My Heart From Hell

My Heart From Hell
Unification



Damien menghalau serangan Baphomet dengan sabitnya yang kini bercahaya selayaknya ketika Ia masih menjadi malaikat maut.


Penampilannya pun seperti malaikat maut level tinggi.


Ia memasang topeng tengkorak, kemudian membalas serangan Baphomet dengan presisi.


Erina yang menyaksikan itu tak percaya, kenapa Damien bisa kembali ke wujud astralnya.


Dan Lily, tak ada bersama Damien.


Timbul banyak pertanyaan di kepala Erina, namun Ia hanya bisa mendekap Leiva bersamanya sambil melihat pertarungan yang hebat itu.


"Lumayan juga kau malaikat maut kelas rendah"


"Sembarangan ya mulutmu itu, kalau kelas rendah, kau tak mungkin kewalahan begini"


Kekuatan mereka sangat seimbang.


Baphomet yang merupakan salah satu panglima perang Satan bisa diimbangi oleh malaikat maut tingkat satu.


Setidaknya sebelum Ia sampai di dunia bawah.


...----------------...


Sebelumnya, Damien yang kehilangan Lily di jurang.


"Ah buat apa aku meneruskan ini semua? lebih baik aku ikut lompat saja", Damien mulai merasa putus asa.


"Jangan...", terdengar suara sayup di telinga Damien.


"Siapa itu? Lily?", Damien mencari arah suara itu.


"Aku tak apa, fisikku mungkin mati, tapi arwah ini bebas"


"Benarkah? apa ini hanya halusinasi saja ya?"


"Ini sungguhan, aku bisa membantumu jika kau memanggil namaku"


"Jadi, kamu akan masuk ke dalam jiwaku?"


"Ya, kita akan bersatu"


Damien merasa terharu, Ia jadi memiliki semangat kembali.


Ia berdiri diatas seutas tali, kemudian menjatuhkan diri dengan sengaja.


"LILY!!!", Ia berteriak dengan lantang.


Tubuh Damien dikelilingi cahaya.


Dalam sekejap Ia mendapatkan seluruh atribut malaikat maut dilengkapi dengan atribut penyihir.


"Wow, ini sungguhan"


"Bagaimana perasaanmu?"


"Sangat bergairah"


Damien langsung terbang dengan kekuatan mantranya dan pergi ke tempat Erina berada.


...----------------...


"Damien bagaimana kau bisa?" dimana mamaku?"


"Ceritanya panjang!"


"Ah kenapa sih orang - orang selalu beralasan ceritanya panjang?"


Suara bilah besi yang beradu, bergema di seluruh ruangan.


Mereka saling menyerang dengan kecepatan yang tinggi sampai orang biasa tak mampu melihat gerakannya.


Erina melihat di tubuh Damien ada atribut milik Lily.


Secara reflek, Erina meninggalkan Leiva lalu menarik Damien dengan paksa.


Baphomet pun menghentikan serangannya.


"Hei, kau kenapa sih?"


"Dimana Lily? dimana mamaku? kau apakan dia?", Erina menarik - narik kerah jubah Damien.


"Lily...dia..."


"MANA DIA? BUKANKAH KAU BISA DIANDALKAN?!", Erina mulai terpancing emosi dan hilang kendali.


"Aku..tak bisa...menyelamatkannya, tapi...", sebelum Damien menyelesaikan kata - katanya.


Erina memukul Damien menggunakan tangannya yang dikeraskan.


Damien terpental jauh.


"Wah..wah..wah..", Baphomet hanya diam menikmati situasi ini.


"Erina jangan marah dulu!"


'Buak!'


'Buk!'


'Bak!'


"Kak Erina! sudah cukup!" Leiva ikut menengahi, tapi Ia ikut terpental.


"Aduduh..Lily tolong jelaskan kepada anakmu ini!", Damien mengerang kesakitan.


Erina tercekat, Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok Lily.


"Dia ada disini", Damien menunjuk ke arah jantungnya.


Erina hendak memukul Damien lagi.


Mendadak muncul cahaya yang menyilaukan.


Seekor burung hantu berwarna abu - abu datang entah darimana, Ia langsung menatap Erina dengan matanya yang berkilau.


"Ma...mama, jadi begitu...", Erina tersungkur.


"Sekarang kau paham situasinya kan?", Damien hendak merangkul Erina.


"Jangan sentuh aku! aku tetap kesal padamu", Erina menyingkirkan tangan Damien.


"Jadi...setiap raga yang mati disini, jiwanya bebas dan dapat muncul sebagai wujud yang lain jika dipanggil?"


"Benar, kalau kau punya ikatan khusus dengan jiwa itu, mereka bisa langsung menyatu dengan ragamu"


"Karena itu Leviathan dan Behemoth hanya muncul sebagai bantuan, tapi Lily bisa menyatu denganmu?"


Burung hantu Lily dan Damien mengangguk bersamaan.


"Aku juga mau coba, MAMA!!", Erina berteriak.


Hening.


"Kenapa gak terjadi apa - apa? kau bohong ya!?"


"Yehh..panggil nama aslinya, bukan panggilannya"


"Oh iya. LILY!!",Tubuh Erina bercahaya.


"Apa sudah selesai diskusinya? aku masih ada urusan", Baphomet yang datang lagi langsung menyabet mereka.


"Damien, sekarang lindungi Leiva! biar aku yang urus kambing ini!"


"Baiklah"


Damien mengajak Leiva mundur.


Erina kini memakai atribut penyihir selayaknya Lily.


"Mama, sekarang kita bersama akan mengalahkan makhluk itu"


"Baik nak, gunakan saja kekuatan fisikmu, pengerasan tubuh, juga kecepatan werewolf yang kumiliki, nanti akan kumaksimalkan dengan mantra penguat"


"Oke mantap!"


Baphomet menyerang namun semua berhasil dihindari.


"Mustahil, kecepatannya tak tertangkap oleh mataku", Baphomet mulai panik.


'BUAAKK!!', Erina menabrakkan dirinya kearah perut Baphomet dengan kecepatan tinggi, Baphomet tersedak lalu terjerembab.


Erina menghajar Baphomet habis - habisan sampai Ia tak berdaya.


"Mama, coba keluarkan mantra untuk menguncinya agar Ia tak bisa bergerak",


"Oke nak"


Lily dan Erina berhasil mengunci Baphomet hingga tak bergerak.


"Kaliaan...akan hancurr.. tak lama lagi", Baphomet tetap bersuara dan tak menerima kekalahannya.


Mendadak ada seseorang yang melompat dari belakang sambil membawa sabit tapi itu bukan Damien.


'Craakk..' Leiva membelah kepala Baphomet.


Damien dan Erina ternganga melihat situasi itu.


"Aku..juga ingin jadi kuat seperti kak Erina, aku tak ingin dilindungi terus - menerus", ucap Leiva sambil menatap jasad Baphomet.


"Leiva...kamu..", Erina menghampirinya namun tak mampu berkata - kata.


Damien mengambil sabitnya kembali, "Ini bahaya tahu, main ambil aja".


"Hehe..maaf ya om".


"Kamu kuat banget, apa kamu pernah memakai senjata kayak begitu?"


"Karena aku diajari bertani, makanya sabit adalah alat yang aku cukup paham penggunaannya".


"Baiklah, sekarang rupanya kita punya satu orang lagi yang dapat diandalkan ya", Erina mengusap kepala Leiva.


Leiva tersenyum.


"Sekarang kita harus mencari Succubus dan Varlo!"


"Ayo ke arah sana"


Mereka berlari ke arah ujung ruangan yang sepertinya adalah pintu keluar dari labirin.