
Erina menjadi heboh sendiri dikarenakan oleh kedatangan Asmodeus.
"Dam, bisa minta tolong gak? gantikan baju dan buat cantik dalam sekejap, seperti foto ini aja"
Erina menunjukkan foto seorang selebriti yang berbaju simpel namun elegan di ponselnya.
Damien terlihat enggan, namun Ia menggunakan kekuatannya untuk memenuhi permintaan Erina.
"Wah hebat, sesuai banget nih,
makasih ya Dam", Erina kegirangan diberikan dress hitam cantik dan makeup natural seperti referensinya.
Damien hanya tersenyum.
Pintu pun dibukakan perlahan, Erina menyambut Asmodeus dengan malu - malu.
"Selamat malam, maaf mengganggu malam - malam begini", ucap Asmodeus dengan lembut.
"I..iya gak apa - apa, kok nggak ngabarin Damien dulu kalau mau datang?"
"Sudah kok, tapi mungkin pesanku belum dibaca"
Damien melihat ponselnya dan ada pesan yang belum terbaca, ekspresinya menjadi khawatir, namun Ia tak begitu peduli.
"Yuk, silahkan masuk", Erina mempersilahkan Asmodeus masuk.
Terlihat Damien berdiri memberi hormat dari belakang meja makan, Asmodeus menyapanya.
"Tapi, bukannya kamu bisa masuk darimana saja ya? kenapa lewat pintu?"
"Ya masa langsung masuk ke rumah seorang wanita? itu kan tak sopan"
Oke, Asmodeus memang lebih pandai terhadap wanita, karena memang Ia memiliki banyak penggemar karena ketampanannya, dan lagi jabatannya yang cukup tinggi. Damien merasa tidak seberapa jika dibandingkan dengannya.
"Damien, maaf sebelumnya, bolehkah kami minta waktu berdua saja?", Dengan sopan Asmodeus meminta Damien untuk pergi sebentar.
"Emm..iya...baik tuan", Damien beranjak keluar ke balkon, wajahnya terlihat segan.
Erina dan Asmodeus mengobrol berdua layaknya sahabat yang sudah kenal lama, Damien melihat Erina yang terlihat begitu malu - malu, berbeda saat mengobrol dengannya.
Muncullah lagi Genderuwo sang penunggu setempat sembari menawarkan sebatang rokok menyan.
"Aah makasih Pak Uwo, memang rokok yang paling cocok untuk saat seperti ini"
"Pastinya, apalagi kalau pakai kembang
tujuh rupa"
"Jadiii....inni yang istilahnya 'jagain jodoh orang' ya?"
"Yang sabar ya Bro", pak Uwo merangkul pundak Damien.
......................
Waktu menunjukkan pukul 10 malam, Damien masih diluar bersama Pak Uwo, Erina dan Asmodeus didalam sambil menunggu pizza yang dipesan.
"Aku penasaran, Aku bisa terbawa ke akhirat itu adalah sebuah kebetulan, atau memang takdir?", tanya Erina.
"Setahuku tidak ada yang kebetulan, semua adalah suratan takdir, masalahnya hanya itu menjadi takdir yang baik atau yang buruk"
Erina berfikir sejenak, apakah pertemuannya dengan Asmodeus takdir yang baik atau malah buruk, karena bagaimanapun Ia adalah seorang pangeran iblis yang berasal dari neraka.
Bel rumah berbunyi, pengantar pizza sudah datang. Asmodeus menawarkan diri untuk membuka pintu,
"Terima kasih ya mas, eh...mbak"
"Sama - sama pak", ucap si pengantar pizza.
Asmodeus mengambil pizzanya dan memperhatikan sang pengantar yang ternyata seorang wanita.
Asmodeus menutup pintu dan mengingat sesuatu, perawakan dan suara wanita itu seperti seorang yang dikenalnya.
"Kenapa? apa ada yang aneh?"
Tanya Erina kepada Asmo yang terlihat berfikir
"Ah nggak, pengantarnya mirip seperti orang yang kukenal"
"Kalau kamu kenal apakah dia orang akhirat juga?"
"Hmm..iya juga ya, Aku tidak punya teman wanita manusia selain kamu"
"Padahal kita kan baru b****ertemu, tapi udah kayak kenal lama ya"
"Iya, Damien juga pasti udah cerita banyak ya soal Aku"
"Tapi satu yang kupikirkan, apa kamu gak apa - apa berada disini? kan tugasmu sebagai petinggi neraka cukup sibuk"
"Ah tidak, demi orang yang spesial itu gak masalah"
Erina mulai penasaran, lalu mendekatkan wajahnya ke Asmodeus.
"Memangnya apa yang membuatku spesial?"
Asmodeus menjadi canggung, "Ahh..itu..karena kamu memiliki takdir yang unik, jadi itu spesial bagiku"
"Hmm..ya memang siapa lagi yang bisa masuk ke akhirat dalam keadaan hidup? ya kan?"
Erina langsung percaya saja dengan perkataan pria tampan di depannya, seperti kejadian yang lalu - lalu.
...----------------...
Rupanya diluar, sang petugas pizza masih menguping pembicaraan mereka, itu adalah Succubus yang sedang menyamar, Ia berjuang keras supaya tidak ketahuan.
Succubus berlari ke atap apartment untuk menenangkan diri, nafasnya begitu sesak,
"Aahh...capek banget, begini rasanya jadi
mata - mata professional ya"
"Ya iyalah, Kau menggunakan seluruh kekuatanmu agar tidak terdeteksi kan?"
Seorang pria berjubah coklat, rambut hitam lurus sebahu dan menggunakan topi fedora seperti detektif jaman dahulu muncul di dekat Succubus. Kedatangannya bagaikan desiran angin yang dingin, Succubus langsung berdiri dan membungkukkan badannya memberi hormat.
"Tuan Mammon! Maaf saya tidak menyadari kehadiran Anda"
"Apa tuan juga tahu wanita itu?"
"Ya, Aku merasakan aura dari kekuatannya yang sepertinya sangat besar"
"Benar kan? apa jangan - jangan Ia adalah pembawa takdir yang ditakutkan? sesuai dengan ramalan itu?"
"Entahlah, tidak bisa digambarkan seperti itu juga, tapi setahuku yang ada di dalam ramalan itu adalah laki - laki. Tapi ya.... mungkin juga takdir bisanberubah"
"Kalau memang benar, Tuan Lucifer bisa terjebak dalam masalah"
"Begini saja, kau telitilah lebih lanjut untuk memastikannya, tapi jangan sampai ketahuan. Kalau Asmodeus tahu, Ia bisa menjadikanmu abu dalam sekejap"
"Baik Tuan Mammon!"
Mammon menepuk pundak Succubus dan mendekatkan wajahnya, "Wanita secantik dirimu jangan sampai mati, kau sangat berharga bagi Lucifer. Ini kuberikan benda yang bisa membantumu"
Mammon memberikan sebuah cincin kepada Succubus.
"Ini...untuk apa tuan?"
"Kau bisa bersembunyi dan menyamar dengan leluasa menggunakan ini", Mammon tersenyum licik.
"Te...terima kasih banyak Tuan!"
Wajah Succubus tersipu karena merasa sangat didukung oleh seorang petinggi.
Mammon pun pergi menghilang sambil memegang ujung topinya.
"Aahh..kira - kira apa yang harus kumulai dengan kekuatan ini yaa?", Succubus merasa tidak sabar untuk menggunakan kekuatan barunya.
...----------------...
Di kamar Erina, Asmodeus terlihat tidak tenang, Ia merasakan adanya hawa kehadiran petinggi neraka yang lain. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Jadi, kalian semua bisa merasakan aura kehadiran satu sama lain ya?"
"Iya, kami bisa tahu siapa dan seberapa kuat dia dari auranya, tapi membaca aura hanya bisa dilakukan oleh para astral yang levelnya tinggi saja"
"Wah keren ya kalau menjadi level tinggi, semua takut padamu"
"Ya tapi kalau sebagai petinggi neraka, levelku paling bawah, kalau Lucifer menebasku
selesai sudah"
"Orang seperti a****pakah Lucifer itu? apa dia suka mengganggu orang lain?"
"Ia adalah orang yang sangat memanfaatkan kekuasaannya, jadinsebisa mungkin jangan sampai berurusan dengannya"
"Apakah keputusan Aku akan diekseskusi bergantung darinya?"
"Benar, Dia bisa melakukan apapun sesuai keinginannya, jadi Kamu harus sangat hati - hati"
"Baiklah", Erina mengangguk dan tersenyum, Ia merasa sangat nyaman di dekat Asmodeus.
"Aku ingin menjagamu tapi....Aku tidak bisa disini terus"
"Aku tahu, kamu kan ada pekerjaan yang lebih besar, tapi tak apa - apa kan ada Damien"
"Iya, aku sudah memintanya untuk menjadi penjagamu selama beberapa saat"
"Tapi sepertinya dia jadi bermasalah dengan pekerjaannya"
"Tak apa - apa itu bisa kuatur"
Asmodeus pun pamit kepada Erina untuk kembali ketempatnya, namun Ia keluar dulu untuk memberikan pesan kepada Damien yang sedang berada di balkon.
Pak Uwo yang ada disana memberi hormat padanya kemudian pergi.
Mereka berbicara agak berbisik, Asmodeus juga melihat sekelilingnya, memastikan tak ada orang lain yang mendengar.
"Apa kau sudah memberitahu dia?"
"Tentang pembawa takdir? tidak, Aku takut salah jika menyampaikannya"
"Bagus, sebisa mungkin Dia jangan sampai tahu, agar ramalan itu tidak perlu terjadi"
"Sebenarnya... Aku belum mengetahui tentang ramalan itu secara mendetail"
Asmodeus menghela nafas,
...Ramalan tentang pembawa takdir yang ditakutkan oleh Lucifer:...
Pada tahun 2013 kalender masehi, tepat nya bulan Juni saat bulan purnama, seorang anak laki - laki ke 666 keturunan iblis putih akan berumur 25 tahun, dan Ia akan mewariskan kekuatan dari bulan yang melebihi raja iblis dan bahkan mampu menguasai seluruh neraka.
"Sudah pasti Lucifer sangat takut akan terjadinya ramalan ini, makanya sejak dulu Ia bersumpah akan memusnahkan anaknya yang ke 666 sebelum anak itu mendapatkan kekuatannya"
"Apakah sudah pasti Erina anaknya yang ke 666? Dia kan perempuan"
"Aku sudah melihat matanya, Ia adalah anak Lucifer, meskipun Ia bukan laki - laki, tapi kekuatannya yang terpendam sudah bisa kurasakan"
"Wah, itu sangat gawat kalau Lucifer
sampai tahu"
"Iya maka dari itu, Aku mohon untuk Kau menjaganya jangan sampai ketahuan oleh antek - antek Lucifer, Ia akan melakukan apapun. Lalu soal pekerjaanmu, Aku akan membicarakannya dengan atasanmu"
"Ngghh..pekerjaanku bukan masalah, tapi kalau boleh tahu, kenapa Kau begitu ingin menyelamatkannya? bukankah kau bisa tak ikut campur saja?"
"Soal itu, kau tidak perlu tahu"
Asmodeus pun pergi menghilang.
Erina keluar ke Balkon melihat Damien sendirian, "Dia sudah pergi ya?"
Damien mengangguk.
"Yuk masuk, nanti masuk angin, nih masih ada pizza"
Damien tak perduli meski Ia masuk angin, mendapatkan pizza sisa, atau harus menjaga jodoh orang. Yang penting baginya saat ini bisa bersama Erina dengan Erina. Karena Ia akhirnya dapat menemukan kenyamanannya sendiri.
...----------------...
Di sela - sela loteng apartment, sang mata - mata berhasil mendapatkan berita besar, Ia sangat tidak sabar untuk menyampaikan berita tersebut.