My Heart From Hell

My Heart From Hell
Be a Hero?



Succubus dan Leviathan yang sedang menelusuri goa saling mengobrol


"Aku benar - benar kesal"


"Kenapa memangnya?"


"Buat apa kita pergi ramai - ramai dengan tujuan saling membantu, kalau ujung - ujungnya ternyata terpencar begini"


"Yaa..siapa yang tahu"


"Masa kau gak tahu? kau kan seorang petinggi neraka"


"Memangnya petinggi neraka tahu segalanya? kami kan bukan Bos Besar yang maha mengetahui. Masih banyak misteri di dunia ini yang tak diketahui, terutama tempat ini"


"Tapi..aku penasaran, gimana sih rasanya jadi seorang petinggi?"


Leviathan terdiam, Ia berfikir sejenak


"Yang pasti lebih banyak tak enaknya, akupun tak pernah membayangkan akan ada di posisi ini"


"Memang Kau dulunya apa?"


"Aku dulu hanya setan kecil yang lahir di lautan..rasanya jauh sekali sampai aku bisa ada di neraka, neraka itu panas makanya aku jarang disana"


"Kau pasti sangat berkomitmen sampai bisa diangkat ya?"


"Iya, aku bisa berkomitmen juga karena manusia, manusia pada zaman dahulu memiliki hati yang begitu kelam, apalagi di tengah laut, itu adalah kesempatan dimana manusia akan diuji. Jadi, aku memiliki banyak kesempatan pada zaman dahulu"


"Kalau sekarang?"


"Sekarang manusia banyak yang baik, dan teknologi pun sudah berkembang pesat, jadi agak sulit. Tapi tetap saja selalu ada kesempatan"


"Hmm begitu ya"


"Intinya, tanggung jawab untuk posisi ini sangatlah besar, satu level neraka saja luasnya seperti satu negara, bayangkan harus memastikan semua berjalan lancar sesuai dengan S.O.P di tempat sebesar itu. Apalagi, tau sendiri kan, mengontrol para setan, jin, dan iblis, betapa susahnya"


"Iya..para petingginya saja masih suka melenceng, apalagi kroco - kroconya"


"Makanya...nah, kau sendiri...bukankah kau keturunan iblis merah?"


"Iya benar"


"Kenapa kau mengabdi pada Lucifer? padahal kau bisa saja meminta posisi yang lebih tinggi pada Satan"


"Tidak, aku tak ingin memanfaatkan itu semua, aku ingin bangkit dengan kekuatanku sendiri"


"Hmm..padahal kau punya privilege ya, tak seperti aku dulu"


"Yaa..begitulah, bahkan aku sering menyembunyikan hal itu, aku tak ingin orang memandangku berbeda karena aku seorang iblis merah seperti Satan"


"Iblis merah sebagai keturunan murni memang selalu dihormati di berbagai tempat bukan, rata - rata mereka yang memiliki itu selalu menyombong"


"Aku tak ingin menyombong, aku hanya ingin disukai apa adanya"


"Seperti disukai oleh Asmo?"


Wajah Succubus memerah


"Ah...kau mengingatkannya"


"Kalau cinta kenapa tak bilang?"


"Aku bahkan sudah menciumnya"


"Oh ya!? Wah dia gak pernah cerita"


Leviathan menjadi antusias


"Karena itu tak penting baginya, dia kan sudah punya pujaan hati, the one and only Erina"


"Haha..sebenarnya kau sebal kan sama Erina?"


"Nggak, entah kenapa aku tak bisa membencinya"


"Menurutku dia tipe orang yang tulus"


"Benar, meskipun kadang aku punya perasaan ingin menghabisinya, namun di satu sisi, dia seperti teman baikku"


"Perasaan perempuan memang rumit ya"


"Begitu juga dengan mantanmu kan?"


"Iya..aku masih tak mengerti apa keinginannya"


"Kau tak perlu mengertinya, kau cukup menurunkan egomu dan memakluminya, maka perlahan kau akan mengerti kenapa dia begitu"


"Wow nice, nona konsultan cinta"


"Memberikan saran memang lebih mudah daripada menjalankannya"


"Betul sekali"


Mereka berdua tiba di ujung Goa, diluar adalah pegunungan dan angin dingin berhembus


"Oh sial, ternyata ini diatas gunung, tahu gitu aku pakai baju yang agak tebal"


"Pakai ini" Leviathan melepas jaketnya kemudian memakaikannya ke Succubus


"Ah makasih, lalu kau gimana?"


"Otot - ototku ini sudah memberiku kehangatan" Leviathan menunjukkan otot bicepnya


"Oh..ya..baiklah"


Di depan mereka hanya ada satu jalan, dan itu mengarah ke sebuah jurang yang begitu curam. Dan dua ratus meter di bawahnya adalah hutan belantara.


"Sekarang, harus bagaimana?"


"Kita harus turun kesana"


"Pakai apa?"


"Entahlah, meskipun di ransel ada tali tapi panjangnya takkan cukup"


Leviathan melihat keadaan sekitarnya


Leviathan segera memeriksa tempat yang ditunjuk


Rupanya itu adalah sebuah kawah yang berisikan cairan yang berasal dari dalam gunung, itu nampaknya sangat beracun karena terlihat tanaman di sekitar kawah itu semuanya mati, hidungnya terasa sakit dan matanya perih hanya dengan melihatnya dari jauh


Leviathan menghampiri Succubus


"Kalau kulihat, kita tak punya pilihan selain turun kebawah"


"Kenapa memangnya? ada apa disana?"


"itu adalah kawah yang dapat mengeluarkan cairan dan uap beracun dalam beberapa menit sekali"


"Be..beracun?"


"Iya, karena kita bukan dalam wujud astral sekarang, menghirupnya mungkin dapat membunuh dalam sekejap"


"Aarrgghh..apa kita akan mati disini?! aku belum menikah!" Sucubus mulai frustrasi


"Tidak, kau harus hidup" Leviathan dengan sigap mengeluarkan tali dari dalam ranselnya


"Aku!? kau juga dong! kita pergi sama - sama kan?"


Leviathan mencari batang pohon atau batu besar disekitarnya


"Aku tak yakin, karena di sekitar sini tak ada yang bisa dijadikan pegangan"


"Ja..jadi??"


"Satu orang harus memegang tali, dan satunya turun"


Leviathan mengecek area di bebatuan pinggir jurang


"Lihat, ada jalurnya sampai ke bawah, kau harus memijak ke arah sana, dan mulai menelusuri jalan setapak itu dengan sangat hati - hati"


"Lev, I don't like this! kita harus turun dan menelusuri jalan itu sama - sama!"


"Mauku juga begitu, tapi...."


'Dddrrrrr...' tempat mereka berpijak mulai bergetar


"Sial sepertinya akan lebih cepat dari dugaan" Leviathan mengikat tali dibadannya, kemudian mengikatkan ke Succubus


"Eh tunggu, kalau ada uap beracun, kita masuk kembali saja ke dalam goa itu, lebih aman bukan?"


"Bodoh, goa itu dekat sekali dengan kawahnya, terjebak di dalam sana akan lebih hopeless daripada diluar sini"


"TAPI AKU TAK AKAN TURUN SENDIRI! KAU JUGA IKUT! TAK USAH SOK JADI PAHLAWAN!" Succubus berteriak


Leviathan menghela nafas


"Bukan masalah menjadi pahlawan, tapi ini hanya satu - satunya cara, kalau dibawah sana paling tidak, bisa menghindari uapnya"


"Maksudku, kalau itu tidak jadi meletus kau bisa menyusul turun kan?"


Leviathan mengangguk


"Ini kacau, belum ada sehari kita di tempat ini, masa langsung seperti ini sih keadaannya!?"


"Aku yakin ini adalah ujian untuk kita semua, bukan hanya Erina, tapi kita semua"


Leviathan memeluk Succubus dengan erat


"Ihh..kenapa memelukku seperti perpisahan!?"


Succubus benar - benar merasa tak nyaman dengan situasi ini, Ia tak siap untuk kehilangan siapapun


"Berdirilah agak ke pinggir, dan mulai turun perlahan!"


Leviathan menahan talinya dengan tubuhnya yang kekar sementara Succubus turun perlahan dengan tali


Getaran mulai terasa lagi, kali ini lama dan lebih kuat, kawahnya mulai mengeluarkan uap hijau dan cairannya mengalir seperti lahar


"Aaakkhh..getarannya kuat sekali" Batu - batu kecil berjatuhan ke arah Succubus


"Bertahanlah, cepat sedikit turunnya!"


"Susah mencari pijakan!"


Uap beracun mulai menjalar menutupi seluruh area, dan perlahan mulai mendekati Leviathan


"Oh sial!" Ia menahan nafasnya


Setelah beberapa menit, Succubus berhasil turun sejauh sepuluh meter, Ia memijakkan kakinya di area kecil


"Aku sudah sampai! Kau juga turunlah! aku akan mengikatkan talinya di akar pohon ini"


"Succubus!"


"Kenapa!? cepatlah turun bagaimanapun caranya!"


"Sampaikan salamku kepada Erina!"


"HEH GAUSA BACOT!! CEPAT TURUN!"


"Lalu kalau kau bertemu Roro, sampaikan juga bahwa aku masih mencintainya"


"BERISIK! MULAILAH TURUN BR*NGS*K!" Succubus mulai menangis tak bisa mengontrol emosinya


"Selamatlah Sue! Erina membutuhkanmu!"


"LEVIATHAAAAAAANN!!!"


Kepulan uap mulai menyebar hingga ke bawah


Succubus yang berlinang air mata mendekatkan dirinya ke dinding tebing sambil menahan nafas, terlihat uap itu tersapu oleh angin dan menghilang


Dan tali yang dipakai Leviathan


Jatuh ke bawah


Ujungnya seperti hangus terbakar


"Uuu..huuhuhu, kenapa hal seperti ini harus terjadi??" Succubus menangis terisak di pinggir tebing.