
Sebelumnya, di pantai tempat kapal Barbossa berlabuh.
"Ah lama sekali manusia - manusia ini, hartanya keburu diambil"
Nampak yang keluar dari kapal itu adalah Damien dan Erina.
"Bagus kalian sudah siap, ayo cepat jalan!", perintah Barbossa.
Damien menatap Erina yang berwajah khawatir, lalu berhenti berjalan dan memegang pundaknya.
"Hei, mereka akan baik - baik saja. Kita melanjutkan ini juga demi mereka kan?"
"Entahlah, aku mulai merasa perjalanan ini semakin sia - sia"
"Jangan begitu, aku yakin di akhir perjalanan nanti akan ada sesuatu yang baik"
"Kalau di akhir nanti aku bisa mengajukan permintaan, aku ingin semua yang gugur dihidupkan lagi"
"Semoga saja bisa begitu"
"Harus bisa! kalau tidak aku akan mengamuk", Erina terus berjalan meninggalkan Damien.
Damien terdiam, Ia terkejut dengan ucapan Erina barusan.
Mereka bertiga pun berjalan memasuki area yang dipenuhi pepohonan.
Lalu nampak bebatuan besar yang nampak seperti disusun, dan beberapa area bebatuan itu tertutup oleh tanaman rambat.
"Hmm..aku bisa tahu kalau pintu masuk ke ruangan harta karun di dalam sini", Barbossa menunjuk ke arah bebatuan dengan pedangnya.
"Tapi..itu hanya tumpukan batu".
Barbossa memotong tanaman rambat yang menempel, lalu nampaklah goa besar di batu.
"Lihatlah! instingku tak mungkin salah, aku sudah mencium bau emasku".
Mereka menyalakan api dengan obor, lalu masuk ke dalam goa tersebut dengan perlahan.
Goa itu sangat gelap dan berisikan banyak kelelawar.
"Hati - hati Na, disini licin", Damien menggandeng tangan Erina.
Erina hanya berjalan mengikuti arahan Damien dan juga kapten Barbossa tanpa berfikir. Ia mulai merasa tak bersemengat dengan perjalanan ini, dipikirnya ini semua seperti kesia - siaan yang entah kapan akan berakhir.
"Menurut cerita, pulau harta karun ini dikuasai oleh seekor raja kera. Ia sangat kuat sampai - sampai bisa membuat pasukan dari duplikat dirinya sebanyak ribuan ekor", Barbossa bercerita.
"Rasanya aku tidak asing dengan cerita itu", ucap Damien.
"Tapi aku tak takut, aku tinggal menyuruh kalian yang maju dan aku mengambil hartanya..juahahah"
"Enak saja kau", Damien kesal dengan pernyataan Barbossa yang seenaknya itu.
"Karena aku kaptennya, jadi terserah aku, Juahahaha"
Mereka mengikuti jalan goa yang semakin menyempit.
Dan tiba - tiba....
"Aaaaakkhh...", mereka bertiga tergelincir dan meluncur di terowongan goa yang seperti seluncuran panjang.
Seluncuran itu sepanjang ratusan meter, sampai kemudian...
'Braaakk..' terdengar suara pintu yang terdobrak.
Mereka bertiga tak sengaja menabrak sebuah pintu masuk yang terbuat dari kayu, dan tiba di sebuah ruangan.
"Ayo cepat, kesini arahnya! lihat banyak harta ini, ini milikku sekarang!", Barbossa langsung bersemangat setelah memasuki ruangan penuh dengan emas dan permata.
Erina menatap seorang pria yang telah berada di dalam sana.
Pria itu seseorang yang dikenalnya dalam waktu singkat namun membuatnya begitu jatuh cinta.
Dalam sekejap, seluruh perasaan Erina dimana ini semua akan menjadi perjalanan yang sia - sia, semua hilang dan mulai terlintas kilasan - kilasa memori selama Ia menjalin hubungan bersama Asmodeus.
Mereka berdua sama - sama menatap namun tak mampu berkata - kata.
"Itu kan....", Damien terkejut melihat Asmodeus, dan lebih terkejut lagi ketika melihat sosok Dewi yang turut bersamanya.
"ERINA!!", Clara yang antusias langsung berlari menghampiri Erina kemudian memeluknya.
"Cla...clara?? ini beneran lo?", Erina sangat tak menduga kehadiran teman lamanya itu.
"Iya, gue diajak sama Asmo buat ikut nyari lo, untung aja ketemunya secepat ini, bagus deh"
Kapten Barbossa yang sedang sibuk mengumpulkan harta benda, tidak menggubris hal yang terjadi di sekitarnya.
Lalu Asmodeus mendekat ke Erina.
Mereka masih tak berbicara.
Dewi juga datang menghampiri Damien, lalu tersenyum yang seperti dipaksa.
"Dewi, aku...aku...", Damien kesulitan menyampaikan apa yang terjadi.
"Mas gak menduga kan, bisa bertemu aku disini?"
"Aku udah ngobrol sama mas Asmo, dan dia menyampaikan pesan dari mas"
"Apa kau kecewa?"
"Yaaa..aku bohong kalau bilang gak kecewa, tapi aku gak masalah, yang penting mas bisa menemukan yang terbaik. Tapi..", Dewi melihat Erina dan Asmodeus yang berpelukan.
"Bukan wi, aku bukan sama Erina"
"Lho terus sama siapa dong?"
"Ada seseorang, tapi dia pun sudah tiada di dalam perjalanan ini"
"Yaampun..", Dewi menutup mulutnya karena terkejut.
Di dalam hati, Dewi merasa kasihan dengan Damien, namun di satu sisi Ia bahagia karena menganggap dirinya masih memiliki kesempatan.
Erina dan Asmodeus yang sedang berpelukan.
"Syukurlah, kamu baik - baik aja", ucap Asmodeus.
"Kamu...kenapa sampai kepikiran buat nyusul kesini?"
"Aku dengar berita tentang Levi, terus jadi khawatir banget soal kamu"
Erina melepas pelukannya, lalu berdiri membelakangi Asmodeus.
"Udah banyak banget yang terjadi disini. Aku dan yang lainnya udah mengalami banyak hal"
"Tapi..dari tujuh orang kalian tinggal berdua??"
"Masih ada Sue, tapi..kita semua udah gak kayak dulu"
"Aku paham, perjalanan ini berat dan membuat kalian mengalami banyak masalah, aku jadi merasa bersalah karena udah membuat kalian terlibat disini"
"Gak perlu minta maaf, justru perjalanan ini benar - benar mendewasakan kita semua, kita jadi tahu mana yang kawan, mana yang lawan, kerjasama, pengorbanan, bahkan cinta baru bisa tumbuh. Kamu yang datang disini gak bakal paham semua itu"
"Hmm..begitu ya, tapi mulai sekarang aku ada disini untuk mastiin keselamatan kamu sampai akhir"
Erina menatap Asmodeus, "Aku bukan cewek lemah kayak dulu lagi Mo".
"I know, kamu kuat. Tapi.."
Damien menghampiri Asmodeus dan menepuk pundaknya, "Makasih ya bro udah mampir, kita emang kekurangan orang disini".
"Sekarang kita lanjutkan perjalanan, nah kapten Barbossa, kau mau ikut lanjut atau bagaimana?", tanya Damien.
"Aku mau kembali ke kapal", Barbossa mengangkat banyak karung berisikan harta benda dan hendak pergi.
"Tolong sampaikan kabar tentang teman kami didalam kapal ya"
"Yaa..yaa..", Barbossa pergi.
Erina menyapa semua yang ikut di dalam rombongan yang diajak Asmodeus.
"Pak Uwo!", Erina memeluk tubuh pak Uwo yang berbulu dan hangat.
"Mbak Er, apa kabar mbak? sehat?"
"Iya pak, aku gak apa - apa, maap ya udah ngerepotin"
"Gak masalah, saya seneng bisa jalan - jalan"
Erina menghampiri Emily, "Halo, salam kenal ya aku Erina".
"Iya mbak, saya Emily, asistennya mas Asmo"
"Wah sekarang udah pakai asisten segala. Lalu....Dewi"
"Hai, udah lama ya"
"Iya, sejak di meja resepsionis itu, aku gak menyangka situasinya akan seribet ini"
"Aku juga gak menyangka, rupanya kita bakal ketemu lagi disini".
Setelah berkenalan dengan semuanya, Damien lalu menjelaskan seluruh situasinya kepada Asmodeus.
Mereka memutuskan akan melanjutkan perjalanan setelah mendapatkan kabar dari Succubus di kapal.
Lalu Clara dengan diam - diam mengumpulkan beberapa keping emas dan berlian lalu dimasukkan kedalam tasnya.
"Lalu, siapa yang mengalahkan kera pemimpin disini?", tanya Erina.
"Gue..gue..gue yang membunuhnya", Clara yang sedang mengambil emas mengangkat tangannya dengan antusias.
"Wah lo hebat juga, pasti liat referensi dari film"
"Yoi dong"
"Berarti lo bakal dapat kekuatannya si kera itu"
"Hah!? kekuatan gimana?"
Clara bingung.