
Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya semua memutuskan untuk menyerahkan keputusan kepada Erina, siapakah yang akan dibangkitkannya di tingkat keenam.
Ketika semua akan melanjutkan perjalanan, pak Uwo menyatakan bahwa dirinya tak mampu lagi berjalan, kakinya telah tidak berfungsi.
Erina tentu saja tidak terima hal itu begitu saja, namun meskipun sudah berusaha, mengangkat genduruwo setinggi tiga meter yang beratnya bisa berton - ton adalah sia - sia.
Dengan berat hati Erina harus meninggalkan satu lagi rekannya di belakang. Namun Ia juga mulai merasa putus asa, seperti hanya ingin cepat menyelesaikan semuanya dan bangun seolah semua tak pernah terjadi.
Selang beberapa menit, mereka tiba di lantai enam.
Sebuah lantai yang kosong, hanya berisikan sebuah podium dan seseorang yang memakai jubah berdiri di belakang podium tersebut.
"Hei, orang berjubah itu sepertinya tidak asing", ucap Succubus.
"Ya tentu, ini aku!", sang pria misterius membuka jubahnya.
"Jadi tugasmu merangkap ya?".
"Tidak juga, tugas asliku disini, namun aku memandu kalian itu adalah keinginan sampinganku".
"Hah!?", Succubus, Erina, dan Damien terkejut.
"Yaaa...kalian sangat beruntung karena mendapat pemandu sepertiku, karena kalian adalah kelompok yang sangat spesial. Biasanya hanya orang - orang bodoh yang haus kekuatan, membuatku muak, aku tak peduli juga dengan mereka. Namun kalian sangatlah berbeda".
"Meskipun sudah mendapat pemandu, tetap saja kami kehilangan banyak personil".
"Benar, itu sangat disayangkan. Namun jangan sedih..karenaa..."
"Karena apa?"
"Ah tunggu, aku bahkan belum memperkenalkan diri... perkenalkan namaku Ramiel, sebenarnya aku dulu juga seorang Archangel, hanya saja karena satu dan lain hal aku jadi disini".
"Apakah kau mendapat bocoran tentang kedatangan kami?".
"Sudah pasti, aku kan masih punya koneksi. Ah aku harus melanjutkan, karena kalian sudah berjuang sangat keras, bukan hanya darah dan air mata, nyawa pun ikut terkuras, namun sekarang kalian bisa bertemu lagi dengan rekan - rekan tercinta".
Succubus langsung mendekat ke podium, "Berapa!? berapa orang jatahnya?".
"Pertanyaan yang bagus".
Ramiel terlihat memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengambil sesuatu.
Sesuatu yang kecil.
Itu adalah sebuah dadu.
"Lewat benda inilah, penentuannya", ucap Ramiel sambil mengangkat dadu kecil berwarna ungu gelap itu.
"Lantai ini telah diberkati dan diberikan kekuatan dari penguasa akhirat, maka dari itu, bahkan semua makhluk yang sudah tidak bernyawa bisa kembali hidup".
"Apakah berbeda dengan kebangkitan Samael di lantai bawah?", tanya Damien.
"Tentu sangat berbeda, Samael dibangkitkan menggunakan kekuatan hitam, yaitu harus memakan korban, sedangkan disini sebaliknya".
"Hmm..begitu rupanya", Damien menoleh dan melihat wajah Erina.
Tatapannya kosong, Ia terdiam seperti seorang yang hilang kesadaran.
Ramiel mendekati Erina lalu menatapnya, "Sungguh kasihan Erina, harus menghadapi takdir yang seberat ini, padahal Ia hanya gadis yang ingin hidup biasa - biasa saja".
"Apa..jika ini semua selesai Ia bisa mendapatkan keinginannya untuk jadi orang biasa?", tanya Succubus.
Ramiel mengangguk.
"Sebelum seseorang lahir. Garis takdir yang menantikan, siapa yang akan membawanya. Setelah semua kejadian di masa lampau oleh para pendahulu, dilengkapi juga kompleksitas ruang dan waktu, semua akhirnya bersatu menjadi sebuah ikatan takdir untuk dibawa seseorang selama hidupnya".
"Bukankah takdir bisa berubah?" tanya Leiva.
"Memang bisa, tapi yang berubah hanya lempengan luarnya, bukan intinya. Jadi, kira - kira seperti ini, seseorang bisa menggunakan berbagai cara agar sampai dari A ke B, dan apapun bisa terjadi di tengah perjalanan, namun takdirnya adalah sampai ke B, apapun yang terjadi di tengah, bisa berubah".
Semua terdiam.
"Baik tidak perlu berlama - lama, aku akan memberikan penentuan ini padamu". Ramiel membuka telapak tangan Erina dan menaruh dadu di dalamnya.
Erina yang termenung, menatap telapak tangannya yang berisikan dadu kecil.
"Semua yang terjadi disini, bukankah ini fana?", Erina mulai bertanya.
"Kehidupan dunia memang fana".
"Tapi ini bukan di bumi, juga bukan di akhirat, ini bukan kefanaan, juga bukan keabadian, benar bukan?"
"Ya benar, ini ditengah - tengah. Bisa dibilang secara sains, ini hanya alur waktu dan dimensi alternatif".
"Tapi apa semua yang terjadi disini bisa berdampak nyata bagi fisik, mental, bahkan kejiwaan seseorang?".
Ramiel mengangguk.
"Kalau aku hanya menganggap ini semua mimpi, apa yang akan terjadi?".
"Kalau aku tidak terbangun?"
"Berarti kau sudah tak berada di alam fana lagi".
"Baiklah, sudah cukup pertanyaanku".
"Oke, sekarang kau bisa lemparkan dadu itu ke atas meja podium ini", ucap Ramiel seraya menunjuk ke podium.
Clara menepuk pundak Erina untuk menyemangatinya.
Tak berlama - lama, Erina segera mengangkat tangannya tinggi - tinggi, lalu melepaskan dadunya hingga jatuh dan berputar di atas meja podium.
Damien, Succubus, Clara, dan Leiva mendekat karena merasa antusias.
Dadu berputar lebih lama dari yang diharapkan.
Dan terjatuh dengan titik satu menghadap keatas, semua orang menjadi saksinya.
"Satu orang, hanya satu orang saja yang akan mendapatkan hak hidupnya kembali disini", ucap Ramiel.
Erina terdiam, semua temannya menatap dirinya, merasakan ketegangan yang sama seolah seluruh beban dan tanggung jawab harus dipikul sendiri.
"Silahkan dipilih dari nama - nama berikut, yang paling berarti dalam hidupmu",
1. Lily Everglade - Ibu kandung
2. Asmodeus Claidheamh - Kekasih
3. Alexei Stanislav - Saudara satu ayah
4. Leviathan Ver Havet - Teman
5. Behemoth Krigselefant - Teman
6. Varlodio Corvulus - Rekan
7. Dewi Asmarani - Rekan
8. Emilia Windburg - Rekan
"Dan waktumu hanya satu menit".
Erina mulai menatap daftar nama itu dengan pandangan kosong dan seperti tak memikirkan apapun.
Succubus berbisik kepada Damien, "Siapa menurutmu?".
"Kalau nggak Lily ya Asmo.."
"Hmm..aku juga menduga seperti itu, mereka yang paling berpengaruh dalam hidup Erina".
Clara dan Leiva hanya terdiam menunggu, melihat Erina yang mungkin terlihat pasrah.
Satu menit pun berlalu.
"Yak sudah waktunya! siapakah yang kau pilih?", tanya Ramiel.
Erina menatap Ramiel.
Ramiel merasa itu adalah tatapan yang penuh dengan keputus-asaan.
"Aku memilih......"
Semua orang disitu menjadi tegang.
"Tidak membangkitkan siapapun".
Semua tercekat.
"A..apa?! kenapa begitu?", tanya Clara dan Succubus bingung.
"Erina..pasti punya pertimbangannya sendiri", ucap Damien.
Ramiel mengusap kedua tangannya sambil tersenyum, "Kau memang selalu menarik, nona Erina Muriella".
Ramiel kemudian menggunakan tuas yang ada di podium itu, dan terbukalah pintu besar di belakangnya.
"Dengan ini saya persilahkan semuanya untuk menuju ke lantai tujuh, lantai terakhir di menara kekuatan".
Clara, Succubus, dan Leiva mendampingi Erina dengan perlahan, Damien berjalan di depan.
Mereka pun naik ke tangga dan menuju pintu raksasa yang terbuka dengan sendirinya.
"Apakah kak Erina baik - baik saja?", tanya Leiva yang khawatir.
Erina hanya tersenyum kepada Leiva, senyuman yang membuatnya semakin terlihat mengkhawatirkan.