My Heart From Hell

My Heart From Hell
Pure Heart



Erina terbangun di pagi hari, jam menunjukkan pukul tujuh tepat. Ia merenung sesaat, sama sekali tak menyangka bahwa jalan hidupnya akan membawanya ke arah yang tak terduga.


Terlibat dengan makhluk berbeda dimensi, bahkan memiliki perasaan suka kepada salah satunya, padahal Ia hanya ingin jadi orang biasa saja yang bisa memiliki kebahagiaan seperti orang lain.


Ia melihat foto bersama kedua orangtuanya yang diletakkan di meja kecil di samping tempat tidurnya. Frame foto berukuran kecil dari bahan kayu itu diambilnya, kemudian ditatapnya lama - lama.


"Ayah, Ibu, gimana disana? nyaman gak? Aku padahal udah kesana juga tapi belum sempat mampir, maaf ya"


Senyuman hangat sang Ayah, dan pelukan erat sang Ibu yang selalu dirindukannya, Ia menangis, berharap tidak salah dalam mengambil keputusan hidupnya.


Erina keluar kamar dengan baju rumahnya yang oversized dan rambut kusut, kemudian celingukan karena Ia tak melihat Damien. Ia memanggilnya terus tapi tak kunjung ada jawaban, Erina khawatir Damien telah meninggalkannya.


Tiba - tiba terdengar suara toilet disiram, Damien keluar dari toilet sambil memakai handuk dan tanpa baju, terlihat perut roti sobek di badannya.


Erina sangat heran melihatnya, lalu bertanya


"Kau habis ngapain?"


"Ya mandi dan buang air, seperti orang normal di pagi hari"


Erina makin heran, apa yang normal darinya yang seorang malaikat maut.


Erina berjalan ke arah meja makan, dilihatnya


sarapan sudah dibuat, nasi goreng omelette, dan secangkir kopi americano hangat.


"Waw, Aku seperti memiliki seorang suami expatriat", ucap Erina dalam hatinya.


Damien mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai, kaos hitam polos dan celana ripped jeans.


"Jadi, apa rencanamu hari ini?" tanya Damien seraya menyeruput kopi.


"Aku akan mulai bekerja di cafe hari ini, shift pagi, kau mau ikut?"


"Tentu, Aku kan bodyguardmu"


'Ting tong' Bel berbunyi, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Erina.


"Hee...dari siapa ini ya?", Erina penasaran.


Paket tersebut berisi kotak persegi berwarna marun, seikat bunga daisy kecil, dan sepucuk surat. Erina membaca surat tersebut, Damien melongok dari belakang Erina, berjaga - jaga seandainya paket itu berbahaya.


Dear Erina


Pertemuan kita yang mendadak mungkin membingungkanmu, namun percayalah, semua suratan takdir akan menjadi indah jika kita memahami cara kerjanya, dan aku juga akan berusaha untuk selalu hadir serta menjadi orang yang bisa kamu andalkan.


Nah hari ini setelah Kamu kerja Aku ingin mengajakmu untuk pergi ke pantai, kita bisa melihat sunset yang seperti warna matamu itu, semoga Kamu bisa yaa..


ps:


jangan lupa pakai yang di dalam paket


^^^See u^^^


^^^A^^^


Pipi Erina blushing bukan main, mukanya merah padam, baru kali ini ada yang mengirimnya surat. Selanjutnya Ia membuka paket yang berisikan dress berwarna musim gugur yang manis bermerek sebuah toko baju ternama dengan dua huruf.


"Aaaaaa....so sweet bangeeeet", Erina meleleh.


Damien melihat dari kejauhan dengan jijik


sambil bergumam, "Banyak banget triknya tuh orang".


...----------------...


Erina dan Damien berjalan berdampingan, meskipun bagi orang yang melihatnya Ia berjalan hanya sendiri. Mereka menuju ke Cafe yang hanya terletak di seberang jalan apartemennya.


Ia menyapa Clara, sahabat sekaligus managernya sekarang. Setelah mengganti bajunya dengan seragam, Ia langsung bekerja melayani pengunjung dengan ramah dan penuh senyum, suasana hatinya sedang sangat bagus.


Siang harinya saat pergantian shift


Erina dan Clara ngobrol di meja paling ujung.


"Lo gak mau kerja yang lain lagi selain disini?", tanya Clara blak - blakan.


"Ya maulah, secara Gue masih umur


segini juga, gak bakal nutup buat bayar hutang - hutang"


"Lo bisa jadi Account Executive kan? Gue ada kenalan sih di agency digital di sekitar daerah kuningan sana"


"Serius? bolehlah, gue udah apply - apply tapi belum ada panggilan nih"


Tiba - tiba ada seseorang yang masuk ke cafe dan berkata, "Kalau panggilan hati udah ada belum?"


Clara yang hendak memberikan nomor kontak dari kenalannya kepada Erina pun terhenti sesaat karena melihat seorang lelaki yang begitu glowing masuk ke cafenya.


Keadaan menjadi slow motion bagi semua wanita di dalam cafe, semua melihat ke arah pria yang baru datang menggunakan overcoat coklat, turtleneck hitam, ankle pants abu - abu dan sepatu loafers hitam.


"Hai..", sapa Asmodeus yang langsung duduk di samping Erina yang masih memakai seragam barista.


Clara dan Erina terdiam, "Clara.... Lo....bisa liat dia?"


"Iyalah, mata Gue kan masi normal"


Erina menatap bingung Asmodeus yang tersenyum hangat.


Damien memperhatikan dari jauh dengan ekspresi yang datar.


Erina berbisik kepada Asmodeus.


"Hei, kamu gak perlu menampakkan diri terus menerus begini, nanti energimu terkuras"


"Aku nggak apa - apa kok, santai aja".


Erina pun memperkenalkan Asmodeus kepada Clara, dan mereka berbincang sedikit.


Erina lalu mendekati Damien dan bertanya,


"Dam, emang gak apa - apa Asmo terus menampakkan dirinya kayak gitu?"


Damien menjawab dengan sangat enggan,


"Untuk levelan dia sih, nampakin diri seharian juga bukan masalah"


"Oh wow, keren banget", Erina takjub.


Setelah berbincang, Asmodeus dan Erina pamit ke Clara, lalu merekapun pergi.


Diluar cafe, Asmodeus menutup mata Erina.


"Eh kenapa ini?"


"Aku ada surprise, ayo ikut kesini",


Asmodeus mengarahkan Erina ke sebuah mobil yang terparkir di dekat Cafe.


"Tadaaa.."


"Aaahhh..ini mobilkuu! seriuss?"


Erina terkejut penuh haru bisa melihat mobil kuning kecilnya sudah kembali seperti sediakala.


"Kok...kok bisa sih? kemarin kulihat masih ringsek loh"


"Buat kamu apapun bisa kok"


Damien hanya melihat dari jauh dengan wajah sangat jengkel, "Cih..show off!"


Asmodeus membukakan pintu penumpang untuk Erina, kemudian Ia duduk di kursi pengemudi, tapi Damien hanya diam saja.


"Dam kok diam aja? sini naik", Erina meminta Damien ikut naik ke mobil.


"Ngapain? jadi lalat?"


Damien bicara sambil memalingkan wajah.


"Nggak, Kau kan penjaga Erina, jadi harus


ikut juga"


"Iyaa..nanti kalau Asmo tiba - tiba ada urusan mendadak gimana?"


Dengan berat hati, Damien pun duduk di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan, musik yang disetel adalah lagu romantis tahun 90an, Erina dan Asmodeus terkadang saling menatap kemudian tersenyum malu.


Damien yang malas hanya melihat ke arah jalanan saja.


...----------------...


Dalam setengah jam, merekapun sampai di sebuah pantai di bilangan Jakarta Utara. Mobil diparkir dan mereka turun.


Asmodeus menggandeng Erina dan mengajak membeli eskrim, Damien berdiri diam di dekat mobil, Ia ingin pergi sendiri saja rasanya.


Asmodeus dan Erina duduk di tikar di pinggir pantai, mereka menikmati angin yang berhembus sambil memakan eskrim.


"Na"


"Ya Mo?"


"Mungkin ini agak terlalu cepat, tapi..."


"Kenapa?"


Asmodeus tiba - tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah marun dengan pinggiran emas.


Jantung Erina tiba - tiba berdegup kencang, wajahnya menjadi serius, apakah pangeran iblis akan melamarnya.


"Tu...tunggu!", Erina menahan tangan Asmodeus untuk membuka kotak itu.


"Aku mau bertanya dulu sebelum semuanya menjadi lebih jauh"


"Oh ya, silahkan tanya apa saja"


"Aku kan manusia, dan k**amu seorang


pangeran iblis**"


"Ya..lalu?"


"Apakah kita bisa menjalin hubungan sungguhan? apa itu mungkin?"


Asmodeus tersenyum.


"Aku memahami kekhawatiranmu, tapi hubungan dua insan yang berbeda alam itu sangat mungkin terjadi, bahkan bisa sampai memiliki keturunan"


"Oh ya? tapi kan pasti ada resikonya, misalnya saja, kamu kan makhluk abadi, sedangkan aku cuma manusia biasa, nanti kalau aku sudah tua dan jelek gimana? sedangkan kamu tetap ganteng seperti sekarang"


"Hahaha lucu banget sih kamu, tapi..itu tak menjadi pertimbangan aku dari awal sih"


"Terus kalau Aku beneran meninggal nanti, apa kita bisa ketemu lagi?"


"Ssstttt", Asmodeus menempelkan jarinya di bibir Erina, seraya membuka kotak kecil yang berisikan cincin kecil dengan batu sapphire berwarna jingga yang berkilauan.


"Dari awal, Aku melihatmu..Aku tidak merasakan hal lain selain ingin bersamamu, ingin mendekap hangatmu, ingin melihatmu bagaimanapun keadaanmu, Aku mencintaimu..Erina"


Erina tak mampu berkata - kata, lalu Asmodeus memakaikan cincin itu di jari manis Erina.


"Aku tidak memaksakan apapun kok, kalau Kamu masih bingung dengan keadaan ini tidak apa, tapi kamu bisa memakai cincin ini agar selalu ingat denganku"


"Baiklah, tapi kita belum akan menikah kan?"


"Nggak kok, Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku dan memberikan cincin ini, kamu masih bisa melakukan apapun yang kamu mau"


"Makasih ya Mo, ini cantik banget", Erina melihat cincin yang begitu indah terpasang di jarinya dan merasa tidak pantas untuk memakainya.


"Sama - sama sayang, eh...Erina"


Ponsel Asmodeus mendadak berbunyi, terlihat nama Astaroth di layarnya,


"Ah mengganggu saja ini orang"


Ia mengangkat teleponnya, dan menerima berita bahwa Ia harus segera kembali ke kantornya.


"Na maafin aku, tapi sepertinya aku harus kembali dulu karena ada hal yang penting"


"Iya gak apa - apa kok"


"Sebenarnya ada orang yang ingin kukenalkan di pantai ini, tapi nanti saja deh"


Disaat Asmodeus ingin menghilang, namun ternyata banyak orang yang sedang melihatnya, jadi Ia mencium kening Erina kemudian pergi berlari untuk mencari tempat yang aman lalu menghilang.


Erina tersenyum dan memikirkan banyak hal sambil melihat cincin yang terpasang di jari manisnya.