
Setelah terbang selama setengah hari, pesawat yang ditumpangi Erina dan Asmodeus tiba di bandara kota Moskow pada tengah malam.
Kapten mengumumkan keadaan cuaca dan waktu setempat, meskipun belum.musim dingin tapi angin yang berhembus cukup kencang dan sangat dingin.
"Ahh.. rasanya lega akhirnya sampai juga"
Erina meregangkan tubuhnya, lalu bangkit dari kursinya dan menghampiri tempat duduk Asmodeus.
Asmodeus tertidur menggunakan jaket bulu, jam tangan mewah, tas pinggang serta parfum yang baru dibelinya dari katalog pesawat.
Di sekitarnya juga nampak camilan dan minuman yang berceceran.
Penumpang di sebelahnya keluar dan agak bergumam karena kesal pada sikap Asmodeus yang berantakan, Erina kemudian meminta maaf.
"Yaampun ini orang, kayaknya waktu bikin perjanjian yang seharusnya hilang kekuatannya deh, bukan otaknya",
Erina masih tidak habis pikir dengan sikap Asmodeus yang 180 derajat perubahannya setelah menjadi manusia.
Setelah Asmodeus bangun mereka pun bergegas menuju ke dalam airport untuk mengambil koper berisi baju dan perlengkapan.
Sedangkan koper berisi uang dibawa di dalam kabin.
"Kenapa Kamu beli semua itu?", tanya Erina ketus.
"Ini.. untuk menutupi rasa mual dan stressku,
aku mabuk udara"
"Apa hubungannya mabuk udara dengan jam tangan?"
"Oh kalau ini supaya kita lebih tepat waktu"
"Alasan saja, habis berapa semuanya?"
"Gak sampai lima belas juta kok", jawab Asmodeus santai.
Erina lemas sampai hampir pingsan, Ia langsung merebut koper yang berisi uang tunai dari tangan Asmodeus, dan sekarang kopernya terasa sangat ringan.
"Hei nanti kamu keberatan bawa itu", Asmodeus berusaha mengambilnya kembali.
"GAK! INI SANGAT RINGAN! Karena isinya hampir nggak ada!", Erina memarahi Asmodeus.
Karena Ia ingin perjalanan ini lancar, Ia takut kalau kehabisan biaya mereka akan berakhir menjadi gelandangan di negeri orang.
Setelah berjalan sepuluh menit, mereka berdua tiba di tempat pengambilan bagasi, mengantri dengan semua orang yang tadinya berada di penerbangan yang sama.
Namun di antara orang - orang itu ada beberapa yang nampak mencurigakan.
Memakai pakaian serba hitam, kacamata hitam dan berbadan tegap. Ada dua orang dan mereka sesekali melihat kearah Erina terus sambil berbicara menggunakan earphone tanpa kabel yang menempel di telinganya.
Melihat itu Erina menjadi was - was.
"Mo, kamu lihat orang - orang yang berbaju setelan hitam dan pakai kacamata hitam itu gak?"
"Iya lihat, kenapa?"
"Hmm.. oke berarti mereka bukan astral, namun mereka bisa saja penculik bukan?"
"Bukannya mereka petugas airport?"
Ucap Asmodeus yang tidak curiga sama sekali.
"Ya bukanlah! mereka melihat ke arah kita terus, mungkin kita akan dijadikan sasaran untuk penjualan organ tubuh", Erina berbicara dengan pelan namun tegang.
"Hah? masa sih?", Asmodeus merasa dugaan Erina sangat berlebihan.
"Ayo cepat ambil kopernya kita langsung buru - buru keluar!"
Setelah mengambil barang mereka, Erina dan Asmodeus berjalan cepat, berusaha mengikuti petunjuk arah dengan bahasa yang sama sekali tidak mereka mengerti.
"Na...tapi aku ingin buang air", Asmodeus gelisah.
"Heh gak bakal sempat! sudah ayo kita cari taksi!"
Sesampainya di lobby airport, terlihat banyak supir taksi yang menawarkan jasanya dengan cara mengangkat tangan mereka.
Erina mencari supir yang penampilannya tidak terlalu mencurigakan, namun.. semuanya berpenampilan seperti mafia. Jaket kulit, kacamata hitam, dan berjanggut lebat.
"Aduh gimana ini? semuanya nampak mencurigakan", Erina makin bingung.
"Ya sudah kita pilih yang paling tua aja, kalau dia berusaha membunuh kita, bisa kita lawan"
Asmodeus memberikan usul yang masuk akal.
Merekapun memasuki mobil di antrian paling ujung yang sopirnya seorang kakek paruh baya, kira - kira usianya tujuh puluh tahun. Menggunakan jaket yang bukan dari kulit, dan topi flat cap.
Erina memperhatikan kedua orang yang mengejarnya mencari - cari mereka dengan tergesa - gesa dan bertanya pada orang sekitar.
"Go! go! go! go!"
Asmodeus menyuruh sang supir agar bergegas untuk memacu mobilnya, namun karena sang sopir sudah tua gerakannya sangatlah lamban, Mobilnya adalah sedan toyota crown tahun sembilan puluh lima.
Para pengejar mendekati taksi yang belum juga beranjak dari tempat parkir, Asmodeus dan Erina menunduk, bersembunyi agar tidak terlihat.
"эй куда ты идешь?", sang sopir bertanya.
Mereka berdua sibuk bersembunyi, sang sopir mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Ia kesal karena didiamkan.
"Kayaknya bapak itu ngomong ke kita deh", ucap Erina karena sang sopir berbicara terus.
"Tapi kan kita gak mengerti bahasanya, gimana dong?"
"Hmm.. ya sudah kita ke motel aja ya, tadi aku sempat mengambil beberapa brosur penginapan di area bandara"
Merekapun memperlihatkan brosur yang dibawa dan berusaha menyampaikan kepada sang sopir untuk pergi ke motel terdekat.
...----------------...
Sesampainya di depan motel, Erina hendak membayar, namun ternyata uang mereka masih belum ditukar dengan mata uang Rusia. Melihat itu sang supir marah - marah dan meminta mereka segera menukar uangnya, yang untungnya ada money changer di dekat sana.
Erina masuk ke dalam money changer, Asmodeus berjaga di luar.
Tak lama berselang Ia melihat ada orang mencurigakan yang muncul lagi, lalu Asmodeus segera masuk dan menyampaikan agar Erina segera bergegas.
Setelah berjalan mengendap - endap, membayar sopir taksi yang terus mengomel, mereka sampai ke dalam motel.
Bentuk motelnya seperti yang sering munc di film - film hollywood, nampaknya sudah lama berdiri karena terlihat agak usang.
Mereka pun memesan sebuah kamar double bed. Kamarnya kecil namun cukup nyaman untuk beristirahat.
Karena sangat lelah Asmodeus langsung terlelap di kasurnya, tanpa mengganti bajunya ataupun melepas sepatunya.
Erina melihatnya dan berpikir, "dasar jorok",
Ia lalu membuka sepatu Asmodeus dengan perlahan dan meletakkannya di tempat yang semestinya.
lalu Erina membuka kopernya untuk mengambil perlengkapan mandi.
Disaat sedang mandi, Ia mendapat firasat tidak enak. Terdengar suara seperti seseorang sedang membuka pintu kamarnya. Ia sempat berpikir apakah Asmodeus keluar untuk mencari udara segar, namun Ia sangat tidak yakin.
Erina berteriak kencang, Asmodeus kaget dan terbangun, Ia langsung berlari keluarbtanpa alas kaki dan kepala yang masih pusing. namun Ia tidak sempat mengejar pencuri itu.
Akhirnya mereka hanya melaporkan kejadian itu kepada resepsionis yang merupakan wanita tua yang bahkan tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
Mereka kembali ke kamar dan merenung, menyesal karena terulangnya kejadian ini.
"Sepertinya, aku takdir yang buruk untukmu", ucap Erina sambil melipat kakinya di atas kasur.
"Tidak, aku yang merupakan takdir buruk untukmu", Asmodeus duduk sambil menunduk di pinggir tempat tidur.
Mereka tak berhenti saling menyalahkan.
Setelah kehilangan sumber uang terakhirnya, mereka jadi kehilang semangat.
"Maafkan aku, harusnya tidak melibatkanmu dalam situasi ini dari awal", ucap Asmodeus.
"Bukankah katamu ini jalan takdir?"
"Ya memang, aku juga tak mengetahui kenapa awalnya ini semua bisa terjadi"
"Ya sudah, daripada saling menyalahkan diri, lebih baik kita cari jalan keluarnya bersama ya"
Asmodeus menatap Erina, lalu mengangguk pelan.
Erina lalu beranjak dari kasur, membuka tasnya, mengambil laptop, dan mencari tahu segala sesuatu yang berhubungan tentang rusia.
"Sebenarnya kita terlalu gegabah, karena datang kemari dengan hanya bermodalkan semangat", ucap Erina.
"Benar, berkomunikasi saja susah, bagaimana mau cari orang, bahkan fotonya saja kita tidak punya"
"Akhh iya, bagaimana mau mencari orang tanpa ada fotonya, ini benar - benar seperti misi bunuh diri", Erina memegang keningnya sendiri.
Mereka bahkan melupakan hal - hal dasar dalam mencari orang hilang. Apalagi orangnya belum pernah mereka temui sama sekali.
"Petunjuk kita hanya.. Ia masih hidup namun lemah, berada di negara yang berwarna putih dan banyak beruang coklat"
"Apa seharusnya kita sewa detektif saja ya?"
"Bayarnya pakai apa?", Erina bertanya dengan ketus.
Erina tersentak karena mendapatkan sebuah ide, "Tunggu, kita bisa mulai dengan mencari orang yang mirip denganku, benar kan?!",
Erina mulai bersemangat
"Yaa.. tapi, ada puluhan kota, ratusan desa, dan jutaan orang disini, itupun kalau memang benar dia ada di negara ini"
"Yaampun, kenapa tidak terfikir sebelumnya ya kalau ini akan begitu sulit?, aku terlalu bersemangat rupanya", Erina menjadi lesu lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
"Sebenarnya ada satu cara"
"Apa itu?", Erina bangkit karena tertarik dengan ide dari Asmodeus.
"Aku harus menemui petinggi astral yang memimpin di daerah sini"
"Nah ya sudah! dimana tempatnya?"
"Gak tahu juga, terakhir kali aku bertemu dengannya, kira - kira tiga ratus tahun yang lalu"
"Astagaa.. eh tunggu, kalau misalkan aku yang meminta bantuan astral setempat? apa mungkin?"
"Meskipun bisa melihatnya, tapi kalau bukan petinggi, mereka tak akan paham bahasamu"
"Ah kalau ada foto pasti akan lebih mudah"
"Tapi kalau mereka membantumu, kekuatannya akan langsung hilang bukan?"
"Benar juga"
Mereka berdua tidak tidur semalaman karena memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan.
Namun beberapa jam kemudian mereka terlelap karena kelelahan.
Pukul lima pagi, mata Asmodeus tiba - tiba terbelalak karena terpikirkan sebuah ide cemerlang.
"Na bangun! aku mendapat sebuah rencana bagus"
"Ngghh.. nanti bu, masih ngantuk", Erina mengigau.
Karena tak tega, Asmodeus pun menunggu hingga Erina benar - benar bangun.
...----------------...
Jam delapan pagi, mereka berdua sampai di tepi dermaga yang tidak jauh dari motel, banyak perahu penangkap ikan yang sedang berlabuh disana.
"Jadi, apa idemu?"
Erina berusaha memperjelas.
"Aku akan memanggil Levi"
"Hah? caranya?"
"Aku akan menenggelamkan diri sambil memanggil namanya, jika aku hampir mati dia pasti akan datang menyelamatkanku"
Asmodeus bicara dengan yakin.
"Itu ide terbodoh yang kudengar hari ini"
Erina tidak setuju.
"Ayolah, semua ide patut dicoba kan"
"Memang sedekat apa hubungan kalian, sampai kamu yakin dia bakal datang?"
"Yang pasti di**a berhutang budi padaku**"
Asmodeus tersenyum licik.
"Oke fine, kita coba, tapi sebelum kehabisan nafas kamu harus segera naik", pinta Erina yang mencoba setuju dengan rencana Asmodeus.
Asmodeus mengacungkan jempolnya, lalu hendak berjalan menuju ke pinggir dermaga
Erina menahannya,
"Eh tunggu! tapi kalau misalkan dia sedang ada di akhirat bagaimana? apa dia tetap dengar?"
"Ya rencananya gagal, tapi aku yakin dia ada di laut, dia lebih senang di laut daripada di kantor"
"Jadi Levi dapat mendengar apapun yang terjadi di lautan?"
"Benar sekali"
Rencana yang cukup beresiko menurut Erina, namun Ia juga tidak ingin menyia - nyiakan kesempatan.
Asmodeus menoleh ke kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihat, tapi memang kebetulan hari ini keadaan dermaga sangat sepi.
Asmodeus membuka pakaiannya, kemudian melompat ke air yang dingin tanpa ragu.