
Sebuah apartmen berlantai tiga belas yang sudah berumur hampir dua puluh tahun.
Sudut - sudut bangunan yang berdebu dan banyak sarang laba - laba.
Temboknya yang kusampun dihiasi bekas tetesan air hujan yang berwarna kekuningan.
Tak banyak penghuni di apartment ini, selain karena banyak cerita miring yang tersebar, memang posisi bangunan yang dianggap masyarakat kurang strategis menjadikan apartemen ini salah satu yang kurang diminati.
Namun ada sebuah keluarga di lantai teratas yang sudah tinggal disana selama belasan tahun.
Seorang perempuan muda yang berparas cantik, serta kedua orangtuanya yang selalu ramah pada penghuni lain, tinggal di kamar nomor empat, di lantai tiga belas.
Di luar mereka nampak seperti keluarga yang benar - benar harmonis, Namun di dalamnya, sang ayah yang selalu pulang tengah malam sambil mabuk, sering memukuli istri dan anaknya. Sang ibu yang memiliki pria simpanan tetap berusaha sabar dan bersikap baik dirumah.
Sang anak, Arina Mariana, memiliki kehidupan yang cukup membuatnya frustrasi. Di usianya yang ke dua puluh lima Ia lebih senang menghabiskan waktu di kantornya daripada di rumah.
Bekerja sebagai asisten pengacara di sebuah firma hukum membuatnya sering bekerja lembur, namun Ia cukup menikmatinya karena lebih baik daripada di rumah yang selalu dihiasi teriakan dan lemparan piring akibat percekcokan kedua orangtuanya.
"Arina", panggil seorang pria berumur tiga puluhan dengan pakaian jas dan rambut yang masih rapi pada pukul sepuluh malam.
"Ya mas?", jawab Arina yang sedang menyortir berkas - berkas.
"Gue mau ke bar dulu, mau refreshing. Lo kelarin kerjaannya ya!".
"Iya baik mas".
Pria itu keluar dari ruangannya.
Pria itu adalah seorang pengacara yang cukup terkenal dan tampan, Ia beberapa kali berhasil memenangkan kasus besar seperti sengketa perusahaan maupun perselingkuhan selebriti.
"Pak Daniel ke bar lagi ya mbak?", tanya seorang pria paruh baya yang bertubuh agak bungkuk yang masuk ke ruang kerja Erina.
"Iya pak, kerjaannya lagi banyak jadi beliau butuh refreshing kayaknya".
"Mbaknya gak refreshing juga?".
"Saya kan baru setahun kerja disini pak, masa udah butuh refreshing?"
"Malah lagi semangat - semangatnya kerja ya?".
"Betul pak, saya gak pingin tunda kerjaan jadi besoknya gak numpuk".
"Hebat mbaknya, dulu mas Daniel juga gitu pas awal - awal berkarir".
"Kalau sekarang?".
"Ya gini, dikit - dikit refreshing, dikit - dikit keluar, biasanya pulangnya mabuk".
"Iya sih, dalam setahun ini dia pasti ada kayak gitu kalau kerjaan lagi banyak".
"Hidupnya jadi gak jelas mbak sejak orangtuanya bercerai".
"Oh gitu ya pak?".
"Iya, awalnya gak mau disuruh sama bapaknya untuk meneruskan firmanya ini, tapi karena gak ada pilihan, dia akhirnya mau juga".
"Tapi menurut saya dia pengacara yang berbakat pak".
"Tentu, kan dia seperti bapaknya. Tapi ya... kelakuannya juga sama, mabuk, main perempuan".
"Hah!? gak jauh - jauh ya laki - laki itu".
"Eh saya gak gitu loh mbak".
"Haha iya pak, ayah saya yang kayak gitu juga".
"Oh masa!? wah tapi mbak masih serumah?".
"Iya, saya cuma bisa ngelus dada aja pak".
"Yang sabar ya mbak, semoga mbak bisa melewati masa - masa yang sulit. Oh iya ini kuncinya ya, saya mau pulang dulu".
"Iyaa makasih pak, hati - hati di jalan pak Yanto".
Arina yang ikut keluar mengantar pak Yanto pergi, berdiam sebentar di depan pintu kantornya, lalu melihat sekeliling. Suasana malam itu cukup sepi dan berangin.
Di kejauhan kira - kira seratus meter, terdengar dentuman musik yang cukup keras juga tawa dan canda para manusia yang menikmati waktunya di bar yang buka sampai tengah malam.
Kantor firma hukum dan juga bar itu berada di daerah pertokoan yang terletak di jalan besar di pusat kota yang cukup ramai pada siang hari. Namun saat malam, hanya bar itu dan beberapa warung dan gerobak nasi goreng yang terlihat masih menyala.
Arina menatap sebentar ke arah bar itu, Ia mengetahui itu tempat yang sering didatangi atasannya dan juga ayahnya.
Arina memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya sampai pukul setengah satu malam.
Setelah selesai, Ia mengunci pintu kantor. Namun sebelum memesan ojek online seperti biasanya, Ia melewati bar di seberang jalan itu dengan sengaja, Ia iseng ingin melihat keadaan di dalamnya.
Dan tak diduga ternyata di dalamnya Ia melihat dua orang lelaki yang dikenalnya. Sang ayah, juga atasannya.
Kedua lelaki itu nampak bersitegang dalam keadaan mabuk berat. Wajah yang merah, baju kusut, dan gerakan tubuh yang tak seimbang, keduanya saling memegang kerah baju satu sama lain.
Arina tidak menyukai keadaan yang dilihatnya, namun ketika mereka hendak saling memukul, Arina segera berlari masuk dan melerainya, Ia lalu menggiring keduanya keluar dari bar.
"Yaampun dua orang ini kenapa sih?", Ia kelelahan.
"Mbak!", seorang pramusaji bar datang menghampiri Arina.
"Kedua orang ini kenalan mbak?", tanya pramusaji itu.
"Iya betul mas, ini ayah dan atasan saya, apa mereka udah bayar?".
"Oh begitu, mereka adalah langganan di bar ini, jadi soal pembayaran gak masalah".
"Makasih ya mas".
"Mbaknya emang bisa bawa dua - duanya?".
"Saya pesan taksi online mas".
"Ooh baik, hati - hati ya mbak", pramusaji itu kembali masuk ke dalam bar.
Setelah mengutak - atik aplikasi di ponselnya, sepuluh menit kemudian datanglah sebuah minivan ke hadapan Arina.
"Ibu Arina?", tanya sang sopir.
"Iya pak, boleh minta tolong gak?".
"Wah, dua - duanya teler berat ya?".
"Iya nih pak".
"Jangan sampai muntah di mobil saya ya mbak, nanti ribet saya bersihinnya".
"Semoga ya pak".
Dengan dibantu sang sopir, Arina menaikkan ayah dan atasannya ke dalam mobil.
Arina meminta agar mobilnya memutar arah kembali ke kantornya untuk menurunkan Daniel.
Arina duduk di tengah - tengah kedua lelaki tersebut. Tiba - tiba ditengah jalan, keduanya mendadak muntah bersamaan di dalam mobil.
Arina sangat terkejut dan terdiam, Ia mematung.
Sang supir yang melihat kejadian itu menjadi sangat marah, Ia segera meminta Arina bersama kedua lelaki itu turun disaat itu juga.
Merekapun diturunkan di pinggir jalan. Kepalanya jadi sakit, harus Ia bagaimanakan kedua orang ini?.
Berjarak lima puluh meter dari kantornya, Arina akhirnya memutuskan untuk membopong ayahnya dan Daniel masuk ke kantor.
Dua puluh menit, waktu yang dibutuhkan seorang wanita muda bertubuh mungil, menyeret dua orang pria yang lebih tua darinya.
Ia sangat kelelahan, sehingga tak sanggup berjalan pulang. Kemudian mengirim pesan kepada ibunya bahwa Ia dan ayahnya tak bisa pulang.
Ibunya tak membalas, entah Ia sudah tidur atau sedang tak di rumah.
Akhirnya mereka bertiga tertidur di kantor firma hukum milik Daniel.