
Erina dan rombongannya menaiki tangga untuk naik ke lantai tiga bersama Behemoth dan Leviathan.
Erina sangat lesu, Ia melamun sepanjang perjalanan, sampai - sampai tidak menyadari sudah tiba di tempat yang berbeda.
Suasananya seperti kuil kuno yang terletak di dalam hutan, ada suara burung dan suara aliran sungai. Suananya nampak damai.
Mereka semua duduk di pinggir sungai untuk beristirahat dan menenangkan diri.
Pria misterius mendadak muncul.
Succubus yang melihatnya langsung melotot dan mengomelinya, "Hei, tak bisa lihat kami sedang beristirahat? nanti saja penjelasannya!"
"Oh, maaf..baiklah", pria misterius nampak bingung lalu menghilang.
Leiva dan Varlo memakan bekal.
Lily sibuk memeriksa persediaan ramuan.
Succubus melihat keadaan sekitar.
Erina menatap Damien, "Dam aku mau ngomong empat mata".
Damien terkejut dan salah tingkah karena ditatap dengan begitu serius, "Aa..ya ngomong aja.."
Mereka berdua ke pojokan bangunan dimana tak ada yang melihat.
"Sebenarnya, ada hubungan apa kau dengan mamaku?"
Pertanyaan yang langsung itu membuat Damien kebingungan menjawabnya, "Bu..bukankah udah kubilang tempo hari, biasa aja..karena kami saling menolong aja".
"Nggak...itu beda, aku yakin ada yang terjadi di antara kalian".
Damien gusar, Ia menunjukkan gerakan - gerakan tubuh yang tidak perlu, yang menunjukkan kalau Ia kebingungan.
"Jawablah dengan jujur, aku tak apa"
"Kalau aku jujur, apa kau tak akan membunuhku?"
"Mana mungkin? aku sudah banyak kehilangan teman"
Damien menghela nafas.
"Akuu..."
Erina menatapnya tajam.
"Hei, jangan dilhatin begitu!"
Damien berdiri dan menghadap ke arah lain.
"Aku...jatuh cinta padanya.."
Mata Erina terbelalak, Ia speechless.
"Kau pasti jadi sangat kesal bukan? karena aku tak tahu diri. Tapi memang perjalanan ini membuat kita semua berubah. Kita menemukan seseorang yang bersama kita itu sangat berharga, aku juga tak tahu bagaimana awalnya, tapi...Ia begitu mirip denganmu".
"Kau jatuh cinta padanya karena dia mirip denganku?"
"Awalnya begitu....tapi..."
Damien melihat Erina yang berjongkok sambil menyembunyikan kepalanya diantara kedua kaki.
"Na..aku minta maaf, aku tak bisa mengendalikan hatiku dalam kondisi seperti itu, kalau kau marah..."
"Siapa bilang aku marah?"
"Ha? kau nggak marah?"
Erina menggeleng.
"Aku...senang kalau mamaku mendapatkan orang yang bisa diandalkan sepertimu"
Muka Damien menjadi merah.
"Jaga dia ya! aku mengandalkanmu" Erina berkedip kepada Damien.
Damien tersenyum malu.
Erina menghampiri Lily lalu segera memeluknya.
"Ada apa nak?"
"Aku turut senang ma"
"Senang kenapa? bukankah kau baru kehilangan saudaramu"
"Bukan itu...", Erina berkode dengan melihat ke arah Damien.
"Ahh..itu.." Lily menjadi salah tingkah.
Lalu Ia menghampiri Damien, "Kau sudah bilang kepadanya?"
"Maaf, tapi dia mendesakku"
"Apa katanya?"
"Dia mendukung"
"Benarkah?"
"Iya"
"Anak itu......tapi Damien, apa kau yakin benar mau menjalin hubungan dengan orang tua sepertiku"
"Aku tak peduli, kalau jatuh cinta aku akan setia pada orang itu"
"Apa kejadian di tenda malam itu membuatmu cling lagi?"
"Iya...aku juga merasakan itu, ah aku jadi malu"
Kemudian saat memakan bekal, Lily dan Damien saling menyuapi.
Succubus melihat mereka dan tercengang, Ia menghampiri Erina.
"Na..apa yang mereka lakukan?"
"Sst..biarkan saja"
"Apa mereka??"
"Begitulah..."
"Haaa? kok bisa!?"
"Hati orang gak ada yang tahu kan?"
"Aku gak menyangka"
Succubus menghampiri Damien dengan emosi, menarik kerahnya, kemudian mendorongnya ke tembok.
"Hei! ada apa ini!?"
"Kau mau berlagak playboy? apa kau merasa sangat ganteng?"
"Apa maksudmu?"
Lily nampak khawatir, "Ada apa Sue? kenapa kau marah?"
"Tolong jangan mendekat Lily! aku punya urusan dengan Tuan Tampan ini"
"Aku gak mengerti....kenapa kau marah?" Damien merasa sangat bingung.
"Kau...berencana untuk mendekati semua wanita atau gimana? awalnya kau suka Erina, lalu kau pacaran dengan resepsionis itu, lalu sekarang dengan Lily!?, ah dulu bahkan kau sempat menyukai aku sebagai gadis bartender bukan?"
"Ah.."
"Aku paling tak suka pria yang mempermainkan wanita"
"Ya, kata seorang iblis penggoda pria"
"Hei itu beda!"
"Beda gimana?"
"Aku melakukannya karena pekerjaan"
"Aku juga...melakukannya karena mengikuti kata hatiku"
"Cih"
"Kurasa kali ini aku benar - benar mencintainya"
"Kau punya berapa mantan?"
"Ha?"
"Jawab, ada berapa mantanmu sebelum menyukai Erina"
"Itu..kan privasi"
"Privasi apaan?"
"Haahh..kurasa......tak sampai dua puluh"
"Tuh kan..."
"Ayolah Sue, aku bukan orang yang seperti itu"
"Bahkan Asmodeus yang segitu tampannya tak memiliki mantan sebanyak kau"
"Sekarang gini deh, aku tak punya niat untuk menyakiti hati perempuan, tapi hanya....keadaan memang tak berjalan seperti semestinya"
"Pokoknya aku tak mempercayaimu"
"Ya terserah kau, yang pasti aku akan setia dengan pasanganku apabila keadaan berjalan dengan lancar"
"Kau harus minta maaf kepada gadis resepsionis itu"
"Iya aku tahu"
"Jangan memberinya harapan cuma gara - gara kau sedang putus asa"
"Iyaaaa...Kau juga, kalau memang suka seseorang. Jangan menutupi perasaanmu, sampai orangnya merasa putus asa".
"Apaan sih?" ,Succubus pergi.
Di dalam hati Succubus berfikir, " Darimana dia tahu soal itu? apa Erina menceritakannya?"
...----------------...
Mereka bersiap - siap, lalu pria misterius datang.
"Apa aku sudah boleh muncul sekarang?"
"Ya silahkan" jawab Succubus.
"Baik, sekarang...ini adalah sebuah kuil kuno dengan labirin di dalamnya. Kalian akan menemukan banyak teka - teki yang harus dipecahkan dan juga jebakan maut, harap berhati - hati, sampai jumpa", Ia menghilang.
"Aku paling benci teka - teki", Succubus jengkel.
Erina memberikan instruksi kepada Leviathan dan Behemoth, "Karena kalian tak muat, kalian boleh pergi sampai aku memanggil lagi ya, terima kasih untuk bantuannya yaa".
Kedua makhluk itupun masuk ke hutan dan menghilang.
Mereka mulai menaiki tangga dan masuk ke dalam kuil.