
Roh Erina melayang - layang di ruang angkasa didampingi oleh Barachiel, seorang Archangel yang diberikan kuasa untuk menemui dan membantu seseorang yang berhasil sampai di level kesadaran kosmik.
"Ini.. ini penglihatan sungguhan atau cuma mimpi?", tanya Erina yang masih tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
"Ini sungguhan, semua yang kau lihat ini benar - benar sedang terjadi saat ini", jawab Barachiel.
"Apa aku bisa melihat siapapun?"
"Ya"
"Dimanapun?"
"Ya"
"Kapanpun?"
"Hmm.. hanya saat ini saja, masa lalu dan masa depan tidak bisa"
"Lalu, apa bisa melihat ke galaksi lain?"
"Ehmm tidak, kapasitasmu belum sampai situ"
"Apa berpindah galaksi lebih sulit dari perpindahan dimensi?"
"Tergantung, selama ini kau bisa mudah berpindah dimensi selama berada di aliran kehidupan yang sama"
"Apa itu aliran kehidupan?"
"Semua makhluk hidup, dan kondisi lingkungan, yang tercipta di dimensi berbeda namun dalam aliran kehidupan yang sama, akan memiliki wujud yang serupa. Contohnya di atas bumi, dunia bawah, di alam baka, ataupun seluruh planet yang termasuk dalam tata surya ini semuanya masih di dalam aliran kehidupan yang sama, yaitu di dalam galaksi bima sakti"
"Berarti kalau di galaksi berbeda, aliran kehidupannya juga berbeda?"
"Benar, di luar sana semuanya tidak akan bisa masuk ke dalam nalarmu"
"Bisa bertemu dan mengobrol dengan malaikat saja sebenarnya sudah diluar nalar bagiku"
"Begitu ya? jadi, apakah ada seseorang yang ingin kau lihat?"
"Aku harus memberitahu Lucifer lokasiku dan yang lainnya"
"Baiklah, kita akan berpindah ke tempat Lucifer sekarang"
Dalam sekali kedipan mata mereka telah berpindah tempat.
Erina dan Barachiel telah berada di atas kereta kuda yang sedang ditumpangi Lucifer dan Emily.
Namun kereta itu sedang menuju ke arah yang berlawanan dari lokasi Erina dan yang lainnya.
"Papii.. aku disini papi!", Erina menggoyangkan tangannya di depan Lucifer.
Tetapi Lucifer diam tak bergeming.
"Dia tak bisa mendengarmu"
"Kenapa!? padahal kita sudah ada di sini"
"Kau tidak benar - benar berada di sini, ini hanya kesadaranmu saja"
"Lalu bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengannya?"
"Kau memiliki ikatan apa dengannya? atau sesuatu yang sama dengannya"
"Hemm..", Erina berfikir.
"Ah! mata! warna mataku sama dengannya"
"Fokuskan auramu di mata, lalu cobalah berkomunikasi dengannya"
Erina lalu berusaha memusatkan pikirannya.
Tak lama, Lucifer mendapat penglihatan sekilas di tempat lain. Ia pun langsung menyadarinya, lalu segera memutar balik keretanya dan memacunya kembali.
"Sepertinya dia sudah menyadarinya, syukurlah, semoga masih sempat untuk menolong pak Uwo dan Ratna"
Mereka berdua berpindah lagi ke posisi sebelumnya, yaitu di ruang angkasa.
"Oke, kau masih punya waktu, siapa yang ingin kau lihat lagi?", tanya Barachiel.
"Asmodeus!"
Barachiel terlihat berfikir.
"Kenapa? apa itu sulit?"
"Sebenarnya, keberadaannya masih belum jelas"
"Belum jelas bagaimana? kau kan seorang Archangel"
"Bukan masalah aku Archangel atau bukan, tapi saat ini, kondisi yang kutahu, kesadarannya dan rohnya berada di tempat yang abstrak, bahkan tubuh astralnya juga belum tercipta"
"Aku tak mengerti"
"Jika kesadaran, roh, dan tubuh tak berada di tempat yang sama, kau tak bisa mendeteksi keberadaannya"
"Jadi, bisa dibilang dia belum masuk ke tahap reinkarnasi?"
"Belum, bahkan aku juga tak tahu apa ia akan dibangkitkan lagi atau tidak"
"Memangnya siapa yang menentukan seseorang akan dibangkitkan lagi atau tidak?"
"Tentu saja Bos besar"
"Apa aku bisa berbicara dengan bos besar?"
"Haha.. ya tidak mungkinlah, kecuali kau berada di level yang sama sepertiku"
Erina menjadi murung, meskipun tak menunjukkannya, namun perasaannya sangat ingin bertemu dengan Asmodeus.
"Baiklah, ini orang terakhir yang bisa kau temui, apakah ada?"
"Damien"
"Hmm.. Damien Cordova ya? aku coba lihat sebentar, aaa dia berada di garis waktu yang cukup berbeda"
Barachiel terdiam sebentar, memegang pundak Erina lalu berkedip.
Mereka tiba di Balkan, Eropa abad ke delapan belas. Sebuah masa yang suram, banyak terjadi peperangan dan manusia yang dijadikan korban atas aliran - aliran kepercayaan yang aneh.
Erina melihat sosok Damien yang sepertinya sedang terlibat pertarungan. Ia menggunakan pakaian lengkap berbahan kulit, asesoris seperti seorang pemburu, dan juga senjata yaitu sebuah pistol besar untuk menyerang musuhnya.
"Apa benar ini Damien?"
"Benar, dia sedang menikmati perjalanannya menemukan jati dirinya sebagai pemburu vampir"
"Dia seorang pemburu vampir?"
"Benar, garis keturunan keluarganya adalah pemburu vampir yang terkenal, Van Hel"
"Hebatnyaa.. andai aku bisa berada bersamanya, tapi... dia pasti tak akan ingat padaku"
"Benarkah?"
Lalu terlihat Damien berhasil menyelamatkan sosok seorang wanita cantik yang diculik oleh gerombolan vampir, kemudian mencium bibirnya.
"Ah, dia sudah punya pujaan hatinya sendiri, sudah pasti", Erina merasa canggung.
"Apa kau mau mencoba berkomunikasi seperti Lucifer tadi?"
"Tidak, tak perlu. Aku hanya ingin tahu kabarnya saat ini"
"Baiklah kalau begitu kita akan kembali ke tempat semula"
Meskipun berbeda alam, namun Erina yang posisinya berada di samping Damien, mencoba untuk membelainya.
Ketika tangannya membelai pipi Damien, Damien bereaksi seperti seakan ada yang menyentuhnya.
Damien menatap ke arah Erina, "E.. Erina!?"
Erina tercekat, ia tak menduga reaksi itu.
"Oops saatnya pergi", ucap Barachiel.
'Shuuutt', mereka sudah tiba di tempat dengan ambien warna putih.
"Dia.. dia bisa melihatku?", Erina masih terkejut.
"Ngg.. mungkin hanya kebetulan, mungkin memang ikatanmu dengannya begitu kuat sehingga perasaanmu bisa tersampaikan begitu saja"
"Yang benar?"
"Ya itu bisa saja terjadi"
Erina pun termenung. Di hatinya ia merasa sangat kesepian karena harus kehilangan orang - orang yang ia sayangi.
Tapi Damien, orang yang dianggapnya sebagai teman baik. Apa benar hati Erina hanya menganggapnya seorang teman? sepertinya kenyataan berkata lain.
"Oke sekarang begini, kau sudah masuk di tahap ini, kalau kau masih mampu, kemampuan ini masih bisa dikembangkan lebih luas lagi, tapi ya semua akan ada konsekuensinya", ucap Barachiel.
"Aku mengerti, tapi sepertinya sejauh ini aku bisa berada di sini juga karena terdesak, bukan karena sesuatu yang diusahakan"
"Iya memang, tapi bakat yang kau miliki itu seungguhnya sangat luar biasa. Kalau orang biasa berada di kondisi yang sama, mereka hanya akan mati di dalam kehampaan"
"Baik, aku akan mencoba melatih kemampuanku ketika aku hidup kembali"
"Hmm.. tapi nampaknya tak akan semudah itu"
"Kenapa?"
"Tubuhmu belum sanggup, kesadaran dan rohmu harus dipindah ke tempat lain dulu"
"Hah, ke mana?"
"Ke dalam cincin dan mahkota itu saja"
"Apa!? eh tunggu!"
'Shuutt'
Erina merasakan sensasi yang benar - benar aneh, kesadarannya terbagi ke dua tempat yang berbeda.
...----------------...
Lucifer yang memacu kereta kudanya, menembus tembok batu, dan tiba di tempat Erina berada, namun keadaannya lebih buruk dari yang ia duga.
"Emily, ini gawat"
"I.. iya tuan"
Terlihat jasad Erina yang terkapar di tanah dengan penuh luka, Ratna yang tengah berjuang dengan ratusan tusukan di tubuhnya, lalu di kejauhan nampak pak Uwo yang sudah hampir kehabisan energinya dengan perut berlubang.
Lucifer segera menghampiri tubuh Erina yang terkulai, mengangkatnya dan mulai menangis.
"Hei kau! jangan sentuh makan siang kami!", teriak para Goblin kepada Lucifer.
Tubuh Lucifer bergetar hebat, ia sangat geram.
"Dasarr.. kep*rat!!"
Tak lama, muncul cahaya di kepala dan jari manis Erina.
Tiarna Fatchach dan Anelle de Batalla muncul dalam wujud yang sebenarnya.
"Tuan.. itu"
"Iya, kurasa Erina ingin kita menggunakannya"
"Kita? memangnya saya bisa? saya kan hanya orang biasa", Emily merasa ragu.
"Aku juga bukan keturunan raksasa, namun kalau memang dia menginginkannya, dia pasti tahu jalan keluarnya"
Lucifer mengambil mahkota itu dan meletakkannya di kepalanya. Cahaya silau dan aliran kekuatan merasuk ke tubuhnya.
Ia mendapat penglihatan sekilas, wajah Erina dengan tatapan yang sedih. Lucifer tahu anaknya sedang berjuang melewati hal yang berat.
Lucifer mengambil cincin dan melemparkannya kepada Emily.
Emily menangkapnya kemudian memakainya.
Lalu ia merasakan aliran kekuatan yang belum pernah dirasakannya selama ini.
"Jadi, begini rasanya memiliki kekuatan", pikiran Emily sempat akan diambil alih oleh aura negatif.
"Emily! ingat tujuanmu di sini!", Lucifer menyadarkannya.
"Ah, iya tuan"
Mereka berdua mengeluarkan aura yang kuat, para Goblin seperti diterpa oleh angin kencang.
Lucifer lalu mengangkat tangannya, "Wahai kaum raksasa! bangkitlah atas nama penguasa mahkota, tunjukkan kekuatanmu yang yang sebenarnya, habisi musuh di depanmu!"
Mata pak Uwo langsung bercahaya, ia menerima kekuatan yang luar biasa besar.
"UWWAAAAAARRRGGGHH.."
Raungannya menggema sejauh berkilo - kilometer, dan tubuhnya membesar sepuluh kali lipat.
Rajho yang melihatnya langsung panik dan hendak melarikan diri.
Emily yang mendapat penglihatan wajah Erina, juga mengangkat tangannya dan mengarahkannya kepada Ratna.
"Wahai prajurit wanita sejati, bangkitlah atas nama penguasa cincin, dan tunjukkanlah kekuatanmu yang sebenarnya!"
Muncullah sosok Rangda dari tubuh Ratna seperti kupu - kupu yang keluar dari kepompongnya.
Tak seperti Rangda yang biasa, ia memakai paju perang dan wujud yang lebih kuat dari sebelumnya.