik juga kalau kita istirahat dan mengumpulkan tenaga dulu disini", jawab Damien.
"Kalau begitu, aku akan terbang dan mencoba melihat situasi di depan ya".
Succubus terbang dengan santai
Ia melihat ada sesuatu yang besar di depan gerbang.
Itu adalah anjing berkepala tiga, Cerberus, Succubus merasa heran.
"Hmm..kemarin ada Mephisto, lalu sekarang Cerberus, aku curiga ada campur tangan Satan dalam semua ini".
Succubus kembali dan memberitahu yang lainnya apa yang harus mereka hadapi di depan.
"Jadi, karena mengenalnya, kau pasti tahu apa kelemahan makhluk itu kan?" tanya Erina
"Hmm...sebenarnya aku jarang melihatnya, karena anjing itu memang selalu digunakan Satan untuk menjaga sesuatu yang berlokasi entah dimana. Tapi ya normalnya seekor anjing, mereka bisa teralihkan oleh sesuatu".
"Tapi kau tak tahu apa itu?"
"Sepertinya...diantara tiga kepalanya, ada satu yang sulit untuk fokus, mungkin aku bisa menganggunya lalu kalian cari celah untuk melewati gerbang".
"Baiklah, sekarang kita istirahat untuk memulihkan tenaga, aku akan menyiapkan makanan", Lily mengeluarkan perbekalan.
Succubus memperhatikan Lily kemudian bertanya, "Lily".
"Ya Sue?"
"Apa kau keturunan Titan?"
Lily terdiam.
"Kau....tahu darimana?"
"Kata Luvo sosok Erina sewaktu berubah adalah wujud seorang Titan"
"Hmm..iya, aku sebenarnya...adalah anak haram dari Kronos"
"Wah, berarti kau bersaudara dengan Zeus?" Damien terkejut.
"Iya, tapi karena aku anak haram aku tak dianggap di keluarga itu, bahkan Zeus tak tahu bahwa aku saudaranya", Lily bercerita dengan lesu.
"Jadi, mau tak mau, Erina adalah gabungan dari sosok - sosok yang sangat kuat", Damien memperjelas.
Leiva dan Varlo terkagum menatap Erina.
"Aku tak tahu kalau seorang Titan mewariskan wujudnya melewati satu generasi".
"Mama..bagaimana sosok para Titan itu? apakah mereka baik?", Erina bertanya.
Lily menunduk, kemudian menggeleng,
"Tidak nak, justru para Titan adalah sosok penghancur yang amat dahsyat, bahkan Kronos kakekmu sering memakan anak - anaknya yang menurutnya akan mengambil alih kekuasaanya"
Erina bergidik ngeri.
"Mereka sangat besar, dan memiliki ego paling tinggi karena merasa bisa melakukan apapun.
Dahulu Yunani dikuasai oleh kaum Titan. Mereka membuat keturunan dimanapun dengan tujuan memperluas kekuasaan, namun keadaan menjadi tak terkendali. Kaum lain yang merasa para Titan sangat semena - mena mulai berusaha menyerang mereka. Ibuku berhasil kabur membawaku sebelum Kronos menyadarinya, sampai akhirnya Kronos mati dibunuh oleh keturunannya sendiri, Zeus lah yang menginisiasi dan mengakhiri rezim Titan yang lalim. Akupun tak pernah merasa bangga menjadi keturunan dari kaum yang sangat tak manusiawi itu. Tapi ya, hidup siapa yang tahu, pada akhirnya, meskipun anakku sendiri mendapatkan kutukan itu, aku juga...uhh..."
Lily mulai menangis saat bercerita.
Erina menghampirinya dan mendekapnya
"Aku akan membuang kutukan ini disini ma, mama harus menyaksikannya sendiri"
Mereka berdua berpelukan.